My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
122


__ADS_3

Helen keluar kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya. Pakaian rumahan sudah melekat di tubuh rampingnya. Saat keluar kamar mandi, ia melihat Elvan yang berdiri di depan jendela kaca kamar mereka. Pria itu sedang menerima telpon seseorang.


Helen mengernyit saat pandangannya menangkap kepalan tangan pria itu. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres, sehingga pria itu tampak seperti menahan amarah.


Helen meletakkan handuk kecil yang tadi dipegangnya ke atas sofa sebelum berjalan mendekati Elvan. Melangkah dengan jinjit, seperti angin hingga Elvan tidak menyadari kehadirannya.


"Ocehan mu semakin membuatku muak." Helen menajamkan pendengarannya.


"Siapa sih? Kok kayak emosi gitu." Bisiknya pelan.


Helen semakin mendekati Elvan dan berdiri di belakang pria itu.


"Ck! Jangan mengada-ngada. Aku tidak pernah menyentuh mu." Helen menutup mulutnya agar tidak menjerit.


Pasti Alexa, batinnya.


"Udah lah, jangan membahas yang tidak-tidak lagi. Aku akan memaafkan mu kalau kamu mau bersikap baik dan tidak mengganggu pernikahan ku lagi." Elvan meredam amarahnya. Berusaha berbicara senormal mungkin.


Helen memutar bola matanya kesal. Lihat kan? Begitu mudahnya Elvan memaafkan Alexa. Huh! Tidak heran.


"Kamu mau ketemuan? Kapan?" Elvan bertanya pelan. Rahangnya yang tadi mengeras kini sudah menjadi rileks.


Helen memicingkan matanya mendengar ucapan Elvan barusan. Apa katanya? Ketemuan? Sama Alexa? Wah gak bisa dibiarin nih.


Helen yakin kalau Elvan belum menyadari kehadirannya dan Helen tidak ingin pria itu menyadari dirinya yang kini tengah menguping.

__ADS_1


"Nanti sore? Oke!" Entah apa yang sedang Elvan dan Alexa bicarakan. Hal itu membuat Helen jadi sedikit lesu. Bahunya meluruh ke bawah.


Elvan menutup panggilan. Berdiam diri beberapa saat hingga akhirnya berbalik. Ia mengernyit mencari keberadaan Helen di kamar mereka. Tadi, Helen langsung pergi dari belakang Elvan saat melihat pria itu akan menutup telponnya. Sudah pasti Elvan tidak menyadari keberadaan hingga kepergiannya.


"Helen udah selesai mandi belum ya?" Elvan melangkahkan kakinya ke depan pintu kamar mandi. Membukanya lalu mengintip ke dalam sana.


Kosong. Helen sudah pergi dari sana tanpa sepengetahuan Elvan.


Elvan keluar dari kamar mencari keberadaan Helen. Dirinya pergi ke dapur saat mendengar suara piring yang dibanting.


Di sana ia melihat Helen tengah memasak sarapan mereka. Elvan belum tahu apa yang akan wanita itu sajikan pagi ini.


"Sayang." Panggil Elvan. Ia bersandar di pintu masuk dapur.


Helen menoleh ke belakang. Senyumnya mengembang melihat kedatangan Elvan.


"Masak apa?" Elvan melangkah mendekati Helen.


"Omurice." Pandangan Helen mengikuti setiap langkah Elvan.


Kenapa kalian mau ketemuan? Apa semua ucapan cinta kamu itu bohong? Helen kembali melanjutkan masakannya. Tidak menggubris keberadaan Elvan yang tengah memperhatikannya.


"Kenapa tadi perginya nggak bilang-bilang? Ninggalin aku di kamar sendirian pula." Elvan merengkuh tubuh Helen dari belakang. Menumpukkan dagunya di atas bahu wanita itu.


"Aku takut kamu kelaparan, jadi aku cepet-cepet kemari sampai lupa ngajak kamu keluar kamar, hehe." Tanpa menggubris kelakuan Elvan, Helen melanjutkan pekerjaannya. Walaupun sedikit terganggu, ia tidak ambil pusing. Pikirannya kini sudah dipenuhi banyak pertanyaan dan dugaan tak menentu membuatnya jadi sedikit acuh dengan apa yang Elvan lakukan dengan tubuhnya.

__ADS_1


"Jangan di buat merah." Helen memperingati Elvan yang sedang menjelajahi permukaan lehernya. Elvan bungkam menghiraukan perkataan Helen, tapi semakin melanjutkan aksinya.


Beberapa menit kemudian, Helen selesai memasak omurice seperti yang ia inginkan. Ia menarik nafasnya pelan sebelum akhirnya menyentak Elvan agar menjauh darinya.


Elvan mengerucutkan bibirnya melihat Elvan yang sibuk dengan kegiatannya.


"Sayanggg.." Suara Elvan yang terdengar seperti rengekan membuat Helen memutar bola matanya.


"Udah ah." Kesal Helen sambil menatapnya tajam.


Dengan kesal Elvan mendudukkan dirinya kemudian memperhatikan Helen yang berjalan kesana kemari menyiapkan perlengkapan sarapan mereka. Melihat itu rasa kesal Elvan jadi menguap digantikan dengan rasa bahagia yang kian membuncang. Moment seperti ini kembali lagi ia rasakan. Sarapan pagi dengan istri tercinta.


Setelah semuanya siap, Helen mempersilahkan Elvan untuk menyantap makanannya. Dengan senang hati, Elvan melahap makanan yang ada dipiringnya, yang baru saja Helen isi dengan menu sarapan pagi ini.


"Nanti sore kita jalan-jalan yuk." Ajak Helen di sela suapannya. Menatap Elvan dengan penuh harap.


Mendengarkan ajakan Helen membuat Elvan menghentikan suapannya. Ia terdiam beberapa saat hingga akhirnya menjawab ajakan Helen dengan senyum tipisnya.


"Nanti sore aku udah ada janji. Besok aja ya." Setelah mengucapkan itu, Elvan kembali melanjutkan makannya.


Helen mengulum senyumnya setelah mendengar penolakan Elvan. Jadi seperti ini akhirnya? Sesuai dugaan!


Janjian sama Alexa kan? Ingin rasanya Helen bertanya demikian. Namun, semuanya ia tahan. Helen tidak ingin merusak acara makan pagi ini hanya karena hal bodoh yang kini membuatnya muak.


"Ya udah besok aja." Helen kembali menyuap nasinya. Sesekali ia menatap Elvan yang juga berulang kali menatapnya. Helen membalas senyuman pria itu saat Elvan melemparkan senyum manis ke arahnya.

__ADS_1


Semakin ke depan, Helen merasa cintanya semakin besar untuk suaminya itu.


Bersambung...


__ADS_2