
"yaa, dia kini masih kritis karena tertusuk dan empat kali tertembak." jelas komandan ucok.
"aku tidak menyangka, kalau tugas ini akan membahayakan mereka semua. Lalu bagaimana kondisi kedua rekannya?" tanya pak Perwira.
"mereka kini berada di ruang ICU, mereka juga terluka walau tidak separah kapten mereka. Mereka tertembak di lengan dan kaki sehingga tidak bisa lanjut bertahan." jawab komandan ucok.
Pak Perwira mengambil ponselnya yang berdering. Setelah beberapa saat panggilan diputus. Komandan Ucok tidak berani bertanya tentang telpon tersebut.
"sopirku sudah menjemput, aku mau pulang dulu. Jaga Eko baik baik." ucap Pak Perwira.
"baiklah, hati hati dijalan, pak. Sekali lagi terima kasih atas darah bapak." ucap Komandan Ucok sembari bangkit dari tempat duduknya karena Pak Perwira juga sudah berdiri.
Hanya senyum ramah dan anggukan pelan yang diberikan Pak Perwira sambil melenggang pergi meninggalkan Komandan ucok.
****
Pukul 05. 45, Bu Mona sampai di RS. Premier. Komandan Ucok segera menyambutnya. Bu Mona terlihat sangat cemas.
"gimana keadaannya, bang?" tanya bu Mona cemas
"masih dalam perawatan dokter." jawab komandan ucok
Bu Mona menghela nafas panjang. Matanya mulai berkaca kaca lagi.
__ADS_1
"jangan nangis. Eko itu kuat, dia nggak akan nyerah dengan mudah." ucap komandan Ucok untuk menenangkan adiknya.
"Bang, bukannya gimana, tapi Mas Eko itu kalo nggak bener bener parah biasanya nggak mau ke rumah sakit. Dan ini, dia sampai tidak sadar. Gimana aku mau tenang?!" teriak bu Mona marah
****
Pukul 23.16, Pak Eko mulai membuka matanya perlahan. Dirinya melihat ada istri dan ayah mertuanya yang sedang duduk disofa.
Mengetahui suaminya sudah bangun, Bu Mona langsung mendekatinya. Ia pun mengeluarkan air mata bahagianya.
" sudah jam berapa ini?" tanya pak Eko lemas.
"jam sebelas malam, pa." jawab bu Mona.
"Papa mau duduk." pinta pak Eko
"Papa belum pulih." jelas bu Mona
"Ma, punggung papa sangat sakit,, benar benar sakit." rintih pak Eko.
" Itu wajar,Pa. Papa terkena empat tembakan, pasti sangat sakit." jawab bu Mona.
"ma,,," rintih pak Eko lagi.
__ADS_1
Bu Mona mulai mengeluarkan sisi tegasnya, bahkan lebih mirip sisi galak.
" Pa, sekali tidak tetap tidak. ini demi keadaan papa. Papa nurut mama kali ini, jangan buat mama nanti galak." tegas Bu Mona.
Pak Eko langsung menelan ludah
"Ini juga mama udah berubah jadi galak." celetuk pak Eko
"apa??mama galak??" teriak bu Mona sembari memelototi suaminya.
Ayah Bu Mona yang mulai tidak tahan pun segera melerainya.
"Kalian ini, tengah malam bikin ribut." ucap pak harmoko
"Maaf ayah, tidak ada maksud untuk ribut." ucap pak Eko
Pak Harmoko hanya menghela nafasnya.
"Eko, istirahatlah, nak. Betul kata istrimu, kalau jahitan di perutmu terbuka, akan sangat repot. butuh waktu berjam jam untuk menghentikan pendarahan diluka itu, dan kau malah mau membuatnya berdarah lagi?" Nasihat nasihat yang sebenarnya menyindir mulai dikeluarkan pak Harmoko. Hingga pak Eko menyerah dan menurut untuk kembali istirahat.
"Baiklah, aku tidur lagi. Selamat malam" ucap pak Eko
"Selamat malam" jawab Bu Mona dan Ayahnya.
__ADS_1
Disisi lain, adel tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan keadaan papanya. Bibi yang menemaninya sampai ikut begadang karena adel tidak mau ditinggal juga.
Adel video call dengan mamanya. Dirinya begitu senang karena papanya sudah sadar dan kini telah kembali istirahat. Adel lega dan memutus panggilan lalu dirinya tidur