
Elvan menegakkan tubuhnya sambil bersedekap setelah melihat Helen keluar dari toilet. Ia memperhatikan penampilan Helen yang sedang mengenakan seragam kantor dengan rok pensil yang pas dipinggulnya dan kemeja putih yang melekat di kulit putihnya.
Elvan bersiap-siap hendak menarik lengan Helen.
“Aww.. apaan sih?” Marah Helen, refleks membentak orang tersebut. Ia membulatkan matanya setelah melihat orang yang menarik tangannya ternyata Elvan dengan tampang datarnya.
“Lo? Ngapain tarik-tarik tangan gue?” tanya Helen tak suka. Diusapnya pergelangan tangannya yang sedikit sakit karena genggaman Elvan yang terlalu kuat.
“Berisik lo. Langsung aja gue ingetin. Jangan pernah lo kasih tau soal perjodohan ini sama mereka berdua.” Ujar Elvan dingin dengan tatapan tajamnya melihat Helen.
“Kenapa? Lo takut?” tanya Helen tak terima atas perlakuan Elvan padanya.
“Kalau gue kasih tau mereka emangnya kenapa? Lo gak suka? Gue gak peduli!” tantang Helen. Matanya balik menatap Elvan tajam.
“Lo! Turuti kata-kata gue selagi gue bicara baik-baik.” Ujar Elvan dingin. Matanya menatap Helen tak suka.
“Apa? Bicara baik-baik kata lo? Bicara kayak gini lo bilang baik? Waaah, kasar banget lo jadi cowok.” Helen menantang Elvan sambil berkacak pinggang.
“Jaga kata-kata lo sebelum gue berbuat kasar.” Ucap Elvan datar lalu pergi meninggalkan Helen.
“Dasar cowok gila! Lebay! Bilang aja lo malu kalua mereka tau soal perjodohan ini. Asal lo tau, gue juga malu dan SANGAT TIDAK MAU dijodohin sama cowok kayak lo.” Ucap Helen tajam menatap punggung Elvan yang semakin menjauh. Ia yakin, Elvan pasti mendengar perkataannya barusan.
Drrttt… Drrrtttt…
Helen mengalihkan perhatiannya dari Elvan ketika ponsel yang berada di genggamannya berdering. Kata “Mama” muncul di layar pipih itu.
__ADS_1
Helen kembali melangkahkan kakinya setelah sambungan telpon dari Mamanya terputus. Dari kejauhan ia dapat melihat Elvan yang sedang menikmati makanannya. Jika diperhatikan, Elvan memang sangat tampan. Apalagi, saat ini pria itu sedang makan dengan lengan baju yang ditarik hingga siku dan rambutnya yang sedikit berantakan serta dasinya yang sudah longgar benar-benar membuatnya terlihat sexy. Helen mengulum senyum melihat Elvan dari kejauhan.
Bagaimana bisa dia setampan itu, batin Helen. Ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum duduk dikursinya.
Gue harus bersikap baik sama dia, mungkin dengan itu dia juga akan memperlakukan gue dengan baik, tambahnya lagi.
Elvan mendongak menatap Helen yang menarik kursinya. Helen tersenyum manis melihat Elvan yang juga menatapnya. Elvan menaikkan sebelah alisnya melihat Helen yang tersenyum kepadanya.
Menyebalkan, Elvan menggerutu dalam hati lalu melanjutkan makannya.
Masih datar, dasar cowok sombong, gerutu Helen pada Elvan yang tidak membalas senyumannya. Helen duduk dikursinya lalu mulai memakan hidangan yang tadi dipesannya. Sesekali ia melirik Elvan yang sedang menikmati makanannya.
“Setelah ini kalian balik ke kantor lagi kan?” tanya Virgo kepada dua gadis di depannya.
“Gue sih iya, soalnya masih ada kerjaan.” Jawab Ella sambil mengunyah makanannya.
“Nyokap nyuruh gua langsung balik.” Jawab Helen seadanya.
“Emang nyokap lo tau kalua kita lagi disini?” tanya Ella lagi dan diangguki oleh Helen.
“Tumben nyokap lo nyuruh cepat pulang, ada apaan?” tanya Ella penasaran dan diikiti oleh anggukan Virgo.
Elvan hanya diam sembari menikmati makanannya, sesekali ia juga melirik Helen yang tengah menikmati makanannya. Elvan menatap Helen was-was sambil menunggu jawaban apa yang akan dilontarkan Helen atas pertanyaan Ella.
“Nyokap gue bi-bilang lagi ada urusan. Iya, lagi ada urusan dan urusannya itu ngelibatin gue.” Jawab Helen terbata-bata. Elvan menghembuskan napasnya lega sedangkan Virgo dan Ella hanya mengangguk mengerti.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka telah menghabiskan semua makanan yang dipesan. Setelah melihat Elvan dan Virgo membayar tagihan, Helen dan Ella langsung melangkah ke arah mobil mereka terparkir yang kemudian diikuti oleh Virgo dan Elvan yang berjalan tepat di belakang mereka. Helen merasa ada yang aneh dengan jantungnya. Entah mengapa sedari bertemu Elvan di dekat toilet tadi detak jantungnya terpacu dengan cepat. Apa mungkin karena amarahnya belum mereda?.
“Helen, lo langsung balik aja, gue balik ke kantor sama Virgo, iya kan?” Virgo mengangguk sambil melihat Helen dan Ella bergantian.
“Bener nih, gak papa? Tapi kan Virgo tadi datang kesini sama Elvan. Emangnya diam au nganterin lo ke kantor?” tanya Helen sambil melirih Elvan.
“Yau dah anterin aja, gue bisa minta supir untuk jemput gue.” Ujar Elvan cuek lalu menghubungi supirnya agar segera menjemputnya.
“Serius? Tapi lo balik ke kantor lag ikan?” tanya Virgo sambil tersenyum senang karena Elvan membiarkannya pergi bersama Ella dengan mobilnya.
“Nggak” jawab Elvan.
“Kok gitu? Kan kita ada meeting jam 3.” Protes Virgo sambil menatap Elvan.
“Batalin aja, gue ada urusan mendadak.” Jelas Elvan lalu melangkah pergi saat melihat mobil yang dikendarain supirnya sudah datang.
Helen memutar bola matanya jengah melihat kesombongan Elvan.
Dasar calon suami songong.
Elvan menaiki mobil yang dikemudi oleh supirnya. Ia membiarkan Virgo membawa mobilnya untuk mengantarkan Ella, lagi pula ia terlalu malas jika harus ikut dengan Virgo untuk mengantarkan gadis itu ke kantornya. Sangat merepotkan, pikir Elvan.
Tidak berapa lama kemudian, Elvan sampai di depan rumah mewah yang beberapa hari lalu ia kunjungi bersama orang tuanya. Ternyata di saat siang begini, pelataran rumah keluarga Ditya itu tampak jauh lebih indah.
~BERSAMBUNG~
__ADS_1
Jangan lupa di like dan komen ya teman-teman.
Thank you❤