My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
125


__ADS_3

Happy Reading🤗


Elvan dan Alexa berjalan cepat di lorong rumah sakit yang sunyi menuju ruang operasi tempat Helen dan Daniel berada. Disana, Elvan melihat kedua mertuanya terduduk lemas. Mereka saling merengkuh, menangis terisak. Terlebih Sandra, wanita itu tidak dapat menahan isakannya yang semakin menjadi. Tubuhnya bergetar hebat sejak mendapat kabar tentang kecelakaan putrinya. Sandra meradang, kejadian waktu itu kembali terulang. Ia menggeleng kuat ketika pikiran-pikiran buruk mengenai keselamatan putrinya melintas di pikirannya. Disana, Elvan juga melihat keberadaan Pak Bill, pria itu tampak terpukul dengan kejadian ini. Tapi apakah itu asli atau hanya sekedar akting?


"Ma, Pa." Panggilnya setelah sampai di dekat mertuanya.


Frans menatap Elvan sebentar lalu melirik Alexa yang berdiri di samping pria itu. Sementara Sandra tetap menangis di pelukan suaminya.


"Pa, maafin aku. Aku gak bisa jaga Helen dengan baik." Elvan menatap Frans dengan perasaan bersalah.


Ia telah gagal menjadi suami, selalu saja begitu. Ia selalu tidak ada di saat-saat genting wanita itu.


"Kenapa Helen bisa bersama Daniel?" Tanya Frans marah.


Elvan menggeleng pelan. Ternyata mertuanya mengenal Daniel, tapi sejak kapan?


"Kenapa tidak tau? Dimana kamu saat dia pergi bersama pria itu?" Desak Frans. Ia sungguh kecewa dengan hal ini. Mereka yang sebisa mungkin menjauhkan putrinya dengan Daniel malah kecolongan dan berakhir tragis seperti ini.


Elvan terdiam. Tidak mungkin ia mengatakan kalau ia sedang bersama Alexa tadi. Bisa-bisa ia semakin kena masalah.


"Siapa wanita ini?" Frans beralih menatap Alexa.


Ditatap seperti itu membuat Alexa menunduk. Ia tidak ingin membuat masalah lain dan tidak ingin disalahkan atas peristiwa ini.


"Dia temanku, Pa." Jawab Elvan pelan.

__ADS_1


"Lebih baik kalian duduk saja dulu." Suruhnya.


Elvan dan Alexa lantas duduk di samping kedua orang itu. Elvan menatap Pak Bill yang duduk di kursi panjang di depannya. Pria itu masih saja mengepalkan tangannya kuat seraya menunduk dalam. Tidak ada pergerakan sedikitpun yang ia lakukan. Entah apa yang sedang pria tua itu pikirkan.


Elvan melihat jam tangannya, sudah pukul 1 malam tapi pintu di mereka belum juga terbuka. Ia menunggu dengan gusar. Berita kecelakaan istrinya seperti sebuah lelucon yang tiba-tiba menghampirinya. Tapi begitulah faktanya, hingga akhirnya ia tetap menunggu berjam-jam di depan pintu itu.


Alexa sudah pulang satu jam yang lalu setelah Elvan membentaknya dan menyuruhnya untuk pulang. Elvan benar-benar tidak habis pikir dengan wanita itu. Di saat seperti ini pun ia masih saja keras kepala dan susah di atur. Elvan memijat pelipisnya. Matanya yang merah menahan butiran bening untuk keluar terasa perih. Tidak ada seorang pun yang tau kalau pria itu sedang menangis dalam diam. Elvan sangat pandai menutupi kelemahannya. Ia menyalahkan dirinya atas kejadian ini.


"Coba aja tadi gue mau saat Helen ngajak jalan, pasti kecelakaan ini gak akan terjadi. Pasti Helen bakalan baik-baik aja di samping gue." Elvan menjambak rambutnya kesal. Ia memang bodoh, selalu saja mengutamakan Alexa. Elvan menyesal.


"Semua pasti akan baik-baik saja. Kamu jangan lemah, Helen butuh semangat dari kamu." Elvan mendongak, menatap Frans yang kini menepuk-nepuk pelan punggungnya.


Elvan dengan cepat kembali menunduk, menyembunyikan air mata yang membekas di wajahnya.


"Helen pasti bisa sembuh." Ujar Frans lagi ketika melihat Elvan semakin menunduk.


Elvan baru saja kembali dari toilet setelah membasuh wajahnya. Ia segera memasuki ruangan transisi. Di sana istrinya akan dipantau hingga sadar sepenuhnya dan tidak mengalami komplikasi apapun setelah operasi, sebelum nantinya akan dipindahkan ke ruang perawatan. Ia memperhatikan Sandra yang duduk di samping tempat tidur Helen seraya duduk di bangku sudut yang ada di ruangannya itu. Di sana juga ada Ella dan Virgo, saat pagi-pagi sekali kedua orang itu sudah sampai di rumah sakit setelah mendapat kabar buruk tersebut.


Elvan kembali menunduk sambil menautkan jemarinya. Hal itu tidak lepas dari pengamatan Virgo yang sedari tadi terus memperhatikannya.


