My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
130 (Part Terakhir)


__ADS_3

🌻HAPPY READING ALL🌻


Helen terdiam sesaat lalu mengangguk pelan. Elvan segera menyambungkan panggilan ponselnya kepada Alexa hingga tidak lama kemudian suara Alexa terdengar di seberang sana.


"Hallo, Elvan. Kamu sama Helen apa kabar?" Suara itu terdengar bersemangat.


"Kabar kami sangat baik. Bagaimana denganmu?" Tanya Elvan balik.


"Aku juga begitu. Elvan, apa Helen ada disana? Boleh aku bicara dengannya?" Elvan lantas menatap Helen, meminta persetujuan istrinya itu.


Helen mengangguk pelan lalu menerima ponsel yang Elvan sodorkan kepadanya.


"Hallo Alexa, ada apa?" Helen menatap Elvan, meminta saran agar percakapannya dengan Alexa tidak terlalu kaku.


"Hai, Helen. Aku sangat senang bisa mendengar suaramu. Terima kasih karna kamu masih mau berbicara denganku setelah apa yang kulakukan kepadamu waktu itu." Helen dapat merasakan penyesalan dari suara itu.


"Tidak masalah Alexa. Elvan sudah memberitahuku, aku sudah memaafkanmu."


"Terima kasih, Helen. Kamu memang pantas mendapatkan Elvan. Aku yakin kalian pasti akan menjadi keluarga bahagia." Helen tersenyum mendengarnya, dalam hati ia mengaminkan perkataan Alexa.


"Helen, aku ingin menceritakan sesuatu, kamu mau dengarkan cerita ku?"


"Iya Alexa katakan saja. Aku akan siap menjadi pendengar yang baik untukmu." Alexa terkekeh di seberang sana lalu berterima kasih kepada Helen.


"Helen, aku mencintai Elvan jauh sebelum kalian bertemu. Elvan satu-satunya teman yang ku punya. Elvan, pria tampan dengan pemikiran dewasanya selalu menemani hari-hariku dulu, tapi itu sebelum Harvey membawaku ke negaranya. Elvan, dia segalanya untukku." Alexa bercerita sambil menerawang jauh. Ia ingin Helen mengetahui kisah hidupnya yang menyedihkan.


"Ella dan Elvan sahabatmu kan?" Ada banyak kosa kata yang sudah Alexa ucapkan. Tapi, Helen lebih tertarik membahas itu.


"Iya, mereka memang temanku, mereka sahabatku. Tapi tidak dengan Elvan karena dia berbeda, Elvan lebih spesial dari Ella." Ck! Seharusnya Helen tidak perlu mengungkit itu tadi. Sudah jelas Elvan lebih dan lebih spesial dari Ella. Jika tidak, mana mungkin mereka menjadi sepasang kekasih dulunya.

__ADS_1


"Kamu jangan marah karna aku bilang kaya gitu. Itu semua cerita lama." Alexa berujar saat mendengar Helen menghela nafas.


"Dulu, aku wanita yang sombong dan menganggap rendah orang lain. Padahal nyatanya, akulah yang lebih rendah dibandingkan orang-orang yang kuanggap rendah itu. Mereka punya orang tua, sementara aku tidak. Mereka punya rumah, tempat untuk pulang, sementara aku.. Aku harus pulang ke apartement Elvan karena aku tidak punya rumah. Orang-orang di luar sana, selalu ada yang menanti kepulangan mereka di rumah. Sementara aku, aku selalu memperhatikan ruangan kosong tanpa penghuni setiap kali pulang ke tempat Elvan. Waktu SMA, aku sangat ingin ada orang tua yang memarahiku karena kenakalanku. Tapi, senakal apapun kelakuanku, itu semua sama sekali tidak aku dapatkan. Karena apa? Karena aku itu rendahan. Sampai-sampai orang tuaku tidak mau menganggapku sebagai anaknya dan aku ditelantarkan begitu saja. Ada banyak orang yang membenciku. Baik itu karena perkataanku yang kasar maupun karena kelakuanku yang buruk." Helen dan Elvan saling menatap, mendengarkan perkataan Alexa yang menyentuh hati.


"Aku dan Elvan bahagia menjalankan peran kami masing-masing. Baik itu saat masih sekolah ataupun di bangku perkuliahan. Kami menikmati hidup seakan hanya kami yang pantas bahagia selama ini. Tapi semua itu hancur karena kesalahanku. Aku yang pergi meninggalkannya. Aku pergi meninggalkan Elvan di saat dia sedang terpuruk."


