
Untuk sesaat Elvan menghentikan kunyahannya lalu menoleh ke arah Virgo. Elvan mengedikkan bahunya acuh lalu kembali sibuk pada dunianya.
"Aaakkh.." Virgo meringis saat tanpa sengaja menyentuh kasar luka di wajahnya.
Saat ini wajah Virgo dan Elvan tidak berbeda jauh. Sama-sama dipenuhi oleh warna lebam dan kemerahan. Perkelahian kemarin malam cukup gesit sehingga mampu membuat tubuh dan wajah mereka terasa sakit. Virgo duduk di samping Elvan lalu mengambil sepotong pizza dari kotak yang berada di depan Elvan.
"Gara-gara lo nih!" Tuduh Virgo sembari menunjuk wajahnya.
"Lo duluan." Balas Elvan tidak terima dengan Virgo yang menuduhnya.
"Gue ngelakuin itu karena gue emosi liat lo ciuman!" Tandas Virgo.
Elvan diam. Biarlah jika Virgo tidak terima dengan perbuatannya tadi malam. Toh, semuanya juga sudah berlalu.
"Lo kenapa sih? Tadi malam lo bilang sama gue kalau Helen udah jadi istri lo dan lo nikah sama dia karna terpaksa. Tapi kenapa tadi malam lo harus pergi ninggalin dia? Dia itu cewek bro, cewek itu lemah, hatinya gampang terlukai." Ujar Virgo dramatis. Ada kesedihan yang tersirat di setiap katanya.
Sepertinya memang benar seseorang sangat berbeda 180 derajat jika sedang mabuk. Hal itu terbukti dengan Virgo yang saat ini menasehati Elvan dengan dewasa. Walaupun Elvan bosnya, belum tentu Elvan lebih dewasa dari Virgo karena selama ini Virgo lah yang lebih banyak mengalah dan menasehati sahabatnya itu yang kerap kali melakukan kesalahan.
Merasa Elvan tak akan menjawab pernyataannya, Virgo kembali bersuara.
"Kenapa tadi malam lo pergi ninggalin Helen?" Tanya Virgo serius, namun pandangannya menatap TV di depannya.
Elvan menghentikan gerakan jemarinya dan menoleh ke arah Virgo.
"Gue mau buat dia menderita." Tandas Elvan lengkap, padat dan jelas.
Virgo bingung. Ini semua tidak masuk kenalarnya.
__ADS_1
"Maksud lo?" Tanya Virgo lagi.
Elvan menerawang jauh.
"Gue mau buat dia menderita. Gue bakalan nyakitin dia secara perlahan sampai dia benar-benar sakit. Gue ninggalin dia tadi malam itu adalah salah satu cara gue buat nyakiti dia. Termasuk hari ini, gue nolak tawaran dia buat ngerasain makanannya dan pergi ninggalin dia begitu aja. Gue seneng liat tatapan kecewa dia." Seringai tipis terukir di bibir Elvan. Matanya yang tajam membuat siapa saja akan yakin bahwa pria itu benar-benar mengerikan.
Seringai tipis terukir di bibir Elvan. Matanya yang tajam membuat siapa saja akan yakin kalau pria ini benar-benar mengerikan. Termasuk cara berpikirnya yang kadang sulit untuk dimengerti. Termasuk Virgo, ia tidak mengerti bagaimana jalan pikir sahabatnya itu. Bagaiman bisa Elvan melakukan semua itu pada Helen? Atas dasar apa sebenarnya Elvan melakukannya hingga dia benar-benar ingin membuat Helen menderita? Semua pertanyaan itu hanya Elvan lah yang dapat menjawabnya dan Virgo sebagai sahabatnya akan berusaha agar Elvan mau menjawab semua pertanyaan itu dan ia benar-benar mengerti dengan alasan yang Elvan berikan.
“Tapi, kenapa lo lakuin itu? Gue yakin dan percaya, lo juga sadar kalau semua yang lo lakuin itu salah.” Ujar Virgo semakin dalam.
“Iya gue tau gue salah, tapi yang lebih salah itu dia. Kenapa dia masuk ke dalam kehidupan gue?! Gue ngerasa terusik dengan kehadiran dia!” ujar Elvan tajam.
Virgo langsung membantah perkataan Elvan.
“Tapi lo sendirikan juga tau kalau Helen masuk ke dalam kehidupan lo itu juga karena nyokap lo. Lo lupa kalau lo itu dijodohin sama dia? Baru tadi malam lo kasih tau gue dan gue masih ingat betul. Jadi lo gak berhak buat salahin Helen atas semua ini. Kalau dipikir-pikir yang lebih pantas disalahkan itu orang tua kalian!” ucap Virgo dengan suara yang naik satu oktaf.
