My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 84


__ADS_3

Sepeninggalan Dr. Hendri, Elvan kembali menaiki ranjang dan duduk di sebelah Helen. Ditangannya kini ada kain basah yang sudah di remas yang sebelumnya tadi ia celupkan ke dalam rendaman air es.


Elvan meletakkan kain putih tersebut ke atas kening Helen yang masih terasa panas.


Entah apa yang sedang Elvan rasakan saat ini, yang pasti jauh di dalam hatinya sedikit tidak tega melihat Helen lemah seperti ini. Gadis yang biasanya banyak bicara itu, kini diam seribu bahasa. Bahkan, sekedar untuk membuka matanya pun tidak bisa.


Elvan menatap wajah Helen yang kini sudah kembali berwarna. Tidak seperti tadi, putih pucat. Elvan sesekali mengusap kepala gadis itu dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi pipinya. Ia juga berulang kali mengganti kompresan di kening Helen.


Elvan melirik jam yang berada di atas dinding. Sudah waktunya makan malam, namun Helen tidak kunjung membuka matanya. Elvan yang kini sudah merasa lapar memutuskan pergi ke dapur dan menyiapkan makan malamnya sendiri. Ia juga berinisiatif untuk membuatkan Helen semangkuk sup.


Dibekali kepandaian memasak yang tidak seberapa, Elvan akhirnya selesai menyantap makan malamnya. Ia juga telah menyiapkan semangkuk sup hangat untuk ia bawa kehadapan Helen.


Entah bagaimana reaksi gadis itu nantinya saat melihat Elvan membawakan semangkuk sup untuk dirinya. Mungkin seperti biasa, ia akah bertingkah layaknya gadis centil yang selalu menggoda Elvan. Hal yang selalu tidak Elvan sukai.


Helen mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke pupil matanya. Rasa sakit seketika menjalar di kepalanya saat ia membuka mata. Setelah berhasil menyesuaikan cahaya yang menerobos penglihatannya, Helen menoleh ke sekelilingnya memperhatikan ruangan yang sangat ia kenali itu.


Rupanya ia telah berada di kamar. Helen seketika ingat bagaimana rangkaian peristiwa yang terjadi pada dirinya hari ini. Mulai dari kesialannya di kantor, mobilnya yang tiba-tiba saja mogok lalu ia mandi hujan demi menyelamatkan seekor kucing, oh god! Di mana kucing itu sekarang? Dan bertemu seorang teman lama yang bernama Meidi, sampai akhirnya ia tiba-tiba pingsan saat diperjalanan pulang.


Helen seketika tersentak saat menyadari sesuatu yang berbeda dari dirinya. Oh, no! pakaiannya sudah berganti. Tapi siapa? Helen mematung sesaat setelah ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya.


Sedetik kemudian, senyum devil terukir di bibirnya yang masih tampak sedikit pucat. Helen kembali menyelimuti tubuhnya lalu terkikik geli membayangkan Elvan yang mengganti pakaiannya tadi. Tapi… ada yang salah. Kenapa dia seperti Wanita yang tidak memiliki urat malu?

__ADS_1


Tidak dapat dipungkiri jika Helen merasakan ada suatu kelainan pada dirinya.


Ceklek!


Helen tau siapa gerangan yang kini membuka pintu kamar itu. Nafasnya seketika terasa berhenti saat melihat wujud pria yang ia tunggu-tunggu dari tadi. Saat tatapan mereka bertemu, Helen tersenyum lembut menatap manik mata Elvan yang kini menatapnya datar.


Senyum yang menyiratkan arti tersendiri itu membuat Elvan bergidik ngeri. Apalagi tadi dia… ah, tidak dapat dijelaskan. Tidak! Elvan sangat ingat! Bahkan sangat ingat ketika tangannya tersentuh bagian tersebut, rasanya sangat lembut dan kenyal, mungkin? Elvan merasakan wajahnya memanas jika mengingat hal itu. Untung saja dia pria yang sangat lihai mengatur ekspresinya. Jadi, ia tidak perlu khawatir jika dirinya akan tertangkap basah oleh Helen karena telah blushing. Tidak akan!


“Apa itu?” Helen menatap lekat mangkuk yang berada di tangan Elvan.


“Sup.”


“Kamu yang masak?” tanya Helen lagi. Kali ini perhatiannya telah berpindah menatap wajah suaminya.


“Baru bangun?” Elvan menarik bangku yang terletak di depan cermin hias ke samping ranjang Helen.


“Iya. Bisa gak sih kalo bicara itu jangan terlalu kaku. Aku-kamu gitu, kan kita udah buat perjanjian gak boleh pakai lo-gue lagi. Kamu masih ingat kan?” Helen memanyunkan bibirnya kesal.


“Masih.”


Helen mendengus kesal. Tidak ada perubahan!.

__ADS_1


“Sup itu untuk aku kan?” Helen melirik sup yang kini berada di atas nakas.


Elvan seketika tersentak dari ketegangannya. Ia baru ingat jika niat awalnya ke kamar ini untuk mengantarkan sup tersebut. Pikirannya tidak bisa lepas dari benda lembut tadi, ck!


Elvan hanya bisa berdehem lalu meraih sup itu kembali dan menyerahkannya kepada Helen.


“Makan.”


“Ck, gak mau. Aku gak mau makan kalau bukan kamu yang suapin.” Helen bersedekap dada.


“Makan.” Suruh Elvan lagi, mengabaikan celotehan gadis itu.


“Gak mau.” Tekan Helen.


“Punya tangan kan? Makan sendiri. Gue banyak kerjaan.” Tegas Elvan lalu beranjak dari duduknya.


“Jangan pakai kata gue lagi, Sayang.” Ujar Helen dengan sedikit penekanan. Namun, Elvan hanya menganggapnya bagaikan angin lalu.


“Iiiih…! Aku masih sakit tau! Kamu mah pedulinya cuma sama berkas-berkas kamu itu aja. Yang sakit itu aku, bukan kertas-kertas itu.” Pekik Helen kesal. Tidak dapat dipungkiri jika saat ini masih merasa sakit di bagian kepalanya. Tidak taukah suaminya itu jika saat ini Helen sangat membutuhkan dirinya? Suaminya itu selalu saja menghabiskan waktu untuk bekerja, kerja, dan kerja. Kapan berubah?


"Kalau kamu gak mau nyuapin aku makan, aku akan bilang ke Mommy semua perlakuan kamu ke aku." See? Berhasil!. Elvan langsung membalikkan tubuhnya lalu menatap Helen tajam. Yang ditatapnya malah hanya tersenyum mengejek dan menyuruh Elvan agar kembali mendekat kepadanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2