"Saat itu, di umurnya yang ke dua puluh tahun, Elvan sudah menjadi CEO di perusahaan yang diberi oleh daddynya tepat di hari ulang tahunnya. Dia pria yang keren, sampai-sampai semua orang itu karena aku bisa menjadi kekasih CEO muda yang diincar banyak wanita. Kami bahagia, tapi semua kebahagiaan itu terasa direnggut saat Elvan sibuk dengan perusahaannya. Perusahaan Elvan sedang dalam masalah besar, sehingga menyita waktunya, sampai-sampai aku merasa dia lebih memilih pekerjaannya dibandingkan aku." Disana, Alexa tampak berkaca-kaca. Rasanya ia ingin menangis mengingat semua kejadian itu.


"Awalnya, aku mencoba memberi pengertian kepada Elvan. Aku tetap mendukungnya untuk memperbaiki masalah yang ada. Tapi semuanya hancur. Elvan dan perusahaannya hancur beberapa saat kemudian. Aku yang semenjak hidup samanya selalu mendapatkan apa yang aku inginkan mulai merasa pas-pasan dengan uang saku yang Elvan beri. Aku mengeluh karena kehancuran Elvan, aku mengeluh karena dia tidak lagi memberiku uang yang banyak. Sampai akhirnya, Harvey datang entah dari mana lalu menawarkan harta dan kebahagiaan. Seharusnya aku sadar kalau saat itu aku sudah bahagia hidup bersama Elvan. Seharusnya aku sadar selama ini yang membiayai hidup mewah ku adalah Elvan. Seharusnya aku tau diri, kalau bukan karena Elvan, mungkin aku sudah lama mati kelaparan. Dulu sekali, sebelum Elvan membawaku tinggal di apartemennya, aku tinggal di panti asuhan. Sampai suatu kesalahan pahaman terjadi, aku diusir dari panti dan tinggal di jalanan. Elvan memungutku dari tempat kotor itu. Elvan, dengan segala kebaikannya memungutku dari kehidupan yang kejam itu. Waktu itu, aku masih baru tamat SMP." Alexa menyapu air matanya yang jatuh membasahi pipinya.


Helen yang awalnya tampak acuh tak acuh kini sudah banjir dengan air mata. Cerita Alexa memang menyentuh hatinya.


"Aku masih ingat waktu itu sekitar jam 10 pagi, aku pergi dari apartement Elvan. Dengan percaya diri, aku pergi dari gedung besar itu dengan Harvey yang sudah menungguku di lobby. Aku pergi dengan keadaan marah karena malam sebelumnya, aku dan Elvan bertengkar hebat. Elvan yang saat itu kecewa kepadaku, pergi ke kantor saat matahari belum muncul sama sekali. Saat itu, aku hanya mementingkan diriku sendiri." Alexa menyeka kasar air matanya.


"Saat itu, Elvan sedang terpuruk. Dia hancur, kecewa, sedih, marah. Perusahaannya yang hancur sudah menjadi beban yang berat untuk dipikulnya, tapi dengan tidak tahu malunya, aku menambah beban itu. Singkat cerita, aku pergi bersama Harvey ke LN. Aku meninggalkan Elvan di saat dia membutuhkanku." Alexa menghembuskan nafas. Rasanya sangat melegakan karena Elvan sudah mendapatkan wanita yang pantas untuk menjadi teman hidupnya.


Kesalahannya sudah sangat besar kepada pria baik hati itu. Kesalahannya sudah terlalu besar, hingga alam semesta pun tidak mengizinkan mereka untuk bersatu. Kebodohannya sudah membawanya kepada kesialan yang amat besar. Keserakahannya sudah membawanya pergi dari orang-orang yang tulus menyayanginya. Keegoisannya sudah mengecewakan sahabat-sahabatnya. Sekarang, Alexa harus mampu menanggung kebencian dari Virgo. Pria ramah itu, memang masih mau berbicara padanya. Tapi Alexa tau, di dalam tatapan Virgo masih menyimpan kekecewaan. Untung saja pria ramah itu ada di saat Elvan sedang terpuruk dan hancur, untung saja ada Virgo yang membawa semangat baru dalam diri Elvan. Untung saja Ella dan Virgo memang sahabat yang sejati.


Andai saja dulu ia tidak bertemu Harvey. Andai saja ia pandai mengendalikan diri dan pintar mengambil keputusan, mungkin semuanya akan jadi lebih baik dan terkendali. Mungkin, ia sudah bahagia hidup bersama Elvan, mungkin juga sekarang mereka sudah menikah dan memiliki anak.


