
Helen memasuki apartemennya yang masih gelap. Menandakan tidak ada satu pun orang di dalam sana.
“Elvan belum pulang? Tumben lama.” Ucap Helen setelah menutup pintu lalu mendudukkan diri di depan TV sembari menunggu kepulangan Elvan.
Tiga puluh menit berlalu Helen telah menunggu Elvan. Ia segera menyalakan televisi untuk menemaninya menunggu Elvan. Satu jam, dua jam, Helen sudah sangat gelisah di tempat duduknya.
“Udah jam 22.00, kok Elvan belum pulang ya?” Helen beranjak dari duduknya lalu berdiri di depan jendela kaca yang tirainya telah ia singkapkan.
“Nggak biasanya dia kayak gini. Mana gak kasih kabar juga.” Helen mondar-mandir di depan jendela tersebut sambal bersedekap dada.
“Gue telpon aja kali ya. Terserah deh kalau pun nanti dia marah-marah karna udah ganggu waktu kerjanya, yang penting rasa khawatir gue bisa berkurang.” Gumam Helen lalu pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya.
Helen menghubungi nomor Elvan, namun suara operator lah yang ia dengar.
“Kok nomornya gak aktif. Huufft…” Helen mendesah kesal.
“Tunggu bentar lagi aja kali ya.” Putus Helen lalu duduk di sofa yang ada di kamarnya.
Waktu telah menunjukkan pukul 23:00 saat Helen melirik ponselnya. Dan Elvan belum juga pulang atau pun sekedar memberi kabar. Jangan tanya bagaimana gelisahnya Helen saat ini. Bahkan, perasaan dan pikirannya tidak pernah lepas sedikit pun dari Elvan. Yang membuat Helen lebih khawatir, Elvan tidak pernah seperti ini sebelumnya kecuali hari pertama mereka menikah dulu. Namun, setelah itu sekali pun Elvan tidak pernah pulang selarut ini dan pergi tanpa kabar hingga larut begini.
“Apa Elvan sengaja ninggalin aku? Apa mungkin dia kabur biar bisa lepas dari aku? Ah, gak mungkin. Elvan gak mungkin kayak gitu.” Racau Helen sambal menggeleng pelan.
“Kira-kira Elvan sama siapa ya? Virgo. Ya, Virgo pasti tau dimana Elvan.”
__ADS_1
Helen mencoba menghubungi nomor Virgo. Namun, panggilan pertamanya tidak di jawab. Helen kembari menghubungi Virgo berharap pria itu menjawab panggilannya. Tapi nihil, Virgo kembali mengabaikan panggilannya.
Di lain tempat, tepatnya di rumah Virgo. Pria itu menatap layar ponselnya degan gusar. Nama Helen tertera disana. 100% Virgo yakin Helen pasti menghubungi karena ingin menanyakan keberadaan Elvan. Apa yang harus ia jawab? Virgo melewatkan dua panggilan gadis itu. Rasa tidak tega membuncang memenuhi perasaannya. Tapi, ia juga tidak bisa memberi tau keberadaan Elvan yang sebenarnya.
Ponsel Virgo kembali berbunyi, kali ini ia akan mencoba berbicara dengan Helen.
"Hallo Helen." Sapa Virgo sedikit girang. Ia tidak ingin membagi kegusarannya dengan wanita itu, walaupun Virgo sangat yakin jika saat ini gadis itu pasti lebih gusar dari dirinya.
"Halo, Vir. Maaf ya gue ganggu malam-malam gini. Gak masalah kan?" Virgo menarik nafas pelan mendengar ucapan Helen.
"Iya, gak papa kok. Tumben nelpon gue."
"Hehe iya nih. Gue jadi gak enak karna nelpon lo kalau ada maunya aja. Tapi ini penting banget, gue mau nanya sesuatu sama lo. Boleh kan?" Suara Helen di seberang sana terdengar jelas di pendengaran Virgo.
"Boleh kok, biasa aja kali kayak sama siapa aja." Virgo mendengar tawa Helen di seberang sana.
"Ok ok, lo lagi sama Elvan gak?" Kan! Dugaan Virgo benar.
"Enggak. Emang kenapa?
"Eemm.. gimana ya bilangnya. Elvan belum pulang dari tadi pagi. Lo tau gak dia dimana?
Mungkin dia lagi di kantor kali. Soalnya akhir-akhir ini kerjaan dia numpuk banget." Ujar Virgo dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
Maafin gue, Helen. Mendingan lo gak tau dimana Elvan sekarang dari pada lo nantinya bakalan sakit hati kalau gue bilang yang sebenarnya.
“Masa sih? Jadi, dia lagi di kantor ngerjain tugas. Kok gak di bawa pulang aja. Tapi Vir, Elvan biasanya gak kayak gini. Kalau pun lagi banyak tugas biasanya dia bakalan bawa pulang. Gue khawatir tau gak, apa gue susul ke kantor aja kali ya?” tanya Helen tak yakin.
“Eh, me-mendingan ga-gak usah deh, ini udah malam. Ngeri kalau lo keluar jam segini.” Virgo merasa sangat berdosa karena telah membohongi wanita sebaik Helen.
“Iya juga sih. Tapi, gue gak tenang kalau belum denger suara dia langsung.” Terang Helen diseberang sana.
“Ciieee yang baru nikah mah gitu, gak bisa jauh-jauh.” Gurau Virgo, sedikit ingin mencairkan suasana.
“Hehehe lo tau aja. Udah ah, gue mau nunggu Elvan aja. Mungkin bentar lagi pulang. Gue tutup ya.” Virgo menghembuskan nafas lega karena Helen tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin jika temannya itu bertanya lebih jauh, entah kebohongan apalagi yang akan ia ucapkan yang mungkin akan melukai hati wanita itu nantinya.
“Mendingan lo langsung tidur aja, udah larut malam juga.” Virgo berujar sebelum panggilan mereka berakhir.
Virgo menatap layar ponselnya yang telah mati. Salahkah jika ia menyembunyikan fakta sebenarnya? Salahkah jika Virgo ingin mereka tetap bersama?
Helen duduk di ranjang setelah meletakkan ponselnya di atas nakas. Benarkah jika Elvan sedang di kantor? Helen merasa sedikit tenang setelah mendengar perkataan Virgo jika Elvan masih di kantor mengerjakan berkas-berkasnya yang menurut Helen adalah musuh bebuyutannya. Why? Karena Helen merasa berkas-berkas itu adalah musuh yang selalu berhasil menarik perhatian Elvan. Ck!
Pukul satu dini hari, Helen sudah tidak mampu menahan kantuknya, tapi Elvan belum juga pulang. Helen masih ingin menunggu suaminya. Namun, rasa kantuk yang sudah amat sangat menyerangnya membuat Helen tidak kuasa menahannya, hingga akhirnya ia memilih tidur dan berbaring di atas ranjang dengan harapan yang besar. Berharap Ketika ia bangun esok hari, Elvan sudah ada di sampingnya memeluk pinggangnya dari belakang seperti yang pria itu lakukan beberapa bulan ini.
Bersambung...
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman. Terima kasih🙏
__ADS_1