My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 66


__ADS_3

Helen mengulum senyum tipis sambil menatap Daniel. Ia malu, karena telah ketahuan berbohong. Padahal bisa saja Helen langsung mengatakan kakinya sedang sakit. Tapi, Helen tidak melakukannya karena ia ingin Elvan yang membantunya.


Helen melirik Daniel sekilas, pria itu juga tengah menatap Elvan.


“Elvan?” panggil Helen pelan. Ia berharap suaminya itu peka dengan dirinya.


Elvan menatap Helen yang memanggilnya. Ia dapat melihat tatapan memohon Helen yang sedikit memelas. Elvan beranjak dari tempatnya, namun lagi-lagi Daniel membuatnya berhenti.


“Pegang bahu gue.” Daniel menyelipkan tangannya diantara kaki dan punggung Helen.


“Ha?” Helen mengernyit mendengar perintah Daniel, namun sedetik kemudian Tindakan Daniel membuat Helen menahan nafasnya. Pria itu menggendongnya dengan ala bride style.


Tindakan Daniel membuat dada Elvan serasa bergemuruh. Dua kali, ia kalah dari Daniel. Ia yang suami Helen saja tidak pernah menggendong gadis itu, bisa-bisanya Daniel yang baru bertemu dua kali dengan Helen sudah berani menyentuh kulit gadis itu. Benar-benar kurang ajar. Elvan berusaha menahan kesabarannya. Ada apa dengan dirinya? Mengapa tiba-tiba ia tidak suka dengan kedekatan Helen dan Daniel?.


Daniel mendudukan Helen di tempat semula sebelum gadis itu terjatuh.


“Daniel, gue gak papa.” Helen membuka suara. Rasanya Daniel tidak perlu melakukan tindakan seperti itu sementara Elvan ada di depan mereka. Entah mengapa Helen kurang suka saat Daniel memberinya sedikit perhatian. Padahal pria itu hanya ingin membantunya.


“Kaki lo sakit.” Ujar Daniel.


“Tapi--” Helen menggantung ucapannya. Rasanya lebih tidak pantas jika ia memarahi Daniel karena telah membantunya.

__ADS_1


“Makasih.” Ujarnya pelan.


Daniel tersenyum lembut mentap Helen yang duduk di sampingnya.


“Lo boleh pergi.” Helen Kembali berujar setelah menatap Elvan yang juga tengah menatapnya lekat. Ia tau pria itu benar-benar marah kali ini.


Senyum Daniel seketika luntur mendengar penuturan Helen. Gadis itu mengusirnya secara langsung. Daniel merasa hatinya sedikit sakit.


“Gue mau ngobatin kaki lo.”


“Gak perlu.” Ucap Helen pelan.


“Iya, gue tau. Tapi gue bakalan obatin sendiri.”


“Lo gak bakalan bisa. Jalan aja gak bisa gimana mau ngobatin sendiri.” Daniel kembali menyakinkan Helen.


“Tapi kan--”


“Gue yang akan ngobatin dia.” Elvan berujar dingin, menghentikan ucapan Helen.


Daniel menatap Elvan yang duduk tegap di depannya. Senyum miring langsung terukir dibibirnya. Matanya menatap tak suka melihat Elvan.

__ADS_1


“Pergi lo.” Usir Elvan.


Elvan beranjak dari duduknya lalu mendekati Helen. Sebelumnya, ia menyenggol kuat bahu Daniel kuat untuk meluapkan kebencinya pada pria itu.


Elvan berlutut lalu membawa Helen dalam gendongannya. Setelah itu, ia turun dari pondok. Elvan melangkahkan kakinya meninggalkan pondok, namun cekalan di tangannya membuat Elvan kembali berhenti.


Daniel berdiri di hadapan Elvan yang tengah menggendong Helen. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Namun, mata tajamnya tidak lepas dari tatapan mengintimidasi Elvan. Mereka sama-sama menunjukkan tatapan saling membunuh.


Helen yang berada di dalam gendongan Elvan, dapat merasakan ketegangan dari diri keduanya. Helen mengalungkan tangannya di leher Elvan membuat pria itu langsung menatapnya. Namun, sesaat kemudian Helen langsung menyandarkan kepalanya pada dada bidang Elvan.


Hal itu tidak luput dari penglihatan Daniel. Dadanya berdesir menyaksikan Helen yang berada digendongan Elvan.


“Ayo pergi.” Pinta Helen. Suaranya sedikit teredam karena posisi wajahnya yang tidak berjarak sedikit pun dari dada Elvan.


Elvan melirik Daniel sekilas sebelum akhirnya ia benar-benar berlalu dari hadapan pria itu. Daniel yang ditinggal begitu saja menatap datar punggung Elvan yang pergi Bersama Helen.


Helen yang berada digendongan Elvan tidak sedikit pun menyusutkan senyumnya. Wangi tubuh Elvan dapat dengan jelas menghirupnya saat ini. Ia juga dapat merasakan detak jantung pria itu yang berdetak dengan cepat. Helen semakin membenamkan wajahnya di dada Elvan. Rasanya, ia ingin waktu berhenti kali ini saja. Moment seperti itu tidak pernah terbayangkan oleh Helen. Moment dimana Elvan menyentuh dirinya dengan sangat hati-hati seperti saat ini. Helen benar-benar bahagia.


Elvan membawa Helen kembali ke kamar gadis itu. Walaupun sedikit kesulitan saat membuka pintu, namun ia berhasil menidurkan gadis itu di atas ranjangnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2