
Dua bulan kemudian,
Langit masih gelap, awan masih tampak hitam. Rembulan sudah mulai turun. Azan subuh sudah berkumandang beberapa menit yang lalu. Hari ini, Helen sudah terbangun dari tidurnya saat rasa mual tiba-tiba merenggut tidur nyenyaknya.
Di dalam kamar mandi, Helen berdiri di depan wastafel dan memuntahkan cairan bening yang terasa pahit di lidahnya. Perutnya terasa melilit, padahal ia tidak sedang menstruasi.
Helen menyeka air yang lengket di mulutnya. Tidak ada makanan yang keluar kecuali cairan bening yang terasa pahit.
Ruangan yang tidak terlalu besar itu terasa berputar saat Helen mencoba menegakkan tubuhnya. Kepalanya terasa pusing. Rasanya ingin pecah dan sangat menyakitkan.
Dengan susah payah, Helen membersihkan mulutnya dengan air yang mengalir dari kran. Sesuatu kembali terasa ingin keluar dari dalam perutnya. Helen menangis, ia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Rasanya sangat asing dan menyakitkan.
Helen tidak makan kemarin malam, padahal Elvan sudah membujuknya untuk makan. Elvan bahkan membawakan makan malamnya ke kamar mereka. Tapi, sedikitpun tidak ia sentuh. Selera makannya berkurang. Kemarin malam ia tidak ingin memakan apapun. Helen hanya ingin tidur, tidur lebih cepat dari biasanya.
Helen menahan gejolak yang menghantam perutnya. Sudah jatuh malah tertimpa tangga, seperti itulah yang Helen rasakan. Perutnya sudah sangat sakit, kini pusing ikut menyerangnya.
Helen menatap pintu kamar mandi. Ingin rasanya ia berteriak untuk membangunkan Elvan. Tapi tenaganya tidak cukup, semua tenaga yang ia punya lenyap dibawa air yang keluar dari mulutnya. Helen mencoba berteriak. Namun, yang keluar hanyalah rintihan yang tidak akan mampu membangkitkan Elvan. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Helen mencoba melangkahkan kakinya. Walau berat, Helen tetap mencoba, ia ingin membangunkan Elvan dan meminta suaminya itu untuk membawanya ke rumah sakit.
Satu langkah.
__ADS_1
Dua langkah.
Helen mati-matian menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak tumbang.
Di langkah yang ketiga, Helen terjatuh ke lantai kamar mandi yang dingin. Tubuhnya tergeletak lemas. Wajahnya yang sejak tadi malam sudah pucat kian bertambah pucat pagi ini. Tubuhnya menggigil merasakan lantai yang lembab dan dingin. Perlahan kesadaran Helen direnggut paksa oleh hitamnya kegelapan. Wanita itu pingsan tanpa seorang pun yang tahu.
Elvan bergerak gelisah di atas tempat tidur. Silau matahari membuatnya tidak nyaman untuk kembali melanjutkan tidur. Tanpa melihat jam yang berada di dinding kamar, Elvan berniat kembali memejamkan matanya. Tapi buat itu ia urungkan saat tangannya meraba tempat di sampingnya. Kosong, Elvan menyikap selimutnya lalu mendudukkan diri dan bersandar di punggung ranjang.
Awalnya Elvan ingin mencari Helen, tapi niatnya kembali ia urungkan saat melihat jam dinding yang berada di tempatnya.
07.30 WIB
Pantas saja istrinya sudah tidak tidur di sampingnya. Hari sudah cerah dan silau, Helen pasti sudah bangun dan sedang memasak sarapan untuk mereka. Elvan merenggangkan otot-ototnya, tubuhnya terasa kaku. Mungkin karena sudah jarang berolahraga atau mungkin karena terlalu lama tidur. Elvan kembali melirik jam dinding. Ia merasa malas untuk berangkat ke kantor hari ini. Elvan ingin menghabiskan waktu hari ini bersama Elvan. Tapi, apakah bisa? Ia sudah terlalu sering bolos kerja sehingga tugas-tugasnya semakin menumpuk. Apalagi, hari ini ia ada pertemuan penting dengan salah satu pengusaha kaya yang berasal dari German.
Elvan melangkah cepat menghampiri Helen. Diangkatnya kepala Helen lalu ia letakkan diatas pahanya.
