My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 72


__ADS_3

Sepulang dari ruangan Papanya, Helen mendapat pesan baru yang dikirim oleh nomor yang tidak ia kenal. Namun, saat membaca isi pesan tersebut, Helen langsung tanggap siapa pengirim pesan yang mengajaknya bertemu malam ini.


Sesuai dengan perjanjian yang telah mereka sepakati, lebih tepatnya keputusan sepihak pria itu, mau tak mau Helen akhirnya setuju memenuhi permintaan pria itu. Malam ini, mereka akan bertemu di restaurant yang telah Daniel tetapkan. Entah apa yang diinginkan pria itu sehingga ia mengajak Helen untuk bertemu malam ini.


Helen mengendarai mobil miliknya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia menoleh ke samping melihat para pengguna jalan yang rata-rata merupakan orang dewasa. Matahari sudah turun dan langit sudah tidak secerah sebelumnya, pertanda malam hari akan segera tiba. Saat lampu merah, Helen menghentikan laju mobilnya dan berhenti di samping pengendara lainnya. Pikiran Helen menerawang jauh memikirkan hubungannya dengan Elvan.

__ADS_1


Sih kulkas rusak itu sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya, begitu pun sebaliknya. Mereka sudah lebih akrab dari pada beberapa bulan yang lalu dan hal itu membuat Helen bersyukur. Walaupun suaminya itu tidak mencintainya, setidaknya mereka bisa menjadi teman baik saat ini. Helen juga sangat suka saat mereka tidur di ranjang yang sama walaupun tidak melakukan hal yang lebih. Mereka hanya sekedar tidur dan Helen yang suka dengan aroma tubuh Elvan sering kali mencuri pelukan pria itu saat suaminya telah tidur. Rasa bahagia yang membuncang hinggap di hati Helen saat pagi harinya ketika ia mendapati dirinya berada dalam pelukan hangat Elvan. Entah suaminya itu sengaja memeluknya atau bukan, Helen tidak ambil pusing. Karena ia sangat suka bagaimana cara Elvan yang memeluk pinggangnya dengan erat. Semuanya terasa pas, seakan dirinya memang diciptakan untuk pria itu.


Lamunan Helen buyar saat mendengar suara klakson dari belakangnya. Ternya lampu di depannya yang tadi berwarna merah kini telah berganti dengan hijau. Pantas saja pengguna jalan yang berada di belakangnya sibuk membunyikan klakson. Setelah tersadar, Helen langsung melajukan mobilnya, kembali membelah jalanan kota Jakarta yang padat untuk pulang ke apartement dan bertemu dengan suaminya tercinta. Helen berharap suaminya tersebut sudah berada di apartement mereka saat ini dan menyambut dirinya di ruang TV.


20:45 WIB

__ADS_1


"Toa, lo dimana?!" Elvan melangkah ke dapur lalu membuka lemari es dan mengeluarkan sebotol minuman dingin lalu meneguknya.


"Heh TOA?!" Tidak ada jawaban. Elvan kembali memasukan minuman tersebut ke lemari es dan meninggalkan dapur.


"Helen!" Elvan yang sudah memasuki kamar langsung membuka kancing kemejanya sembari mengedarkan pandangannya mencari keberadaan gadis itu. Tidak biasanya Helen tidak menyambut kepulangannya, pikir Elvan.

__ADS_1


Elvan mendengus kesal saat panggilannya tidak kunjung mendapat jawaban. Semua ruangan telah ia jelajahi. Namun, batang hidung Helen tidak kunjung ia temukan. Gadis itu tidak ada di apartemen itu, padahal hari sudah malam dan sudah hampir jam 9 malam. Kemana sebenarnya gadis itu? Apa dia sudah pulang kerja lalu pergi lagi? Tapi, kemana ia pergi? Ah! Sudah lah, Elvan mengedikkan bahunya acuh saat tidak mendapati kehadiran Helen di dekatnya. Lagi pula ia sedang dalam mood yang baik saat ini, biarlah gadis itu hilang beberapa saat dari pandangannya. Toh! Ia juga sedang ingin menyendiri memikirkan rencana selanjutnya untuk membawa gadisnya kembali. Kehadiran Helen di dekatnya juga akan membuatnya tidak bisa tenang, dirinya seolah panas dingin jika di dekat gadis sexy itu. Jantungnya juga terkadang bermasalah saat gadis itu menatapnya dan berdekatan dengannya. Kehadiran Helen hanya akan membuat dirinya tidak normal dan Elvan benci itu.


Bersambung...


__ADS_2