
Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang tamu untuk membahas point penting yang sudah ditunggu-tunggu oleh kedua orang tua Helen dan Elvan.
"Elvan, kamu sudah tau kan tujuan utama kita kesini untuk apa?" Tanya Bima membuka pembicaraan. Ia menatap putranya yang duduk disampingnya.
"Sudah Dad." Jawab Elvan pelan.
"Jadi begini Helen, kamu sudah dengarkan kalau kamu akan dijodohkan?" Tanya Bima pada Helen yang duduk didepan istrinya.
"Helen sedikit terkejut ketika Bima bertanya kepadanya.
"Sudah Om." Jawab Helen seadanya.
"Jadi Helen, anak Om ini yang akan dijodohkan dengan mu. Kamu mau kan?" Tanya Bima menatap anak sahabatnya itu.
"Pa?" Panggil Helen pada Papanya yang duduk disamping Mamanya.
"Iya nak. Dia pria yang akan dijodohkan dengan mu. Dia anak sahabat Papa yang kemarin Papa ceritakan." Ucap Frans menjelaskan pada putrinya.
"Kamu Elvan, Om tanya sama kamu. Kamu mau kan menikah dengan putri Om ini?" Tanya Frans pada Elvan yang duduk dihadapannya.
Elvan diam.
"Elvan, seperti yang Mommy bilang." Ujar Miranda menyadarkan Elvan.
Gue gak bisa terima perjodohan ini, tapi aarrghh..., hati dan pikiran Elvan bertolak belakang. Hatinya tidak ingin ia menikah dengan gadis pilihan Mommynya, namun pikirannya mengatakan ia harus menerima perjodohan ini agar Mommynya tidak kecewa padanya dan tidak akan ada yang tersakiti disini kecuali dirinya.
"Iya Om. Elvan terima perjodohan ini." Jawab Elvan akhirnya dengan tatapan kosong.
"Bagaimana Helen? Elvan sudah menerima kamu sebagai calon istrinya. Kamu mau kan, anak Om ini menjadi suamimu?" Tanya Bima.
Helen menatap Mama dan Papanya bergantian. Ia tidak tau harus menjawab apa. Ini terlalu cepat, Pikirnya. Bagaimana mungkin ia bisa menikah dengan pria yang baru dua kali bertemu dengannya.
Ini gila, batinnya.
__ADS_1
Ingin rasanya Helen mengatakan tidak kepada Bima, tapi melihat antusias kedua orang tuanya membuat Helen bersedih. Pasti orang tuanya akan sangat kecewa jika ia menolak perjodohan tersebut.
Helen tidak kunjung menjawab pertanyaan tersebut sehingga Bima kembali berujar.
“Keterdiamanmu akan kami anggap sebagai jawaban, bahwa kamu menerima perjodohan ini.” Ujarnya.
Miranda dan kedua orang tua Helen tersenyum mendengar penuturan Bima barusan. Sementara Helen dan Elvan tampak diam seribu bahasa. Entah apa yang sedang mereka pikirkan, tetapi jika dilihat dari mimik wajah tampak jelas jika mereka tidak menunjukkan kebahagian yang biasanya dirasakan oleh sepasang kekasih yang akan segera menikah.
“Elvan, kamu bisa langsung memasangkan cincin untuk Helen.” Suruh Bima pada anaknya.
Elvan merasa seperti sedang bermimpi. Bagaimana bisa ia berakhir seperti ini. Berakhir dengan gadis pilihan Mommynya dan melamar gadis itu malam ini. Elvan melangkah menghampiri Helen dan berlutut, mensejajarkan tinggi mereka. Elvan mengeluarkan sepasang cincin dan mengenakan cincin tersebut di jari manis Helen. Setelah itu Sandra juga menyuruh Helen agar melakukan hal yang sama seperti Elvan. Helen hanya pasrah menuruti perintah Mamanya.
Senyum bahagia langsung terpancar dari keluarga itu setelah melihat putra dan putri mereka yang sudah saling bertukar cincin.
“Lo ikut gue sekarang.” Perintah Elvan pelan dengan tatapan tajamnya melihat Helen.