"Helen, sayang." Elvan masih belum mengerti apa yang terjadi dengan istrinya itu. Ia masih syok mendapati keadaan istrinya yang seperti ini. Bukankah Helen sedang memasak di dapur? Elvan berusaha untuk fokus.
"****!" Elvan salah. Helen tidak sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Istrinya itu sudah pingsan sejak sejam yang lalu.
__ADS_1
"Helen!" Elvan menepuk-nepuk pelan pipi Helen, berusaha menyadarkan istrinya.
"Helen, kamu denger aku kan? Tolong buka matamu." Elvan ketakutan.
Helen tidak kunjung bangun. Sebesar dan sekeras apapun ia meneriaki nama Helen, istrinya itu tidak juga bangun. Elvan gelisah. Hawa kamar mandi yang dingin, seketika berubah gerah saat otaknya menemukan jawaban, istrinya sedang pingsan. Elvan tidak tahu entah sudah berapa lama Helen pingsan, tapi saat melihat dan merasakan bagaimana pucat dan dinginnya tubuh istrinya, ia menyimpulkan Helen pingsan sudah lumayan lama.
"Sayang, sabar sebentar ya. Kita ke rumah sakit sekarang." Dengan cepat Elvan membawa tubuh Helen yang tak berdaya keluar dari rumah. Sebelumnya, ia menyambar kunci mobil yang ada di atas laci dan memakaikan istrinya jaket tebal lebih dulu.
Elvan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia gelisah, cemas dan khawatir. Sesekali Elvan menoleh ke belakang melihat Helen yang belum sadarkan diri.
"Sayang, please bangun. Jangan buat aku khawatir." Suara Elvan terdengar sedih saat ia melihat wajah Helen seakan tak berdarah.
Elvan tidak lagi memperdulikan teriakan dan makian pengguna jalan yang lain karena ia menyelinap dan hampir menabrak beberapa mobil dan motor yang melaju di depannya. Keselamatan Helen adalah prioritas pertamanya.
Sekitar 15 menit kemudian, mobil yang dikendarai Elvan telah sampai di depan rumah sakit. Pria itu langsung berteriak memanggil dokter untuk menyelamatkan istrinya. Elvan meletakkan tubuh Helen di atas brangkar yang dibawa oleh beberapa perawat yang datang menolongnya. Elvan bersama tiga perawat lainnya membawa Helen ke dalam UGD.
Elvan tidak diperbolehkan masuk. Ia hanya boleh menunggu di luar ruangan. Menanti dokter yang menangani Helen keluar dari ruangan itu dan memberinya kabar adalah hal yang sulit Elvan lakukan. Lebih menegangkan dari pada meeting besar yang ia lakukan bersama beberapa perusahaan lainnya.
Ingin rasanya Elvan menerobos masuk dan meneriaki siapa saja yang ada di dalam sana. Waktu terasa lambat. Elvan semakin tidak sabar untuk menghajar dokter yang menangani Helen karena lama memberi informasi kepadanya. Elvan butuh kabar baik Helen secepatnya. Ia tidak tahan menanti tanpa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Elvan bersandar di dinding sambil menunggu pintu itu terbuka. Sudah lebih setelah jam sejak ia tiba di rumah sakit. Elvan mengusap rambutnya dengan kasar. Jangan lupakan dirinya yang sedari tadi menarik perhatian banyak orang yang berlalu di koridor rumah sakit itu. Dengan wajahnya yang tampan saja, Elvan selalu sukses membuat orang terperangah ketika melihatnya. Apalagi saat ini, ia sedang mengenakan piyama tidur bermotif frozen milik Helen. Hal itu semakin membuat orang yang melihatnya jadi senyum-senyum sendiri. Jangan kalian sangka itu senyuman mengejek. Tidak, orang-orang itu, apalagi kaum hawa merasa Elvan sangat imut. Wajah bantalnya yang masih sangat jelas terlihat dan rambut acak-acakannya membuat mereka harus menggigit bibir. Jangan lupakan dua kancing atas piyamanya yang kini terbuka.
Elvan menunduk, melihat pakaian yang dikenakannya. Ia kembali menyapu wajahnya dengan kasar. Elvan terkekeh geli, bisa-bisanya ia lupa mengganti pakaiannya. Elvan kembali mengingat bagaimana pemaksanya Helen saat menyuruhnya memakai piyama itu. Dengan berat hati akhirnya Elvan mau menuruti Helen, kalau tidak, ia akan tidur di luar tadi malam seperti beberapa malam yang lalu.