My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
129


__ADS_3

Di Jepang, Tuan Fred sedang bertemu dengan Tuan Hashirama. Mereka sedang melakukan beberapa perjanjian bisnis. Setelah semuanya di sepakati, Tuan Fred bergegas pamit ke Tuan Hashirama walau sebenarnya Tuan Hashirama ingin mengobrol lebih jauh, namun Tuan Fred beralasan keluarganya sedang membutuhkannya.


Tuan Fred segera memerintahkan Rich untuk menyiapkan kepulangannya ke Indonesia. Malam itu juga mereka terbang dari Tokyo ke Jakarta dan transit melalu bandara Changi singapura.


Jam 5 pagi Tuan Fred sampai di Soekarno Hatta international airport , mereka dijemput oleh gang Tornado dan pulang ke kediaman Tuan Fred dengan konvoi. Ingin rasanya Tuan Fred langsung ke kediaman Alia yang berada di Jakarta Utara sekarang juga, namun Rich mengatakan bahwa hari ini Alia akan melakukan cabut benang jam tujuh malam, ada baiknya Tuan Fred berkunjung sore hari saja.


Tuan Fred pun setuju dengan usulan Rich dan lamgsung ke kediamannya saja untuk istirahat.


Dalam perjalanan, Tuan Fred menelpon Dokter Nur.


“Hallo, dokter Nur, selamat Pagi.” Ucap Tuan Fred.


“Selamat pagi, Tuan. Ada perlu apa Tuan sampai mengabari saya sepagi ini. Apa ada yang mendesak?” tanya Dokter Nur.


“Saya baru pulang dari Kepang, saya hanya ingin bertanya, nanti anda ke rumah Alia jam 7?” tanya Tuan Fred.


“Nanti jam 7 malam saya ke rumah Nona Alia bersama dengan dokter Tyas.” Ucap Alia.


“Baiklah, maaf jika mengganggu, dokter Nur.” Ucap Tuan Fred sebelum menutup panggilan telpon.


Rich menatap Tuan Fred penuh tanda tanya.


“Nanti kita ke tempat Alia jam 4 saja.” Perintah Tuan Fred.


“Baik Tuan.” Jawab Rich.


Karena sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh, Tuan Fred tertidur dalam perjalanan pulangnya. Setelah sampai Rich membangunkannya perlahan. Tuan Fred yang sudah begitu lelah langsung melanjutkan tidurnya setelah sampai di kamarnya.


Di Semarang,


Pak Surya sudah sampai di Semarang sesuai janjinya kepada Bu Santi. Pak Surya langsung memeriksa luka Jaya dan mengobatinya. Kini luka Jaya sudah begitu membaik dan Jaya sudah bisa duduk walau tidak tahan terlalu lama. Namun semua itu melampaui ekspektasi Pak Surya.


“Bagaimana?” tanya Pak Surya kepada Jaya.


“Sudah lebih baik, Ayah. Jauh lebih baik.” Jawab Jaya semangat.


“Baguslah, setelah ini, mulailah kelola usaha baru yang Alia buat.” Ucap Pak Surya yang langsung membuat Jaya penasaran.


“Ayah ingin aku mengerjakan resort yang harusnya dikelola oleh Alia?” tanya Jaya.


Jaya hanya mengetahui bahwa usaha terbaru yang Alia buat adalah sebuah resort.


“Bukan. Kalau kamu sudah sembuh akan Ayah beritahu.” Ucap Pak Surya.

__ADS_1


“Usaha apa ya?” gumam Jaya. Pak Surya hanya tertawa kecil melihat putra sulungnya begitu penasaran.


Pak Surya meninggalkan Jaya seorang diri di kamarnya dan menemui Adel.


“Adel, sepertinya kalau Papa kamu sudah sembuh kamu lanjut home schooling di rumah kamu saja ya.” Ucap Pak Surya.


“Iya Eyang, tidak masalah.” Jawab Adel.


“Kalau kamu kuliah, mau ambil jurusan apa?” tanya Pak Surya.


“Jujur saja aku masih bingung, Eyang. Tapi apa aku boleh kuliah di luar negri.” Ucap Adel.


“Kalau kamu mau tentu boleh. Memang mau kuliah di mana?” tanya Pak Surya.


“Mungkin Rusia atau Korea Selatan.” Jawab Adel.


“Belajar yang rajin. Kalau kamu kuliah di rusia maka kamu harus belajar bahasa Rusia dari sekarang dan mengurus administrasi di sana cukup rumit. Kalau di Singapura atau Hong Kong eyang masih bisa bantu.” Ucap Pak Surya.


“Nggak Papa Eyang, tapi aku juga masih pikir-pikir.” Ucap Adel. Pak Surya menganggukan kepalanya tanda paham.


“Kamu mau berkunjung ke Jakarta?” tanya Pak Surya.


“Tidak Eyang. Kakak sangat sibuk, aku tidak ingin mengganggu, setelah sembuh pasti pekerjaannya menjadi sangat banyak.” Ucap Adel lesu.


“Kamu bisa membantunya dan hitung-hitung sedang belajar.” Ucap Pak Surya.