Alexa. Alexa kecil adalah gadis yang menyedihkan. Kisah hidup yang rumit membuatnya tersesat. Tanpa bimbingan orang tua membuatnya benar-benar sangat buruk. Dirinya yang dulu polos dengan kehidupan yang serba kekurangan menjadi berubah saat ini mulai merasakan bagaimana rasanya hidup menjadi orang kaya. Bagaimana rasanya menggunakan barang-barang mewah dan mahal. Semua itu membuatnya lupa, lupa akan asal usulnya. Lupa tentang siapa dirinya yang sesungguhnya. Lupa dengan alur hidupnya yang sesungguhnya. Alexa melupakan itu dan tidak ingin lagi merasakan hidup susah. Alexa mungkin menginginkan hal yang lebih. Lebih dari yang ia dapatkan dari Elvan.


"Elvan, please maafkan aku." Helen mendekatkan ponsel tersebut kepada Elvan.


"Maaf..."


"Maaf..."


"Maafkan aku, Elvan." Hanya kata maaf yang bisa Alexa ucapkan. Air matanya terus mengalir membasahi pipi. Kamu ini ia benar-benar tulus. Bahkan, ingin rasanya ia bersujud di kaki Elvan jika pria itu ada dihadapannya.

__ADS_1


Elvan menenangkan Helen yang kini ikut bersedih. Cerita Alexa memang menyedihkan dan itulah faktanya. Alexa bercerita karena ia ingin Helen tau, bagaimana kisahnya dengan Elvan dulu.


Alexa ingin Helen mengerti maksud dari ceritanya. Elvan pernah tersakiti karena itu, Alexa tidak ingin Elvan disakiti untuk kedua kalinya. Alexa tidak ingin, Helen pergi meninggalkan Elvan. Cukup dirinya saja yang pergi. Cukup dia saja yang merasakan penyesalan karena pernah meninggalkan Elvan, Helen jangan.


"Aku sudah memaafkanmu, Alexa. Kamu tidak perlu menyesali semuanya. Anggap saja ini sebagai pelajaran untuk kita dan jangan mengulang kesalahan yang sama lagi." Mereka berdua sudah banyak melukis cerita. Alexa, kekasih yang dulu ia cintai. Alexa, remaja polos yang ia bawa pulang dalam keadaan mengenaskan. Dulu, seharusnya Elvan tidak terlalu memanjakan dan memenuhi segala permintaan wanita itu. Dulu, seharusnya Elvan sedikit tegas kepada Alexa. Ini juga salahnya. Seharusnya ia bisa membuat Alexa menjadi pribadi yang lebih baik.


"Terima kasih, Elvan." Alexa menyeka air matanya seraya tersenyum di seberang sana.


Alexa memanggil Helen. Ingin rasanya ia menggenggam tangan wanita itu, tapi tidak mungkin. Jarak telah memisahkan mereka.


"Helen, mungkin ini akan menjadi percakapan terakhir kita, aku ingin memulai hidup yang lebih baik bersama Harvey. Aku ingin menghapus semua kenangan buruk itu. Aku ingin memperbaiki diriku dan segala kekurangan yang kumiliki."


"Maaf, karena aku sudah mengusik rumah tangga kalian. Maaf, karena sudah sempat merebut Elvan darimu. Tolong, maafkan aku." Alexa berujar dengan penuh harap.


Helen yang tidak sanggup berkata-kata hanya mengangguk berulang kali. Kisah Alexa dan Elvan sudah menyentuh hatinya. Helen berdiri dari kursinya lalu menghambur kepelukan Elvan. Ia terisak di dalam pelukan hangat itu.


"Alexa, aku sudah memaafkanmu. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Sekarang, kamu ingin memperbaiki semuanya, itu sudah cukup untuk Elvan, aku, Virgo, dan juga Ella." Elvan menepuk-nepuk pelan punggung. Menenangkan wanitanya yang menangis sesegukkan.


Alexa menangis sambil berulang kali mengucapkan terima kasih kepada mereka.


Helen mengurai pelukannya. Menatap Elvan dengan wajah polosnya.


Elvan tersenyum menatapnya. Ia telah berhasil membawa Helen keluar dari lingkaran kebencian. Ia sudah berhasil membawa Alexa pergi dari penyesalan. Semuanya selesai, semuanya kembali seperti semula. Setelah ini, ia akan hidup bersama Helen, istri tercintanya. Kisah mereka bertiga selesai dengan kedamaian. Kisah mereka selesai tanpa perlu menyakiti siapapun lagi.


Tamat...


Tidak terasa akhrinya novel "My Cold Husband is A CEO" akhirnya sudah selesai. Nanti Author akan memberikan epilog nya ya. Nah oleh karena itu, sebagai penggantinya Author juga punya novel yang kedua nih sebagai penggantinya, yang berjudul "MENIKAH DENGAN DUDA" jangan lupa ya dibaca novel kedua Author juga, pokoknya gak kalah seru deh. Makasih🙏


__ADS_1


__ADS_2