My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 73


__ADS_3

Sesuai dengan rencana awal, malam ini Helen akan bertemu dengan Daniel di sebuah restaurant. Tadi, saat tiba di apartemen, Helen tidak mendapati kehadiran Elvan disana. Ternyata suaminya itu belum pulang dari kantor.


Helen telah siap dengan dress yang melekat di tubuh rampingnya. Dress berwarna putih dengan panjang selutut itu tampak sangat cocok membalut kulitnya yang putih. Rambutnya sengaja ia kuncir agar tidak terlalu membuatnya gerah. Sentuhan terakhir, Helen melingkarkan jam tangan kecil berwarna gold pada pergelangan tangan kanannya. Sudah jam 19:55 WIB saat gadis itu melirik jam yang berada di pergelangan tangannya. Dapat dipastikan kalau Helen akan telat bertemu Daniel malam ini, karena sebelumnya Daniel memberitahunya untuk bertemu saat jam 8 sementara ia masih belum berangkat.


Drrttt.. drrttt..


Getaran pada ponselnya menghentikan langkah Helen. Ia segera mengambil ponsel berwarna putih tersebut dari dalam sling bag nya.


“Lo udah jalan?”


“Ini juga mau jalan. Kenapa? Kita gak jadi ketemuannya?” Helen bertanya sambil memasuki lift yang akan membawanya ke lantai dasar.


“Eh? Jadi kok jadi. Gue udah sampai di restaurant. Gue pikir lo gak jadi datang.”


Helen hanya mendengarkan perkataan Daniel di seberang sana, tanpa niat sedikit pun membalas perkataan Daniel yang menurutnya kurang masuk akal. Ngapain harus nelpon? Toh, nanti mereka juga akan bertemu. Ck!.

__ADS_1


“Ya udah, gue tunggu ya! Hati-hati di jalan.” Setelah itu sambungan telpon dimatikan secara sepihak.


Helen hanya mengedikkan bahunya acuh saat mendengar perkataan Daniel yang menyuruhnya agar berhati-hati. Mungkin kalian berpikir itu hanya hal biasa, tapi tidak dengan Helen. Ia yang belum pernah mendapat perhatian kecil dari seorang pria seperti itu merasa sedikit janggal dan risih. Tapi sudah lah, mungkin pria itu sedang dalam mood yang baik saat ini.


Sebenarnya, Helen sedikit malas saat harus meladeni permintaan Daniel yang mengajaknya bertemu malam ini. Namun, karena merasa berhutang budi, Helen dengan hati yang sedikit tidak tenang berusaha dengan lapang dada memenuhi keinginan pria itu.


Helen segera memasuki mobilnya setelah tadi menyimpan ponselnya terlebih dahulu. Sesaat kemudian ia telah melajukan mobil miliknya meninggalkan gedung apartement.


“Ada apa?” tanya Helen to the point saat ia telah berdiri di hadapan Daniel yang duduk dengan santai pada salah satu bangku restaurant.


“Kenapa lo ngajakin gue ketemu?” tanya Helen lagi. Kali ini dengan suara yang sedikit ketus.


Bukannya menjawab pertanyaan Helen, Daniel malah memanggil seorang pramusaji lalu memesan makanan. Hal itu membuat Helen semakin jengah dan memutar bola matanya.


“Pesan dulu, kamu mau makan apa?” Daniel tersenyum lembut. Ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Helen.

__ADS_1


Dengan perasaan yang dongkol Helen akhirnya hanya menurut dan memesan makanan yang sama dengan Daniel. Sepertinya pilihannya salah kali ini. Melihat tingkah Daniel yang seperti ini membuat Helen sedikit menyesal karena menerima ajakan pria itu. Lebih baik tadi ia menerima ajakan dinner Mas Rey. Sepertinya lain kali ia harus berbaik hati menerima ajakan Mas Rey untuk dinner.


Sesudah pramusaji di depannya pergi, Daniel menoleh pada wajah Helen yang tampak kesal. Ia tau kalau gadis itu pasti sedang jenuh saat ini. Tapi biarlah, demi berada di dekat gadis itu Daniel akan melakukan apapun.


"Akhir-akhir ini lo sibuk gak?" Tanya Daniel sambil menatap wajah cantik gadis di depannya.


"Kenapa?" Helen mengernyitkan dahinya.


"Kalau gak sibuk gue mau ngajak lo jalan." Ujar Daniel dengan pandangan yang lurus ke depan menatap wajah Helen.


"Sayangnya gue sibuk." Jawab Helen enteng.


Sesuai dugaan, Daniel mendesah kecewa namun kembali memasang tampang coolnya. Setelah itu tidak ada satu pun dari mereka yang membuka percakapan hingga seorang pramusaji kembali datang mengantarkan pesanan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2