My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 101


__ADS_3

Setelah selesai memasukkan semua pakaian dan kebutuhan pribadinya ke dalam koper, Helen bergegas turun ke basement dengan menaiki lift.


Tadi saat keluar dari kamar, Helen masih mendapati keberadaan Virgo ditempatnya semula, bahkan pria itu tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya. Ternyata temannya itu tidak ingin membiarkannya kesusahan seorang diri karena membawa koper yang isinya lumayan berat.


Helen melirik Virgo yang kini mengemudi di sampingnya. Semburat lelah tampak jelas di wajah pria itu jika dilihat lebih dalam. Walaupun merasa kecewa, Helen tidak akan sanggup mendiami Virgo yang sudah banyak membantunya. Sampai sekarang, Helen terus bertanya-tanya apakah Ella sudah mengetahui dan mau menerima kabar tentang pernikahannya dengan Elvan. Melihat reaksi Ella beberapa hari yang lalu saat di restoran, membuat Helen takut kalau Ella akan membencinya dan beranggapan kalau ia telah merebut Elvan dari Alexa.


"Maaf tadi gue udah bicara kasar sama lo." Ujar Helen pelan sembari menyapu bulu kucing yang ada di pangkuannya. Helen memutuskan untuk merawat kucing yang ia tolong beberapa waktu lalu sebelum dirinya jatuh sakit.


Virgo menoleh Helen sekilas lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.


"Santai aja, lo pantas buat marah. Bahkan gue ngedukung lo kalau nanti mau ngehajar Elvan." Sahut Virgo.


Helen terkekeh pelan. Ada benarnya juga perkataan Virgo barusan, ia bisa melampiaskan kekesalannya pada Elvan nanti saat pria itu sudah pulang. Ia bisa menghajar bahkan menyumpahi suaminya itu dengan kata-kata kasar yang pantas untuk pria itu. Tapi, apa Helen sanggup berbuat kasar pada Elvan? Apa ia bisa berkutik dihadapan pria itu?


Beberapa menit kemudian, Virgo memelankan laju mobilnya lalu berbelok di sebuah rumah berwarna merah bata yang sangat besar. Seorang satpam berlari membukakan pagar yang menjulang tinggi.


Setelah mobil berhenti di pelataran, Helen dan Virgo langsung turun dari mobil. Helen terdiam di posisi berdirinya sembari mengobservasi sekelilingnya. Rumah mewah itu tampak nyaman untuk ditinggali, tapi juga terlalu besar untuk ia dan Elvan tempati.


Virgo menatap Helen sekilas lalu membuka bagasi mobil dan mulai menurunkan semua barang milik Helen yang ada disana dibantu oleh satpam lalu membawanya masuk ke rumah mewah itu.


Helen tersadar dari keterpukauannya saat melihat Virgo melintas di hadapannya. Dengan cepat Helen segera mengejar pria itu. Setelah membawa masuk semua barang milik Helen, Virgo duduk di sofa yang berada di ruangan yang cukup besar, yang Helen yakin itu ruang tamu. Satpam tadi pun sudah kembali ke pos nya dan melanjutkan tugasnya.

__ADS_1


Tatapan Helen menjelajahi semua sudut rumah itu, ruangan yang ada disana tiga kali lebih luas dibandingkan dengan yang di apartemen.


“Elvan pulang besok pagi.” Ucapan Virgo menarik Helen dari kekagumannya.


“Ooo.” Balas singkat. Dirinya menunjukkan ketidaktertarikan mengenai Elvan.


“Lo marah ya sama dia?” entah mengapa pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulut Virgo.


Helen ikut duduk di samping Virgo lalu menyenderkan tubuh lelahnya di punggung sofa. Diriya tadi baru saja pulang kerja saat Virgo datang ke apartemennya.


“Kalau ada kata di atas marah mungkin gue akan bilang itu untuk ngungkapin perasaan gue. Gue gak tau harus bersikap seperti apa saat dia pulang besok.” Helen menerawang jauh menatap ke depan.


“Gue gak tau harus gimana.” Ujar Helen setelah terdiam beberapa saat.


“Ya, gue tau lo pasti kecewa, tapi gak ada salahnya kalau lo berjuang sedikit lagi.” Virgo menghela nafas.


Helen kembali bungkam. Tidak ingin menanggapi perkataan Virgo.


Tidak ingin terus berada dalam ketegangan, Virgo mengalihkan pembicaraan.


“Ada yang bis ague bantu lagi? Mindahin perabotan mungkin?” tanya Virgo lalu beranjak dari duduknya. Matanya menatap perabotan yang sudah tertata rapi secara bergantian.

__ADS_1


Helen ikut berdiri di depan Virgo.


“Eh, enggak kok. Kayanya semua udah bagus. Gak ada yang perlu dipindah lagi. Makasih ya, lo udah mau bantuin gue, sampai bela-belain mau kemari padahal lo baru pulang kerja.”


“Santai aja, kita kan temen. Kalo lo butuh apa-apa telpon gue aja, ok?”


“Oke! Baik banget sih lo.” Helen dan Virgo tertawa renyah sembari berjalan ke pintu utama.


“Gue pulang dulu, ya.” Helen mengangguk sambil tersenyum. Gadis itu mengantarkan Virgo hingga ke depan pintu.


“Sekali lagi makasih ya.” Virgo mengacungkan jempol setelah mendengar ucapan Helen. Kini ia telah berada di depan kemudi mobil.


Mobil Virgo menghilang dari pandangan Helen saat berbelok di jalan raya. Gadis itu bersiap untuk menutup pintu saat seseorang memamggilnya.


“Helen!”


Kira-kira siapa ya panggil Helen??


Jangan lupa dukungannya ya teman-teman.


Thank you.

__ADS_1


__ADS_2