My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 27


__ADS_3

Di pagi hari, sebelum matahari menampakkan dirinya, Helen sudah bangun dari tidurnya. Ia melihat kea rah samping dan menatap kosong ranjang disebelahnya. Helen menggeleng saat pemikiran buruk tentang Elvan melintas di pikirannya.


“Apa malam ini dia tidak pulang?” tanya Helen entah pada siapa.


Helen mengkuncir rambutnya lalu membersihkan diri di kamar mandi.


Beberapa menit, kemudian, Helen sudah selesai mandi dan melaksanakan sholat subuh. Saat ini, ia sedang berkutat dengan masakannya. Helen merasa senang saat melihat bahan-bahan masakan yang sudah lengkap di kulkas. Jadi ia tidak perlu lagi pergi ke pasar untuk membeli bahan masakan. Helen sangat yakin pasti semua ini Mama mertuanya lah yang menyiapkan, tidak mungkin Elvan yang melakukan ini semua, melihat wajah Helen saja dia enggan apalagi peduli dan menyiapkan semua ini.


Pagi ini, Helen memasak makanan yag dulu sering ia buat bersama Mamanya, nasi goreng special. Helen sudah menyajikan dua piring nasi goreng di meja makan. Helen duduk di kursi menatap nasinya, bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Memilih makan sendirian atau menunggu Elvan pulang dan mereka akan sarapan bersama.


“Sepertinya dia gak akan pulang.” Lirih Helen. Ia yakin kalua Elvan tidak akan pulang pagi ini. Jadi, ia memilih untuk sarapan sendirian. Seumur hidup baru kali ini ia merasa sedih saat sarapan. Baru kali ini, ia sarapan sendirian tanpa ditemani siapa pun.


Pukul 08:30 WIB, Helen sudah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah. Helen bersyukur dulu ia belajar dengan Mamanya mengerjakan semua pekerjaan perempuan. Jadi, saat ini ia tidak perlu khawatir bagaimana caranya mengerjakan semua itu. Helen duduk di sofa empuk yang menghadap ke arah TV yang sedang menyala sambil memijit kaki yang pegal.


Apartement tersebut memang jarang ditempati Elvan sehingga terdapat banyak debu yang menempel di sudut ruangan dan perabotan. Helen menghentikan pijitan kakinya saat suara langkah kaki terdengar memasuki Apartement, hingga suara itu semakin jelas dan Helen mendapati Elvan yang berjalan tidak jauh darinya. Helen terkejut saat melihat penampilan Elvan yang sangat berantakan, tidak biasanya pria itu seperti itu. Helen berdiri dari duduknya lalu menghampiri Elvan.

__ADS_1


“Elvan, wajah lo kenapa?” tanya Helen yang berdiri dihadapan Elvan.


Ia melihat wajah Elvan yang lebam di beberapa sisi.


Elvan diam. Ia hanya menatap Helen datar sambil memperbaiki letak jaket yang ada di bahu kirinya.


“Elvan, lo dari mana? Kenapa tadi malam lo gak pulang? Ini kenapa wajah lo jadi kayak gini?” tanya Helen beruntun lalu berusaha menyentuh pinggir mata Elvan yang membiru.


“Jangan sentuh gue!” larang Elvan penuh penekanan sambil menepis kasar tangan Helen yang hendak menyentuhnya.


“Tapi wajah lo kenapa?” tanya Helen lagi. Ia hanya ingin Elvan menjawab salah satu dari pertanyaannya.


“Bukan urusan lo!” balas Elvan cuek lalu meninggalkan Helen yang berdiri sembari menatap punggungnya sedih.


Helen bergegas mematikan TV lalu mencari kotak P3K di dapur.

__ADS_1


Setelah mencari di berbagai tempat, akhirnya Helen menemukan kotak tersebut di dalam lemari berwarna putih. Helen tersenyum senang saat menemukan kotak itu. Setelah itu, Helen mengambil segelas air hangat kemudian melangkah ke kamar besama air dan kotak P3K di tangannya. Helen menekan handel pintu dengan salah satu sikunya lalu memasuki kamar. Ia mendengar suara gemercik air yang berada dari kamar mandi. Helen menyimpan segelas air yang di tangannya di atas nakas lalu duduk di tepi ranjang dengan masih memegang kotak P3K. Ia melihat jaket Elvan yang berwarna hitam terletak asal di atas ranjang. Helen meraih jaket tersebut dan hidungnya langsung mencium bau alkohol. Helen membolak-balik jaket itu dan tanpa sengaja menyentuh bagian yang basah. Dengan melihat jaket yang basah karena alkohol itu, Helen menyimpulkan kalau Elvan tadi malam berada di club.


Elvan yang baru keluar dari kamar mandi melihat Helen yang memegang jaketnya. Ia berjalan cepat ke arah Helen dan langsung merampas jaket tersebut. Lamunan Helen buyar saat bahunya di dorong kasar dan jaket di tangannya di rampas tiba-tiba.


"Elvan." Helen menatap Elvan khawatir.


Elvan berdiri di hadapan Helen dengan menatap tajam gadis itu.


"Kenapa lo sentuh jaket gue? Lo ngerencanain sesuatu kan?" Tubuhnya tanpa sebab.


"Bu- bukan gitu." Helen berdiri sambil memegang kotak P3K yang di tangannya.


"Apa? Lo gak suka kalau gue mabuk-mabukan? Gue gak peduli? Itu bukan urusan lo!" Ucap Elvan tajam.


"Gue cuma mau ngobatin luka lo aja. Nanti bisa infeksi kalau lama diobati." Ujar Helen dengan suara yang sedikit ketakutan. Entah mengapa ia merasa asing dengan situasi seperti ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2