
Happy Readingđź’–
Elvan memasuki kamar dimana di dalamnya sudah ada Helen yang baru saja keluar dari kamar mandi. Elvan memperhatikan tubuh Helen yang kini sudah dibalut gaun tidur. Sexy dan tentunya menggoda. Elvan yang berdiri kaku di ambang pintu baru menyadari betapa indahnya tubuh ciptaan Tuhan tersebut. Kemana saja ia selama ini hingga sekarang ia baru menyadari hal tersebut? Akh! Elvan merutuki dirinya yang telah menyia-nyiakan keagresifan Helen dulu.
Andai saja dulu ia tidak dibutakan oleh cinta masa lalunya, pasti sekarang ia dan Helen sudah bahagia dan selalu menghabiskan malam mereka dengan kegiatan panas yang menguras tenaga. Huh! Elvan jadi panas dingin memikirkannya.
"Gimana caranya supaya gue bisa dapetin Helen lagi?"
Elvan menyadarkan tubuhnya di pintu sambil memperhatikan gerak gerik Helen yang sedang menyisir rambut di depan cermin.
Elvan ingin merasakan tubuh itu lagi!
"Akkhh!!" Elvan meremas rambutnya frustasi. Mengapa di saat yang tidak tepat ini tubuhnya malah menginginkan sesuatu? Sesuatu yang pasti akan sulit untuk didapatkan.
"Kenapa?" Helen menatap Elvan dari pantulan cermin di depannya. Ia merasa heran saat melihat pria itu tampak gelisah dan mengusap rambutnya kasar.
Elvan menyengir kuda.
"Ha? Enggak. Gapapa."
Elvan yang diabaikan oleh Helen merasa suntuk dan tidak tau harus melakukan apa lagi. Akhirnya, ia pergi ke ruangan kerjanya dan meninggalkan Helen di kamar seorang diri. Disana Elvan menghabiskan waktunya sekitar dua jam hanya untuk menenangkan pikirannya.
Niat awal ingin menenangkan diri. Alih-alih seperti itu Elvan malah jadi gila sendiri saat tidak bisa menyalurkan apa yang telah dirasakannya. Saat kembali ke kamar mereka, Elvan melihat Helen yang sudah tiduran di ranjang sambil memainkan ponselnya.
Andai saja malam itu Helen masih dalam keadaan belum tidur, Elvan pasti sudah menggempurnya. Walaupun Helen akan menolak nantinya Elvan tidak akan peduli. Mengapa sekarang ia jadi pria gila?
"Heh!" Elvan tersentak dari lamunannya saat mendengar pekikan Helen. Istrinya itu sudah berdiri tepat dihadapannya sambil mengayunkan telapak tangannya di depan wajah Elvan.
Elvan menelan salivanya kasar, tiba-tiba tubuhnya terasa panas saat melihat Helen dengan jarak yang dekat seperti ini. Mengapa juga tadi ia mengikuti alur pikirannya, kan sekarang jadi malah terpancing dan semakin sulit dikendalikan.
"Kenapa sih?" Helen menatap Elvan dengan bingung. Pasalnya, suaminya itu sedari tadi hanya diam dan tampak memikirkan sesuatu.
Helen jadi bertanya-tanya apa sebenarnya yang sedang Elvan pikirkan.
"Aku mau itu. Ups!"
"Mau apa?" Helen mengernyit keheranan.
Elvan merutuki kebodohan mulutnya. Mana mungkin ia secara blak-blakan mengutarakan keinginannya. Bisa-bisa Helen jadi semakin marah dan semakin mendiaminya. Semuanya butuh proses, Elvan tidak boleh tiba-tiba langsung menyerang Helen. Ia harus bersabar dan melakukan trik yang pas agar Helen terpancing dengan dirinya.
“Semoga cara gue ini bisa buat Helen luluh dan maafin gue.” Elvan mengulum bibirnya tipis.
Elvan menyengir lebar membalas tatapan bingung Helen.
“Aku mau pijitin kamu. Kamu pasti capekkan karna seharian jalan-jalan terus?”
Helen bertambah bingung mendengar ucapan Elvan. Kenapa tiba-tiba?
“Ayo, biar aku pijat.” Elvan menarik Helen ke atas tempat tidur dan menyandarkan tubuh gadisnya di kepala ranjang.
