
Setengah jam kemudian Alia sampai di rumahnya. Ia lalu berganti pakaian dengan pakaian casual karena omnya akan segera datang. Alia begitu senang karena kemarin saat di Semarang omnya sedang di luar negeri jadi tidak bisa berkunjung.
Tak lama kemudian Santoso mengabari bahwa Tuan Fred sudah ada di ruang tamu. Alia bergegas turun dari kamarnya menuju ruang tamu dan menemui Tuan Fred.
"Hallo om." sapa Alia.
Tuan Fred merentangkan kedua tangannya dan memeluo Alia. Alia segera membalas pelukan hangat dari omnya.
"Om kapan sampai?" tanya Alia sesaat setelah melepas pelukan omnya.
"Tadi pagi om baru sampai Jakarta. Kamu apa kabar?" tanya Tuan Fred.
"Aku baik Om. Ayo kita ke gazebo." ajak Alia. Keduanya lalu berjalan menuju gazebo dekat kolam renang. Sudah terdapat seteko kopi hitam, gula pasir dan berbagai macam kue.
"Maaf Om, disini nggak ada wine atau beer, adanya kopi, teh, susu heheh." ucap Alia tak enak hati.
"Tidak masalah." jawab Tuan Fred.
__ADS_1
Tuan Fred tersenyum tipis melihat Alia yang tak enak hati karena hanya menyuguhkan kopi.
"Al, Papa kamu apa kabar?" tanya Tuan Fred.
"Sudah baikkan." jawab Alia dengan senyum merekah dibibirnya. Ia tak menyangka kalau omnya begitu peduli kepada keluarganya.
"Syukurlah. Kamu jaga diri yah, entah apa yang diinginkan oleh Gang Tengkorak Iblis sampai melukai Papamu seperti itu. Om sendiri belum tau yang diincar mereka itu Satya Yudha atau Keluarga Wijaya." jelas Tuan Fred sembari menyeruput kopi hitam dicangkirnya.
"Terima kasih om sudah perhatian sama keluargaku." ucap Alia terharu.
"Kamu satu satunya keluarga Om, sedangkan kamu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Wijaya, jadi om juga harus membantu keluarga Wijaya." ucap Tuan Fred.
"Aku disini dulu aja Om, kapan kapan aku caba lihat kesana." jawab Alia.
Sebenarnya Alia sudah pernah mengunjungi rumah yang di Jakarta selatan. Tapi dulu waktu dirinya baru berusia 8 tahun dan sekarang Alia sudah mulai lupa dengan letaknya.
"Kamu dulu pernah kesana, kan?" tanya Tuan Fred. Alia tertunduk dan kembali mengingat masa masa yang sangat membahagiakan dulu saat Mama Papanya masih hidup.
__ADS_1
Alia mengangguk dengan mata berkaca kaca.
Tuan Fred merasa tak enak hati karena membuat ponakannya kembali teringat akan masa lalunya. Iapun segera memeluk ponakan satu satunya itu dan membelai rambutnyaa.
" Sorry,,," bisik Tuan Fred.
Alia menangis terisak dipelukan Tuan Fred.
Santoso yang mengamati keduanya dari balkon lantai dua tertegun karena selama ini tidak pernah sekalipun ia mendapati Nonanya menangis sampai seperti ini.
"Nona, sekuat apapun dirimu, kamu tidak bisa memendamnya sendirian. " gumam Santoso.
Santoso dulu sangat membenci Tuan Fred karena pernah menculik Adel dan beberapa kali mencoba mencelakai Jaya. Namun rasa benci terhadap Tuan Fred mulai luntur ketika mengetahui Tuan Fred telah membantu cukup banyak saat penculikan Jaya kemarin dan kini ia melihat betapa dekatnya sang Nona dengan Tuan Fred.
Santoso menghela nafas pelan lalu kembali meminum soda yang digenggamnya.
Rintik rintik air hujan mulai turun membasahi bumi ibu pertiwi, layaknya air mata yang kian deras membasahi pipi Alia.
__ADS_1
Namun seperti tanah tandus yang terkena hujan, rasa hormat mulai tumbuh dihati Santoso terhadap Tuan Fred.