
Happy Reading💖
Elvan kembali ke kamar setelah ia mengembalikan mangkuk sup ke dapur. Ia kembali ke kamar dengan membawa segelas di tangannya. Lagi-lagi Elvan menggerutu dalam hati saat menatap Helen yang kini melayangkan seutas senyum kepadanya. Bukannya Elvan tidak suka dengan senyum gadis itu, tidak! Ia malah sudah mengakui jika senyum Helen adalah senyuman terindah yang pernah ia lihat selama hidupnya. Ck! Hanya saja Elvan merasa takut, takut dirinya akan hanyut pada pesona gadis itu dan akan berujung penyesalan. No! Elvan tidak ingin itu, ia masih setia dengan kekasihnya.
"Kamu perhatian banget sih, Sayang. Aduhh aku jadi tambah cinta deh." Helen menatap Elvan dengan genit.
Cinta? Huh!, Elvan mendengus.
"Minum." Tukasnya.
Helen menerima segelas air itu dengan semangat, ia bahkan langsung menghabiskan air itu dengan sekali teguk.
"Makasih Sayang." Helen menyerahkan kembali gelas yang telah kosong tersebut kepada Elvan.
"Udah kan? Masih mau ngadu lagi sama Mommy?" Kesal Elvan sembari menerima uluran Helen.
Helen tersenyum simpul.
__ADS_1
"Enggak. Mana mungkin aku ngaduin suamiku yang perhatian ini. Iya kan?"
"Bagus deh. Kalau akhirnya lo sadar." Jawab Elvan lagi.
"Tapi, lain kali jangan tunggu di ancam dulu ya, baru perhatian sama aku?" Helen mendongak menatap Elvan yang berdiri di samping ranjang.
"Hmm."
"Kamu udah makan?" Helen menyentuh tangan Elvan yang berada di samping paha pria itu.
Elvan mendelik menatap Helen yang kini tengah memainkan jemarinya. Lagi-lagi sentuhan gadis itu membuatnya menahan nafas, padahal Helen hanya menyentuhnya di bagian jari. Bagaimana jika lebih?.
"Aku masih pusing, kamu mau kan mijitin kening aku?" Helen memelas menatap Elvan yang kini juga tengah menatapnya.
"Dari tadi aku pusing dan sampai sekarang gak hilang-hilang." Tambah Helen.
Elvan sedikit tidak tega melihat Helen yang seperti itu. Dengan pergerakan kecil, ia akhirnya duduk bersila di samping Helen yang kini berbaring.
__ADS_1
Dengan pelan Elvan mulai memijat kening istrinya itu. Disentuhan pertama, ia dapat merasakan permukaan kulit Helen yang masih terasa panas. Walaupun tidak sepanas tadi, mungkin karena obat yang diberikan Dr. Hendri tadi dan juga kompresannya.
Elvan menatap Helen yang kini telah memejamkan matanya. Entah gadis itu tidur atau tidak, Elvan sama sekali tidak tau.
Matanya menjelajahi seluruh permukaan wajah Helen, tidak dapat dipungkiri jika ia merasa beruntung karena memiliki istri seperti Helen. Selain cantik, istrinya itu juga sangat pengertian. Terkadang Elvan merasa sedikit berdosa karena telah menyakiti perasaan istrinya itu berulang kali. Walaupun Helen tidak pernah memperlihatkan kesedihan itu, tapi Elvan dapat merasakannya hanya dengan melihat tatapan sendu gadis itu. Apalagi, ketika ia dengan sengaja menyebut nama Alexa dihadapan Helen. Tapi apa boleh buat, Elvan sendiri tidak tau dengan perasaannya kini, yang pasti ia masih menyimpan nama seseorang di hatinya, Alexa.
Sekitar lima belas menit berlalu, jemari Elvan masih terus bergerak di atas kening Helen. Mungkin sih Toa itu udah tidur, Pikirnya. Tatapan Elvan terpaku pada bibir Helen. Pikirannya mulai entah kemana-mana. Apalagi tadi... ah, menyebalkan. Elvan kembali merasakan dirinya memanas. Mengapa dirinya yang sekarang mudah sekali terangsang hanya karena melihat bibir Helen yang kini tertutup rapat? Biasanya, ia bahkan tidak tergoda melihat wanita malam yang ada di bar yang dulu sering ia datangi. Tapi mengapa kali ini semua terasa berbeda? Elvan menggeleng kuat berusaha menghilangkan semua pikiran kotornya. Tidak! Ia tidak boleh lepas kontrol. Mungkin ia butuh pelepasannya malam ini.
Tapi ia benar-benar menginginkan rasa bibir Helen saat ini. Apa yang harus ia lakukan? Pikirnya.
Elvan merasa saat ini keberuntungan baginya, karena sampai saat ini Helen masih memejamkan matanya. Fix, gadis itu telah tidur. Itulah yang Elvan pikirkan ketika melihat mata Helen yang tertutup rapat. Dengan pergerakan kecil, Elvan mulai menunduk dan mendekatkan wajah mereka. Hingga akhirnya, ia dapat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Untuk beberapa saat, Elvan hanya membiarkan bibirnya diam menyentuh permukaan lembut itu hingga akhirnya ia mulai meng*lum dan meng*isapnya.
Bersambung...
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman.
Terima kasih🙏💖
__ADS_1