Dengan dahi yang mengernyit, Helen tetap diam dan memilih mengikuti apa kemauan Elvan. Lagi pula tidak ada ruginya jika ia mengikuti kemauan suaminya itu.
"Mana yang pegel? Kaki? Tangan atau badan kamu?" Elvan duduk bersila di samping tubuh Helen. Senyum manis tidak pernah luntur dari bibirnya.
Helen yang diperlakukan seperti itu sudah pasti merasa sangat senang. Mengapa tidak dari dulu saja Elvan perhatian dan peduli padanya? Mengapa setelah semua luka yang ia berikan, Elvan baru bersikap manis seperti ini? Walaupun rasa sakit dan kecewa mendominasi perasaan Helen, bukan berarti ia tidak merasa senang karena perlakuan Elvan. Hal itu membuat rasa bahagianya membuncah. Helen sangat senang walaupun hanya perlakuan kecil. Ia berharap Elvan sudah berubah dan menyadari kesalahannya.
Tanpa perlu jawaban dari Helen, Elvan langsung memijit betis Helen dengan minyak urut yang tadi ia ambil dari laci nakas.
Helen tersentak beberapa saat ketika kulit tangan Elvan menyentuh permukaan kakinya. Rasa hangat yang tidak seberapa langsung terasa di betisnya yang memang terasa pegal karena kebanyakannya berjalan menggunakan high heels.
Dari tempatnya bersandar, Helen memperhatikan wajah cerah Elvan dengan lekat. Yang Helen lihat suaminya itu terlihat bahagia dan senang dengan apa yang sedang ia lakukan. Benarkah seperti itu? Apakah Elvan benar-benar tulus dengan perhatian yang baru saja ia berikan? Jika memang benar, ingin rasanya Helen melompat dan berguling-guling di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Udah enakan?" Elvan mengangkat pandangannya dari kaki Helen dan menatap wajah cantik istrinya dengan teduh.
Semburat merah tanpa sadar langsung menjalar memenuhi pipi Helen hingga ke telinganya.
Helen mengangguk kaku. Mulutnya terasa berat hanya untuk menjawab pertanyaan Elvan.
"Mana lagi yang pegel, biar aku pijitin?" Sedari tadi Elvan menahan ketawa dalam hati. Sepertinya keinginannya untuk mendapatkan maaf dari Helen akan segera terwujud. Langkah demi langkah akan ia lakukan hingga Helen kembali luluh.
Menurut artikel yang ia baca, wanita itu mudah luluh jika diperlakukan dengan manis. Apa lagi yang kita lakukan itu adalah kesukaan sang wanita, sudah pasti peluang maaf yang amat besar ada di depan mata.
“Tangan kamu kan? Sini aku pijitin.” Elvan yang tadi duduk di dekat kaki Helen segera berpindah dan duduk di samping lengan gadis itu.
Tangannya dengan telaten memijit permukaan lengan Helen hingga ke bahu.
Elvan memejamkan matanya menikmati pijitan Elvan. Belum pernah ia diperlakukan seperti ini. Jadi, untuk sementara biarkan saja ia mengalahkan egonya dulu. Yang penting ia bisa merasakan kenikmatan dari sentuhan Elvan.
Sekitar sepuluh menit Elvan memijat lengan Helen. Langkah selanjutnya ia harus memijit bagian yang lain.
“Kamu udah ngantuk?” Elvan bertanya saat melihat mata Helen yang terpejam.
Dengan lekas Helen membuka kelopak matanya.
“Nggak. Aku belum ngantuk.” Sangkalnya. Jika ia menjawab sudah mengantuk pasti Elvan akan menghentikan pijatan di tubuhnya dan ia tidak rela dengan itu.
Sudah lama ia tidak berkontak fisik dengan Elvan membuatnya merasa rindu dan ingin. Helen sadar jika selama ini ia yang selalu lebih dulu meminta Elvan agar mereka melakukan kontak fisik. Mau itu hanya sentuhan di tangan atau pun hanya kecupan di pipi yang Helen curi diam-diam. Helen tidak masalah dengan itu, ia tidak takut jika Elvan menganggapnya murahan atau apapun. Yang penting ia bisa membuat Elvan berpaling kepadanya dan membuat Elvan kecanduan dengannya.
“Makasih.” Helen berujar pelan. Bukan tanpa alasan ia berucap seperti itu.
Elvan mengerlingkan matanya.
