
*** Di pagi hari ***
Sepasang suami istri itu masih tidur dengan saling berpelukan. Elvan memeluk erat pinggang Helen yang terasa pas di tangannya. Dagunya bertumpu pada puncak kepala Helen. Wangi rambut Helen yang menenangkan membuat tidur Elvan menjadi lebih nyenyak. Begitu pun dengan Helen, lengannya juga masih memeluk tubuh kekar Elvan. Kaki jenjangnya di lilit oleh kaki Elvan, namun hal itu tidak membuat tidurnya terganggu. Tadi malam sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, Helen tersenyum saat Elvan memeluk tubuh Helen. Wajah Helen tepat berhadapan dengan dada bidang Elvan. Keningnya pun sudah menempel di dada bidang pria itu. Sungguh luar biasa kedua ciptaan Tuhan ini. Mereka sangat cocok jika dalam keadaan tidur maupun tidak. Malam ini mereka benar-benar terlihat seperti pasangan pada umumnya.
Matahari sudah mulai timbul dan memancarkan sinarnya. Secara perlahan cahaya mulai masuk ke dalam kamar pengantin baru itu melalui sela-sela gorden. Hembusan angin di pagi hari membuat tirai jendela di kamar itu bergerak. Menit-menit terus berlalu hingga cahaya matahari semakin cerah dan menerpa wajah pasangan pengantin yang masih tertidur pulas.
Elvan yang merasa silau dengan cahaya pagi itu mulai membuka matanya secara perlahan. Mata itu akhirnya terbuka penuh dan berapa terkejutnya ia saat melihat Helen yang berada di dekapannya. Refleks Elvan langsung mendorong tubuh Helen kuat agar lepas dari dirinya.
Bukkk..
"Aawww.."
Helen memekik kuat saat tubuhnya bersentuhan dengan lantai dan kepalanya membentur kaki nakas dengan kuat. Helen yang awalnya tidur pulas langsung membuka matanya saat rasa sakit menyerang tubuh dan kepalanya.
__ADS_1
"Shiiit.." umpatnya sambil memegangi kepalanya dengan mata yang masih terpejam.
Ia masih tergeletak di lantai sembari mengumpulkan kesadarannya. Rasanya ini semua terlalu cepat. Ia mengutuk perbuatan Elvan yang amat tercela itu.
Helen mengerjap-ngerjapkan matanya dan berusaha untuk duduk. Ia mengusap wajahnya kasar sembari berdiri mengarah ranjang. Ditatapnya Elvan tajam sembari menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar. Ingin rasanya ia menangis histeris dan menyumpah serapahi suaminya itu.
Elvan balik menatap Helen tajam. Terjadi tatapan yang sengit diantara mereka berdua.
Elvan menatap Helen mengintimidasi.
"Lo sengaja kan?" Tanya Elvan balik, mengabaikan kemarahan Helen yang tercetak jelas di wajahnya.
"Maksud lo apa?" Helen tidak mengerti dengan perkataan Elvan.
__ADS_1
"Lo sengaja peluk gue biar gue peluk lo balik kan? Lo itu emang gak tau malu ya, masih mending lo gue biarin tidur di ranjang ini tapi lo malah ngambil kesempatan. Ini terakhir kalinya lo tidur disini!" Ucap Elvan tajam.
Helen menganga.
"Ini juga kamar gue, jadi gue berhak tidur disini." Helen tidak terima dengan perkataan Elvan.
"Terserah!" Elvan beranjak dari ranjang mengabaikan Helen yang terus membantah ucapannya.
Helen mendengus kesal melihat Elvan yang berlalu ke kamar mandi. Diusapnya kepala yang terasa berdenyut. Setelah merasa sakit di kepalanya sedikit berkurang. Helen menguncir rambutnya asal lalu membereskan ranjang. Helen menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup. Elvan masih di dalam, jadi Helen memutuskan untuk membersihkan kamar mereka lebih dulu lalu membersihkan diri setelah Elvan keluar nanti.
BERSAMBUNG..
Jangan lupa di like, komen, vote ya teman-teman. Terima kasih 🙏❤
__ADS_1