My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 107


__ADS_3

Elvan terdiam kaku di tempatnya. Jawaban apa yang harus ia berikan? Ia sendiri tidak tau dengan perasaannya saat ini. Tapi jika di ingat-ingat, Elvan merasa dirinya sudah mulai menerima Helen. Bahkan, sesudah malam itu, Elvan pernah berkata pada dirinya sendiri jika ia akan menjadikan Helen sebagai satu-satunya istri yang pantas untuk ia perjuangkan.


Di samping Elvan, Helen berdiri dengan perasaan gelisah. Menunggu jawaban Elvan yang belum pasti mencintainya membuat Helen merasa takut, takut jika dirinya kalah dari Alexa dan takut jika jawaban Elvan akan membuatnya sakit hati.


Helen berjanji, jika Elvan memberi jawaban yang menyatakan jika pria itu tidak mencintainya, maka Helen bertekat untuk pergi dari kehidupan suaminya itu. Walaupun begitu, besar harapannya agar Elvan mengatakan kalau ia mencintai dirinya.


Elvan dan Helen saling tatap dalam kebisuan hingga beberapa saat. Lalu Elvan beralih menatap Alexa.


"Aku cinta dengan istriku." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Elvan. Setelah mengatakan itu, Elvan kembali menatap Helen yang kini juga sedang menatapnya dengan tatapan yang berbinar.


Darah Helen seakan berdesir mendengar pengakuan Elvan. Benarkah apa yang ia dengar barusan? Ingin rasanya Helen sujud syukur saat ini juga. Akhirnya, Helen tidak perlu menepati janjinya tadi. Semua usaha dan kesabarannya telah berhasil mendapatkan hati Elvan. Jika sekarang ia berada di kamar, sudah pasti ia akan melompat-lompat gembira di atas ranjang.


Alexa menggeleng kuat saat mendengar pengakuan Elvan. Matanya yang berkaca-kaca menatap Elvan dengan sedih. Tidak ada lagi orang yang mencintai dirinya di dunia ini.


“ENGGAK! KAMU GAK BOLEH JATUH CINTA SAMA PEREMPUAN INI.”


“Aku gak rela kalau kamu jadi milik orang lain, hikss… hikss..” Alexa merancau dengan suara paraunya.


Elvan menatap Alexa dengan perasaan yang bersalah.


Bukan hanya Alexa yang terluka, Daniel juga sama. Fakta yang baru ia ketahui sungguh mengejutkan. Gadis yang ia cintai ternyata sudah bersuami. Hatinya sungguh sakit. Harapannya sudah sirna untuk mendapatkan Helen, padahal hari awal ia sungguh-sungguh ingin serius menjalin hubungan dengan gadis itu. Tanpa ada satu pun yang menyadari, Daniel beranjak dari tempatnya meninggalkan rumah Helen dengan perasaan hancur. Entah mengapa rasanya sungguh sakit seakan ditinggal pacar selagi sayang-sayangnya.


"Lo! Lo gak berhak jadi istrinya Elvan. Kenapa harus dia? Kenapa harus Elvan yang jadi suami lo? Kenapa harus dia? Hikss..." Alexa menatap Helen dengan sengit.


"Hikss.. cuma Elvan yang gue punya di dunia ini, cuma dia yang bisa bikin gue bahagia. Tapi kenapa dengan mudahnya lo jadi istri dia sementara gue harus susah payah biar bisa ketemu sama dia lagi?!" Bentak Alexa dengan tangannya yang bergerak maju hendak mencakar wajah Helen.

__ADS_1


Melihat itu, Elvan lantas maju guna melindungi Helen agar jauh dari jangkauan Alexa.


"Awas! Aku harus habisin perempuan itu karna udah berani rebut kamu dari aku!" Alexa menatap marah Elvan yang menghalangi jalannya.


"Aku bilang awas! Lepasin tangan aku!" Pekik Alexa sembari berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Elvan.


"Enggak akan sebelum kamu diam dan tenangin diri." Ujar Elvan dingin. Elvan menatap Alexa dengan tajam, ia pikir wanita itu sudah berubah dengan segala sifat buruknya.