“Ada lagi yang pegel?” tanyanya kemudian. Elvan cukup senang saat Helen menatapnya sudah tidak sedater tadi.
“Nggak.” Balas Helen singkat.
“Badan kamu pasti pegel, punggung kamu mungkin.” Tidak dapat bagian depan, punggung Helen pun jadi. Elvan menyuruh Helen agar menidurkan tubuhnya dan menelungkup.
Tanpa persetujuan dari Helen, Elvan sudah membuka piyama tidur istrinya dan hanya menyisakan pakaian dalam. Setelah itu ia langsung meneteskan minyak urut ke atas punggung Helen dan langsung memijatnya dengan pelan. Helen yang tidak sempat menolak hanya pasrah dengan apa yang Elvan lakukan. Lagi pula ia jugan ingin.
Sedari tadi Elvan sudah dibuat panas dingin dengan pemandangan indah didepannya. Punggung Helen yang putih mulus membuat akal pikirannya menjadi tak terkontrol dan memikirkan hal yang aneh.
“Mmmhh.” Lenguh Helen saat Elvan memijat bahunya kuat.
Elvan tersenyum puas. Rencananya berhasil!
“Kenapa dibuka?” Helen menoleh ke belakang, sedikit mendongak agar bisa melihat Elvan yang tersenyum misterius menatapnya.
“Gapapa, biar lebih gampang aja.” Ucap Elvan.
“Gampang apanya?”
“Gampang pijatnya, sayang.” Elvan berbisik di telinga Helen.
Helen meremang saat merasakan hembusan nafas Elvan di telinganya. Semuanya terasa menggelitik. Apalagi saat mendengar ucapan sayang Elvan.
“Ooh.” Helen kembali meletakkan kepalanya di atas bantal.
Elvan langsung menjamah punggung Helen dengan tangannya. Minyak yang tadi ia oleskan di punggung Helen membuat sensasi licin yang memudahkannya memijat punggung itu.
Elvan menundukkan kepalanya lalu mengecup punggung Helen cukup lama.
Helen tersentak merasakan benda kenyal menyentuh kulitnya. Ingin rasanya ia membalikkan badan dan melihat Elvan dengan jelas. Namun, Elvan menahan tangan dan tubuhnya membuatnya kesulitan walau hanya sekedar untuk bergerak. Elvan mengecup tengkuk Helen dengan lembut membuat Helen semakin meremang.
__ADS_1
“Kamu gak marahkan?” Elvan bertanya lembut di telinga Helen.
Detak jantung Helen sudah terpacu tidak normal. Sentuhan yang ia rindukan akhirnya kembali dapat ia rasakan. Persetan dengan kekecewaan dan amarah yang masih tertanam di hatinya, Helen tidak peduli itu. Ia hanya akan mengikuti apa kemauan Elvan. Helen merasa tenggorokannya tercekat sehingga ia hanya mampu menggeleng tanpa melihat wajah Elvan.
Dengan perlahan Elvan membalikkan tubuh Helen. Membuatnya menjadi telentang.
"Hihihi." Helen menggeliat sambil memalingkan wajahnya saat mendapat serangan bertubi-tubi.
Elvan ikut terkekeh lalu menangkup wajah Helen dengan satu tangannya.
"Aku baru sadar kalo kamu itu sebenarnya sangat cantik." Ujar Elvan. Helaan nafasnya menyentuh permukaan wajah Helen.
"Bagus deh kalau kamu udah sadar." Timpal Helen sambil membalas tatapan teduh Elvan. Tangannya sudah ia letakkan di atas dada pria itu. Menahannya agar sedikit memberi jarak.
"Aku sadar kalau ternyata aku ini laki-laki bodoh yang tega menyakiti istrinya sendiri hanya karna wanita lain. Aku sadar atas semua kesalahanku." Suara Elvan, terdengar pilu.
"Aku tau apa yang udah aku lakukan selama ini sangat sulit untuk dimaafkan. Bahkan, kalau kamu mau hukum aku lebih dari ini, aku bakalan terima. Helen, aku akan terima semua balasan yang kamu kasih ke aku asalkan kamu gak pergi dari hidup ku." Elvan menunduk lalu mengecup kening Helen lembut.
Rasa hangat seketika memenuhi hati Helen.