“Lo nyalahin orang tua gue! Lo gak tau apa-apa, lebih baik lo diam!” bentak Elvan.
Virgo tak memperdulikan Elvan yang mulai terpancing emosi. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mengungkapkan semua kejanggalan yang ada dibenaknya.
“Lo gak bisa ngambil keputusan gitu aja. Gue yakin, Helen juga gak suka sama pernikahan kalian. Tapi dia cewek, dia bisa apa? Dia sebagai anak cuma bisa nuruti semua kemauan orang tuanya, termasuk elo, dia juga sama kayak lo bro.. mau gak mau dia harus terima kenyataan ini.” Virgo menjeda kalimatnya untuk mengatur nafas. Bisa-bisa kejadian tadi malam akan terulang jika ia tidak pandai menahan ***** untu memusnahkan pria bodoh di sampingnya itu.
“Dan seperti yang lo bilang tadi, dia rela masak untuk lo padahal tadi malam lo udah nyakitin dia secara gak langsung, itu karena dia mau berdamai sama lo. Gue yakin serratus persen kalau Helen saat ini juga bingung sama posisinya. Gue yakin dia juga bingung apa salah dia sama lo sebenarnya!” ujar Virgo. Hembusan nafasnya terdengar jelas saat ia menghembuskannya secara kasar.
“Jawab gue jujur, apa sebenarnya alasan lo buat sakitin Helen? Gue yakin kalau lo gak akan semarah ini hanya karena lo dijodohin dan merasa terusik dengan kehadiran dia.” Tanya Virgo serius.
Elvan menatap Virgo tajam.
__ADS_1
“Lo gak perlu tau.” Jawabnya.
Entah apa sebenarnya penyebab Elvan melakukan hal tersebut kepada Helen. Semua alasan yang Elvan berikan tadi tidak cukup membuat Virgo puas dan memahami alasannya.
“Apa salah kalau lo berdamai sama Helen, toh dia juga istri lo?” Virgo mengambil tutup toples yang berada tidak jauh darinya lalu menjadikannya seperti kipas. Sejuk AC di kamar itu tidak cukup membantu Virgo untuk menghilangkan gerah di tubuhnya.
“Gue gak bakalan mau berdamai sama dia. Lagi pula, kenapa jadi lo yang sewot, yang di benci siapa, yang marah siapa. Lagian ini juga belum apa-apa, ini baru permulaan dan selanjutnya gue akan buat dia lebih menderita.” Ujar Elvan yakin. Tersirat keseriusan di dalam ucapannya.
“Ya jelas lah gue sewot, dia temen gue jadi gue pantes buat lindungin dia.” Bantah Virgo masih dengan mengibaskan tutup toples yang lumayan lebar ke tubuhnya yang kekar.
“Jangan berani-beraninya lo buat ngelindungin dia. Kalau sampai gue liat hal itu terjadi, gue akan buat dia menderita batin dan fisik.” Ancam Elvan serius. Kini matanya menatap Virgo tajam. Ia tidak ingin Virgo mengagalkan dan menghalangi perbuatan apa yang akan ia lakukan untuk Helen.
“Lo ngancem gue?” Virgo menunjuk dirinya.
“Iya. Kalau sampai lo berani nantangin gue, gak cuman Helen yang akan menderita tapi juga Ella.” Virgo yang mendengar nama Ella masuk dalam ancaman Elvan mendelik ke arah Elvan.
Mengapa harus Ella?.
“Jangan pernah lo sentuh Ella walau hanya sedikit pun.” Ancam Virgo balik. Ia benar-benar akan marah pada Elvan jika sampai terjadi sesuatu pada gadis itu. Walaupun saat ini mereka belum ada status tapi bagi Virgo, Ella adalah gadisnya. Ella lah yang akan menjadi istrinya kelak dan hanya Ella lah yang Virgo ingin untuk menjadi ibu dari anak-anaknya. Entah sejak kapan keinginan itu muncul. Sepertinya Virgo telah menentukan pilihannya. Lagi pula gadis pertama yang menarik perhatiannya telah menjadi milik lelaki lain.
“Kalau lo gak mau Ella kenapa-kenapa berarti lo harus turuti perkataan gue, gampangkan?” elvan menarik sebelah ujung bibirnya. Senyum miring itu menyiratkan kepuasaan saat melihat Virgo tak membalas perkataannya.
Bersambung..
Jangan lupa di like, komen, dan vote nya ya teman-teman. Dan terima kasih yang sudah memberikan like dan komen nya🙏❤
Thank you
__ADS_1