"Lo udah denger kan kalo Elvan bener-bener cinta sama gue? Jadi sekarang, silahkan lo pergi dari rumah ini." Bentak Helen.


Alexa tertawa sumbang disela tangisannya. Akal sehatnya sudah kembali seperti semula sehingga dirinya sudah lebih tenang.


"Lo gak akan bisa milikin Elvan seutuhnya. Karena cepat atau lambat Elvan pasti jadi milik gue lagi." Sinis Alexa dengan nada yang meremehkan.


"Oh jelas! Karna gak lama lagi Elvan akan jadi ayah dari anak yang mungkin sebentar lagi akan tumbuh di rahim gue." Alexa menyeringai tajam.


Di tempat mereka berdiri, Elvan dan Helen sama-sama terdiam kaku.


"Maksudnya? Lo--."


"Iya. Elvan udah sentuh gue dan sebentar lagi gue akan hamil anaknya dia, haha..." Alexa dengan cepat memotong perkataan Helen.


Elvan yang mendengar itu langsung menyentak lengan Alexa.


"APA-APAAN KAMU? AKI GAK PERNAH SENTUH KAMU SEDIKIT PUN!" Bentak Elvan dengan tatapan membunuhnya.

__ADS_1


"Udah lah sayang, kamu ngaku aja. Kita gak perlu berlindung dari istri kamu ini. Toh, kamu juga seneng kan karena udah bisa milikin aku seutuhnya?" Alexa maju lalu meraih tangan Elvan yang dibalas dengan sentakan keras oleh pria itu.


"Berani-beraninya kamu fitnah aku! Apa maksud kamu sebenarnya? Kamu minta tolong supaya aku bawa kamu kembali ke Indonesia dan aku bantuin kamu."


"Kamu minta tolong untuk tinggal di rumah aku karena kamu gak punya tempat tinggal! Dan lagi-lagi permintaan kamu aku penuhi. Tapi apa? Ini balasan kamu ke aku? Kamu fitnah aku dengan semua kebaikan aku, hah!" Nafas Elvan naik turun menahan emosi yang sudah memuncak. Berani-beraninya Alexa menuduh dirinya yang tidak-tidak.


"Awalnya emang benar kalo aku pergi ke Finland untuk nolongin kamu dari mafia gila itu. Aku pikir aku masih cinta sama kamu, aku pikir aku akan sangat bahagia kalau ketemu sama kamu lagi. Tapi nyatanya, semua itu salah, perasaan aku, hati aku bahkan bereaksi biasa aja saat ketemu kamu lagi untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun lalu." Elvan menatap Alexa lekat.


"Tapi itu emang bener, kamu udah nyentuh aku dua malam yang lalu." Ujar Alexa sekali lagi. Semakin menambah ketegangan suasana.


Plak!


Seketika itu juga wajah Alexa berpaling ke samping. Rasa panas menjalar di pipi kirinya.


"Sekali lagi aku dengar kamu ngomong kayak gitu, aku gak akan segan-segan buat ngusir kamu saat ini juga." Bentak Elvan dengan tatapan marah.


Mengabaikan ancaman Elvan, Alexa beralih menatap Helen yang kini sudah meneteskan airnya kembali. Bahkan, tatapan gadis itu terlihat kosong. Helen merasa dunianya hancur saat mendengar ucapan Alexa barusan. Mengapa Elvan tega menghianatinya? Jika pria itu benar-benar mencintainya mengapa ia melakukan hal keji itu bersama Alexa?


Helen berdiri kaku di tempatnya. Rasa bahagia karena pengakuan cinta Elvan tadi sudah hilang digantikan dengan perasaan sakit dan sedih yang lebih besar dari sebelumnya.


Haruskah ia menyerah saat ini? Setelah semua perjuangan cintanya, haruskah ia merelakan Elvan di saat pria itu sudah mengakui cintanya?


Elvan menggeleng kuat saat Helen menatapnya dengan tatapan yang menyiratkan kekecewaan. Istrinya itu benar-benar harus mendengarkan penjelasan yang sesungguhnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2