"Aku gak bakalan sanggup dan gak akan bisa menjalani hari-hariku lagi kalau kamu beneran pergi." Elvan menatap Helen dengan penuh cinta.
"Kalo kamu diamin aku untuk buat aku sadar atas kesalahan ku, berarti kamu berhasil. Aku sadar atas semua yang udah aku lakuin. Mulai dari kita pertama kali ketemu di rumah kamu waktu itu, aku sadar saat itu kata-kata ku pasti melukai perasaan mu. Aku yang sering sinis ngeliat kamu, aku yang dulu pernah nampar kamu, cuekin kamu, ninggalin kamu sendirian di apartemen. Aku ingat semuanya, bahkan aku rasanya aku gak sanggup ngucapin satu-satu kesalahan aku. Helen, aku mohon maafin aku. Aku menyesal." Elvan menatap mata Helen.
"Selama pernikahan kita, aku belum pernah menjadi suami yang baik untukmu. Mulai saat ini aku janji, aku akan jadi suami yang baik untuk kamu, aku akan bahagiain kamu sampai kami lupa gimana rasanya sedih. Aku akan buat kamu lupa dengan semua rasa sakit yang dulu pernah kamu rasain. Helen, aku janji, aku akan buat hidup kamu bahagia. Kamu, aku, kita akan bahagia. Kamu mau kan terima janjiku?" Tanpa menunggu lama Helen langsung mengangguk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Hatinya terenyuh mendengar semua penuturan Elvan.
Helen menyelami mata Elvan, mencari kebohongan di matanya. Namun, ia dapat hanya kesungguhan dan keinginan yang membara. Helen bernafas lega karena akhirnya Elvan menyadari dan menyesali semua kesalahannya.
"Kamu mau kan kasih aku kesempatan untuk buktiin kalau aku bisa jadi suami yang baik dan berguna buat kamu?" Ucap Elvan sambil mengusap lembut pipi Helen.
Matanya sedikit pun tidak lepas menatap Helen. Pancaran cinta yang menggelora memenuhi pandangan keduanya.
Helen mengangguk yakin.
"Kamu janji gak akan ngulangi kesalahan kamu lagi?" Tanya Helen pelan. Hembusan nafasnya menerpa wajah Elvan.
"Pasti. Aku janji gak akan pernah ngulangi kesalahan itu lagi." Ucap Elvan mantap.
"Aku janji." Elvan kembali mengecup kening Helen dengan penuh kelembutan.
Pandangan mereka bertemu satu sama lain. Saling menyelami dan mencari apa keinginan masing-masing.
Tatapan Elvan berahli ke bawah, melihat bibir Helen yang tampak menggoda. Tatapannya terkunci di benda lembut tersebut. Perlahan namun pasti Elvan semakin menundukkan wajahnya hingga akhirnya ia dapat merasakan kelembutan itu.
Lembut dan hangat. Helen semakin bersemu merah melihat wajah Elvan yang sudah tidak berjarak lagi dengannya.
Elvan yang tidak merasakan penolakan jadi semakin nekat. Elvan semakin mengulum benda itu. Begitu lembut dan santai. Tidak ada nafsu di dalamnya. Elvan memangut bi*ir Helen dengan sangat lembut dan hati-hati. Cukup lama Elvan bermain sendiri, hingga akhirnya Helen berani dan mulai membalas perlakuan Elvan.
Disela kegiatan mereka, Elvan tersenyum tipis saat merasakan balasan Helen. Selang beberapa saat, semuanya berubah menjadi lebih menuntut dan memaksa.
Elvan semakin gencar melanjutkan semuanya, tidak tanggung-tanggung mereka berbagi kebahagiaan satu sama lain.
Dengan penuh harap Elvan berdoa disela kegiatan mereka, semoga besok hari ia mendapati sikap Helen yang seperti dulu, penuh perhatian dan banyak bicara dengan segala tingkah agresifnya. Elvan sangat rindu dengan istrinya yang seperti itu.
"I love you, my wife." Bisik Elvan.
Helen merasa terbang saat itu juga. Benarkah Elvan sudah mencintainya? Apakah perjuangannya selama ini tidak berakhir sia-sia? Jika memang benar, maka Helen akan selalu menjaga dan melindungi cinta mereka.
Helen tidak akan membiarkan siapapun merebut miliknya.
"I love you more, my husband." Helen berujar lembut di samping wajah Elvan.
__ADS_1
Bersambung...