
Happy Readingđź’–
Helen refleks menjauhkan tangannya dari lengan Elvan saat mendapat tatapan penuh selidik dari Ella. Gadis itu cengengesan tidak jelas sembari mengulum bibirnya tipis.
Tidak ada yang membuka suara membuat Ella menghela nafas sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Mampus gue, Helen merutuki dirinya. Bisa-bisanya ia melakukan hal bodoh seperti itu di depan Ella. Bisa-bisa sahabatnya itu curiga kepada dirinya.
Helen melirik Elvan yang berdiri di sampingnya seakan meminta pria itu untuk membantunya. Tatapan mereka bertemu, seolah jantungnya berhenti berdetak, Helen menahan nafasnya saat mendapati wajah Elvan yang kaku, mata tajam pria itu menatapnya seakan ingin menusuknya dan rahang pria itu tampak mengeras. Semua ini salahnya, Helen menatap Elvan dengan tatapan menyesal. Ekspresi Elvan sudah cukup menggambarkan jika pria itu sedang marah besar kepadanya. Helen menunduk tidak berani menatap Ella yang berdiri di depannya.
"Jawab dong. Gue penasaran sama kalian." Ella menepuk pundak kanan Helen. Namun yang di tepuk masih menundukkan kepalanya.
"Apa jangan-jangan..." Ella menggantung perkataannya seakan menunggu respon dari Helen.
__ADS_1
Nggak, Ella gak boleh tau. Ya Allah, kenapa harus secepat ini. Hamba janji gak akan bohong lagi, tapi tolong jangan sekarang. Hamba belum siap jika Ella mengetahui hubungan ini. Biarkan Hamba yang akan menjelaskan semuanya.. tapi beri Hamba waktu ya Allah, ujar Helen dramatis. Ia memejamkan matanya, berdoa dalam hati semoga Allah masih memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada Ella walaupun itu tidak untuk saat ini.
Tidak jauh berbeda dengan Helen, Elvan dan Virgo juga merasakan hal sama. Jantung mereka terpacu dengan cepat. Terutama Elvan, hembusan nafasnya terdengar jelas dengan dadanya yang tampak kembang kempis menghadapi situasi seperti ini. Ia benci, seharusnya dari awal ia tidak membiarkan Helen menyentuh lengannya. Seharusnya ia tidak membiarkan Helen selangkah lebih maju mendekati dirinya, ini salahnya.
Saat akan mengeluarkan alasan yang masuk akal mengenai dirinya Helen. Suara Ella menghentikan suara Elvan yang bahkan belum keluar.
"Kalian pacaran? Bener, kalian pacaran?" Tebak Ella yang sedikit membuat Helen bisa bernafas.
Elvan melirik Helen, begitu pun dengan Virgo. Kekasih Ella tersebut tersenyum tipis mendengar perkataan kekasihnya. Bisa-bisanya kekasihnya itu memikirkan hal yang demikian. Virgo menggeleng melihat tingkah Ella yang memaksa Helen untuk mengeluarkan suaranya.
"Huuffttt.." Ella menghela nafas.
"Oke.. kalian sepertinya emang bukan pacaran. Tapi, gue tunggu kabar perubahan status kalian." Ella tersenyum lembut menatap sahabatnya. Namun ketika mata itu bersitatap dengan Elvan, ada raut kecewa yang sempat terlintas.
__ADS_1
Helen menampakkan deretan gigi putihnya menanggapi celotehan Ella.
Oke La, gue bakalan kasih tau lo status yang sesungguhnya, batin Helen penuh keyakinan.
"Yang, laper..." seakan ingin menghentikan ketegangan ini, Virgo merengek sambil menggoyang-goyangkan lengan Ella.
"Oiya, gue lupa kalau tadi kita mau cari sarapan, ayo..!" Ella menarik Virgo yang sedang dalam mode manjanya.
Tinggal lah Elvan dan Helen yang berdiri berdampingan.
"Ini peringatan pertama dan terakhir gue, kalau sampai Ella tau hubungan ini, lo bakalan habis di tangan gue." Ancam Elvan dengan penuh penekanan lalu beranjak meninggalkan Helen.
"Ini peringatan pertama dan terakhir gue, kalau sampai Ella tau hubungan ini, lo bakalan habis di tangan gue." Ujar Helen mengulangi perkataan Elvan dengan mengikut nada dan suara Elvan yang mendesis. Tersirat nada mengejek pada suaranya. Helen meleletkan lidahnya ke arah Elvan yang berjalan di depannya.
__ADS_1
"Sok keras lu, untung suami." Helen melangkah, menyusul ketiga orang yang telah pergi meninggalkannya.
TBC