"Lo udah lihat Daniel? Gimana keadaannya?" Tanya Virgo pelan.


Elvan memijat pelipisnya. Ia tidak dapat menjelaskan. Faktanya, pria itu jauh lebih parah dari pada Helen. Pria itu mengalami trauma pada otak. Berita buruknya, pria itu bisa saja berakhir pada kematian.


Virgo tidak lagi bertanya lebih lanjut, ia ingin memberi Elvan waktu untuk menenangkan diri.

__ADS_1


"Kita berdoa sama-sama, Helen dan Daniel pasti sembuh." Sandra dan Ella yang mendengar hal itu mengangguk pelan. Dalam hati mereka mengaminkan perkataan Virgo.


Di tempat lain tepatnya di depan ruangan Daniel, Frans dan Bill sedang beradu argumen. Mereka sama-sama tampak sedang emosi hingga mengabaikan tatapan penasaran orang yang lewat. Bukan tanpa alasan mereka sampai seperti itu. Apalagi Frans, pria yang terkenal pendiam itu tidak biasanya banyak bicara seperti ini.


"Aku yakin ini pasti rencanamu." Tuduh Frans sambil menatap Bill tajam. Tatapannya yang tajam mengintimidasi pria itu.


"Jangan asal tuduh. Aku tidak sebodoh itu sampai mencelakai putra ku sendiri." Bantahnya. Lagi pula orang tua mana yang akan melukai anaknya sendiri. Apalagi itu anak tunggal. Frans benar-benar bodoh, pikirnya.


"Maksudmu sekarang kau sudah pintar sampai berpikir seperti itu? Lalu bagaimana dengan kecelakaan dua tahun yang lalu? Apa saat ini kau sedang bodoh? Kau sengaja melukai putramu dan putriku. Kau menyewa pembunuh bayaran, kau menyuruh mereka menabrak mobil Daniel yang sedang dalam perjalanan setelah menjemput Helen dari bandara. Kau ingin membunuh mereka. Tapi syukurnya mereka bisa diselamatkan, walaupun mereka harus kehilangan memorinya. Mereka tidak mengingat apapun. Mereka sudah tidak mengingat satu sama lain Bill." Bill terdiam di tempatnya.


"Kau ingin memisahkan mereka kan? Bukankah rencana mu sudah berhasil? Lalu apalagi? Kau sudah membatalkan pertunangan mereka. Kau membuat mereka hilang ingatan. Apa sekarang kau masih ingin membunuh mereka? Daniel putramu, walaupun dia bukanlah anak yang kau inginkan, tapi dia tetap putramu. Kau tidak berhak menyalahkannya terus-terusan karena kematian istrimu. Kalau kau benar-benar mencintai istrimu, seharusnya kau menjaga putra kalian dengan baik. Kau juga seharusnya tau mengapa Daniel sangat membencimu. Kau tidak pernah berperan sebagai ayah yang sesungguhnya. Kau tidak menganggap kehadirannya." Nafas Frans terengah-engah. Ingin rasanya ia memberikan pukulan di wajah Bill yang hanya diam mendengarkannya.


"Tindakan mu benar-benar sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Sekalipun kau teman lamaku, aku tidak akan mengampunimu kali ini. Kau mencelakai putriku, kau membuat nyawa putriku terancam. Kau menghalalkan segala cara untuk kepentingan dirimu sendiri. Kau pria bodoh yang tidak akan pernah merasakan kebahagiaan. Jika kondisi putriku tidak kunjung membaik, aku benar-benar akan menghancurkanmu. Aku akan melenyapkan perusahaan yang sudah susah payah kau bangun. Aku akan membuat hidup mu menderita. Jika saat itu tiba, kupastikan kau akan menyesali keputusanmu selama ini. Baik itu tentang putramu, tentang Helen, maupun tentang mendiang istrimu." Setelah berkata demikian, Frans langsung pergi meninggalkan Bill yang berdiri kaku di tempatnya.


Pria itu menatap kosong ke depan. Perkataan Frans sukses membuatnya merasa bersalah. Frans benar, selama ini ia tidak pernah berperan sebagai ayah yang baik untuk Daniel, putranya dari istri yang sangat ia cintai. Ia telah melakukan banyak kesalahan sehingga Daniel sangat membencinya, ia pantas menerima kebencian dari putranya. Matanya berkaca-kaca, rasa sesak memenuhi rongga dadanya. Penyesalan kembali datang kepadanya. Dulu, ia sangat menyesal karena tidak bisa menyelamatkan nyawa istrinya ketika melahirkan Daniel. Saat itu ia sedang berjuang membangun perusahaannya hingga sempat mengabaikan istrinya. Dan kini ia kembali menyesal karena telah mengabaikan putranya.


Bersambung...


...Jangan lupa dukung karya ini dengan Like, comment, gift 🌹 dan vote ya....


...Bantuan jempol kalian membantu Author untuk semangat menulis🤗...


...Terima kasih🙏...


Guys jangan lupa ya baca novel kedua ku juga ya makasih.

__ADS_1



__ADS_2