“Tentu boleh.” Jawab Pak Surya.


Adel memeluk Eyangnya kegirangan.


“Mau kamu di Taekwondo, Basket atau apapun, Eyang tidak masalah, tapi perlu kamu ketahui bahwa kita itu keluarga pengusaha dan apapun jalan yang kamu pilih akan berujung pada bisnis keluarga kita dan ada baiknya kalau kamu belajar dari awal.” Ucap Pak Surya.


Adel yang dulu sangat ingin menjadi tentara juga sekarang sudah mulai membuka pikirannya pada dunia bisnis. Kakaknya yang sudah menjadi petarung profesional saja masih terjebak dalam dunia bisnis.


“Kapan kamu mau ke Jakarta?” tanya Pak Surya.


“Besok saja tidak masalah.” Ucap Adel.


“Ya sudah, nanti eyang yang akan memberitahu kakakmu.” Ucap Pak Surya. Adel hanya mengangguk mengerti.


Pak Surya lalu beranjak pergi meninggalkan Adel menuju ruang kerjanya. Ada beberapa pesanan obat yang harus ia urus. Dan dengan secepat yang ia bisa Pak Surya menyelesaikan transaksinya.


Pak Surya lalu mengurus Surya Yudha yang akan di atas namakan Muhammad Eko Wijaya sebagai pemiliknya sesuai keinginan Alia.

__ADS_1


Markas Surya Yudha saat ini akan dijadikan tempat tinggal untuk seluruh anggota dan mereka akan disetarakan dari segi kemampuan. Namun masalah upah maupun kedudukan tergantung seberapa batas yang bisa ia pakai.


Pak Surya juga mengalihkan Gelora Wijaya milik keluarganya yang sudah mulai sepi menjadi tempat berlatih Surya Yudha dan menutupnya untuk umum.


Untuk Surya Yudha Pak Surya tidak terlalu pusing karena masih ada client yang meminta jasa.


Pak Perwira dengan senang hati mengelola Surya Yudha sementara waktu sampai Jaya pulih total namun dirinya belum tahu bahwa Tuan Muda Wijaya yang akan mengambil alih Surya Yudha adalah Jaya orang kesayangannya.


Ucok belum tahu kalau Surya Yudha akan alih kepemilikan jadi masih biasa-biasa saja.


Mereka menjalankan tugas seperti biasa.


Pak Surya hari itu menyelesaikan seluruh pekerjaan yang menumpuk karena ditinggalnya selama beberapa hari. Kalau ada Santoso atau Taufik pasti pekerjaannya tidak sebanyak itu. Namun Taufik, Santoso, dan Alia mereka semua terluka dan tidak bisa bekerja dengan maksimal sedangkan Rahmat sudah begitu kerepotan karena bagian Jaya yang selama ini di pegang oleh Pak Surya juga dilimpahkan kepadanya.


Jam lima sore hari itu, Tuan Fred datang ke kediaman Alia tanpa membawa apa-apa.


Bu Mona menyambut tamunya dan mengajak ke kamar Alia.


Tuan Fred memeluk Alia dengan hati-hati takut menyakiti ponakannya.


“Kenapa tidak dirawat di rumah sakit saja?” tanya Tuan Fred.


“Tidak, Om. Aku merasa lebih baik jika dirawat di rumah. Lagipula Mama merawatku dengan sangat baik. Hari ini aku juga akan melakukan cabut benang.” Ucap Alia.


“Kamu siap?” tanya Tuan Fred.


“Siap tidak siap harus dilakukan.” Ucap Alia sedikit gugup. Dirinya masih merasa ngeri dengan kalimat cabut benang.


“Tenang saja, dokter yang datang nanti dokter profesional.” Ucap Tuan Fred.


“Oiya, om dengar kamu membeli Surya Yudha?” tanya Tuan Fred penasaran.


“Iya, benar.” Jawab Alia singkat. Sebenarnya dia belum ingin membahas hal itu.


Merasa keponakannya tidak senang dengan topik pembicaraan tersebut, Tuan Fred mencoba mencari topik lain.


Rahmat beserta anak buahnya mencoba meloloskan diri dari kejaran Gang Tengkorak Iblis. Padahal hari masih sore namun dirinya sudah di kejar-kejar saja. Rahmat segera menuju ke kantor polisi karena merasa jika pulang ke rumah akan sia-sia.


Bandung adalah markas besar Gang Tengkorak Iblis dan disini hanya ada sekitar 20 orang pengawal. Kalau mereka diserang maka akan binasa seketika.


Rahmat mengenal beberapa orang di polrestabes Bandung dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


“Kalau mereka berulah kami akan segera meringkusnya.” Ucap Ipda Agus.

__ADS_1


“Ini baru dugaanku saja, aku tidak ingin kalian salah tangkap dan akan menjadi isu yang tidak enak. Kalian tahu kan kalau Rocky itu anak siapa?” ucap Rahmat.


“Baiklah, kamu bisa tidur di kamarku, aku tidak masalah.” Jawab Ipda Agus. Rahmat sangat berterima kasih atas pertolongan Ipda Agus.


__ADS_2