
Malam hari, sekitar pukul 07:30 WIB keluarga Bramantyo sudah bersiap-siap hendak pergi ke rumah sahabat mereka. Miranda sedari tadi terus tersenyum tidak jelas membuat Elvan heran melihat tingkah Mommynya itu. Miranda sudah cantik dengan dress berwarna biru laut yang melekat ditubuhnya yang masih terlihat indah. Miranda memang masih cantik disaat umurnya yang sudah hampir memasuki usia 50 tahun. Tidak heran ia memiliki putra yang sangat tampan seperti Elvan.
“Kenapa sih Mom kelihatannya seneng banget?” tanya Elvan mengalihkan perhatian Mommynya.
“Iya, Mommy lagi bahagia, bentar lagi bakalan jumpa calon mantu Mommy.” Jawab Miranda masih dengan senyumannya. Elvan langsung mengalihkan pandangannya dari Mommynya mendengar jawaban tersebut.
Tiiin…
Tiiin…
Suara klakson mobil terdengar dari garasi. Bima yang sedang memanaskan mesin mobil membunyikan klaksonnya saat istri dan anaknya tak kunjung keluar.
“Ayo Nak, Daddymu sudah heboh sendiri didepan.” Miranda mengajak Elvan yang terlihat ogah-ogahan.
“Ayo!” ulang Miranda dengan suara naik satu oktaf.
Elvan mendengus.
Ia berdiri dan berjalan dengan malas mengikuti langkah Mommynya dengan mulut yang terus mengoceh tanpa suara.
“Kalian sudah siap?” tanya Bima saat melihat istrinya.
“Sudah sayang.” Miranda memasuki mobil.
“Elvan mana Hon?” tanya Bima lagi saat tidak mendapati keberadaan putranya.
“Masih di dalam, tadi katanya ada yang ketinggalan.” Miranda menatap suaminya.
Tiiinn…
Tiiinn…
Suara klakson kembali berbunyi.
__ADS_1
“Iya Dad, iya. Berisik banget.” Elvan berlari kecil menghampiri mobil Daddynya.
“Lama sekali kamu!” omel Bima setelah Elvan memasuki mobil.
Mobil yang dikendarai keluarga Bramantyo itu menjauh meninggalkan plataran mansion. Sekitar 30 menit kemudian mobil itu terlihat sedikit melambat dan berbelok memasuki sebuah rumah yang tidak kalah besarnya.
“Mereka sekarang tinggal disini, Hon?” tanya Miranda sembari melepas seatbelt ditubuhnya. Ia sudah sangat lama tidak mengunjungi tempat tinggal sahabat lamanya itu. Terakhir kali ia bertamu ke rumah Sandra dan Frans saat sahabatnya itu masih tinggal di Amsterdam. Dan itu sekitar tiga tahun yang lalu. Setelah itu mereka juga sangat jarang berkomunikasi. Mereka mengetahui kabar satu sama lain dari suami mereka yang memang lebih sering bertemu dikarnakan kerja sama antar perusahaan.
“Iya Hon. Kemarin aku sempat kesini menemui Frans, tapi hanya sebentar.” Balas Bima sembari melepas seatbeltnya.
Mereka keluar dari mobil. Pandangan Miranda menyusuri pekarangan tempat tinggal sahabatnya itu. Perasaan senangnya kali ini bertambah dua kali lipat. Ia tidak sabar ingin bertemu dan menghambur kepelukan sahabatnya itu.
“Elvan, kamu nanti kalau bertemu calon mertua harus sopan. Buang jauh-jauh sifat songong kamu itu.” Miranda mengingatkan dengan pandangan fokus ke depan.
Tidak ada jawaban.
“Kamu dengerin Mommy gak sih?” ucap Miranda.
Masih tidak ada jawaban. Ingin rasanya ia menjitak kepala putra pembangkangnya itu. Miranda membalikkan badan dan mendapati putranya masih duduk dengan santainya di dalam mobil.
“Kenapa Mom? Elvan disini.” Jawab Elvan sambil buru-buru keluar dari mobil.
“Honey aku kesana duluan ya.” Pamit Bima dan dianggukioleh Miranda.
“Ada apa Mom?” tanya Elvan saat sudah berdiri dihadapan Mommynya.
“Kamu ini, kenapa lama sekali?” ucap Miranda sambil mendorong kening Elvan dengan telunjuknya.
“Mom…” rengek Elvan setelah ia sedikit terjungkal kebelakang.
“Yang sopan kamu!” tegas Mranda menatap Elvan dengan tajam.
“Tau kali Mom.” Balas Elvan seadanya.
__ADS_1
“Ayo!” Miranda mengayunkan kakinya menghampiri suami dan sahabatnya yang berdiri di depan pintu.
“Sandra!” teriak Miranda sambil berlari menuju Sandra berdiri.
“Miranda!” suara Sandra tak kalah keras.
“I miss you so much.” Ujar Miranda sembari memeluk Sandra erat.
“I miss you too.” Balas Sandra memeluk Miranda tak kalah erat.
“How are you?” Sandra mengurangi pelukannya.
“I’m fine.” Balas Miranda sambil tersenyum.
“You?” tanya Miranda balik.
“Yeah, I’m good.” Jawab Sandra sembari memperlihatkan kondisinya sekarang.
“Ini putramu?” tanya Sandra sambil menatap Elvan.
“Iya, San. Ini putraku, Elvan.” Jawab Miranda sambil sedikit menyenggol lengan putranya.
“Malam tante. Saya Elvan.” Ujarnya sembari menyalami Sandra. Keningnya menyentuh punggung tangan Sandra.
“Halo om.” Sapanya juga pada Frans.
“Wah, kau sudah tumbuh besa rya sekarang, sama seperti anak om.” Ucap Frans dengan senyumnya.
“Tampan lagi.” Sambungnya. Elvan yang dipuji hanya menampakkan senyum tipis yang hampir tak terlihat. Pujian, sudah biasa baginya.
“Ayo masuk. Kita berbicara didalam saja.” Ajak Frans sembari mempersilahkan sahabatnya masuk.
~BERSAMBUNG~
__ADS_1
Jangan lupa di like dan komen ya.
Terima kasih.