“Maaf kami permisi sebentar.” Ujar Elvan dan berlalu begitu saja. Helen yang diperintah oleh Elvan hanya bisa pasrah mengikuti kemana arah pria itu berjalan. Hingga akhirnya Elvan menghentikan langkahnya di pelataran rumah, dibawah pohon yang tumbuh dengan rindang.
Elvan berbalik dan menatap Helen tajam.
Helen mendongak menatap wajah Elvan.
“Menurut lo?” tanyanya balik.
“Lo seharusnya tolak perjodohan ini. Lo gak cinta sama gue, begitu pun sebaliknya.” Ucap Elvan sambil menatap Helen datar.
“Kenapa gak lo aja yang tadi tolak perjodohan gila ini?” tanya Helen balik dan menantang.
“Asal lo tau aja, dari awal gue memang udah tolak perjodohan ini. Tapi, karena gue gak mau orang tua gue kecewa, gue terpaksa harus terima ini semua.” Ucap Helen tajam menekankan kata terpaksa pada kalimatnya.
“Dengar baik-baik ucapan gue. Gue SANGAT TERPAKSA menerima perjodohan ini.” Setelah itu Elvan berlalu begitu saja meninggalkan Helen.
Helen menatap sedih punggung Elvan yang berlalu meninggalkannya. Tidak pernah terpikir olehnya kalua ia akan menikah dengan pria bermulut pedas seperti Elvan.
__ADS_1
“Lo juga harus tau kalua gue juga terpaksa menerima perjodohan ini.” Lirih Helen menatap kosong kedepan. Tangannya terkepal kuat menahan tangis dan amarah. Kenapa Elvan harus berkata seperti itu padanya? Ia juga sama dengan Elvan, menerima perjodohan ini karena terpaksa tapi ia tidak mengatakan yang sebenarnya. Iya hanya ingin orang tuanya bahagia dengan menikahi pria pilihan Mamanya walaupun kebahagiaannya sedang dipertaruhkan saat ini.
Helen mengatur deru nafasnya. Ia tidak boleh terlihat sedih didepan orang tua dan calon mertuanya. Helen menarik nafas kuat lalu dihembuskannya secara perlahan. Setelah itu ia berjalan menuju pintu belakang dan memasuki dapur. Helen berdiri didepan meja bar kecil sambil meneguk segelas air.
“Helen lo pasti bisa ngejalani semua ini.” Ujar Helen meyakinkan dirinya. Helen menepuk-nepuk pelan kedua pipinya sebelum berjalan menuju keluarganya berkumpul. Helen melihat Papanya, Om Bima dan Elvan yang sedang berbincang. Sesekali dilihatnya juga Elvan yang mengangguk setelah mendengar perkataan Papanya.
“Sayang, kamu dari mana?” tanya Sandra sambil mengelus rambut Helen.
“Dari dapur Ma.” Jawab Helen sembari memeluk Mamanya dari samping.
“Sayang coba lihat, kamu suka yang mana diantara undangan ini?” tanya Miranda sembari mempelihatkan beberapa macam model undangan. Helen menegakkan duduknya dan mulai memilih-milih undangan yang ada diatas meja.
“Kami sudah memutuskan resepsi pernikahan kalian akan dilakukan satu minggu lagi.” Perkataan Sandra barusan langsung menghentikan pergerakan Helen.
“Memang tidak terlalu cepat Ma?” tanya Helen.
“Kita juga belum ada persiapan loh.” Sambungnya.
“Enggak sayang, satu minggu itu sudah cukup untuk kita menyelesain semua persiapannya. Kamu tenang aja, semua keperluan resepsi nanti biar kami saja yang menyiapkan.” Jelas Sandra pada putrinya.
Helen melirik Elgan sekilas dan hal itu tidak lepas dari pengamatan Miranda dan Sandra.
Pria sombong itu sudah tau belum ya?, batinnya.
“Kamu jangan khawatir, Elvan pasti menyetujui semua yang kami rencanakan.” Ujar Miranda, seakan tau apa yang sedang dipikirkan calon menantunya.
~BERSAMBUNG~
Ditunggu kelanjutannya ya Kak…
Jangan lupa ekspresikan pendapat kakak-kakak semua di kolom komentar ya…
Terima kasih untuk pembaca yang masih setia di cerita ini dan Terima kasih untuk like, komen, hadiah nya kak...
__ADS_1
THANKYOU