
Alia mengangguk setuju dan menuju ke Jakarta pukul 07.30.
Walau begitu mencemaskan kondisi Papanya, namun Alia juga tidak bisa melawan perkataan kakeknya. Alia dijemput oleh santoso dan seorang Punggawa Wijaya yang bertugas menjadi sopir.
Semenjak menggantikan tugas Nonanya, Santoso memutuskan untuk meminta sopir karena dirinya terlalu sibuk bahkan hanya untuk mengendarai mobilnya.
Pak Surya memahami kondisi Santoso dan langsung mengabulkan permintaannya. Kini Santoso lebih leluasa bekerja walau sedang berada diperjalanan.
Santoso langsung menemui Nonanya begitu mendapat kabar bahwa Nonanya sudah sampai. Alia tertegun melihat kondisi Santoso yang kumal dan mata panda yang begitu tebal.
"Apa yang aku lakukan hingga kau seperti ini ?" ledek Alia. Dirinya tidak menyangka kalau Santoso akan bisa separah ini. Santoso hanya tertunduk malu dan tersenyum kecut mendengar celoteh Nonanya yang ia anggap benar.
"Ini karena aku terobsesi melakukan tugas dengan sempurna, Nona. Ini bukan salah anda." jawab Santoso.
Alia mengangguk pelan dan senyum tipis menyungging dibibirnya setelah mendengar jawaban Santoso. Selama di helikopter tadi dirinya juga sempat membaca beberapa laporan yang masuk dan hasilnya memuaskan.
"Apa hari ini jadwalnya padat?" tanya Alia. Kini keduanya berjalan berdampingan menuju mobil.
"Tidak terlalu, Nona." jawab Santoso.
__ADS_1
"Baiklah, sebagai tanda terima kasihku aku traktir kamu makan siang, bagaimana?" Alia memberi tawaran yang apabila diberikan kepada laki laki lain akan langsung menjaeab iya, namun Santoso menjawabnya dengan ragu.
"Sebenarnya aku ingin mendengar kondisi Tuan Muda Jaya, Nona. Aku sudah bertanya kepada teman teman dan mereka mengatakan kalau Tuan Muda sudah mulai sembuh. Tapi kalau dilihat dari muka anda sepertinya Tuan Muda belum pulih." ucap Santoso panjang lebar.
"Mereka tidak mau kamu khawatir." balas Alia.
Keduanya sudah sampai dimobil, ternyata si sopir sudah menunggu didalam mobil.
Alia duduk di kursi tengah sementara Santoso duduk disebelahnya.
"Kondisi Papa stabil, walau belum ada kemajuan tapi tidak sampai kritis seperti kemarin. Butuh waktu yang lama untuk memulihkan kondisinya saat ini." ucap Alia. Matanya mulai berkaca kaca ketika membayangkan bagaimana ia menemukan Papanya yang sudah terkapar tidak berdaya dan membawanya ke Rumah sakit.
"Kapan kapan kalau kita ada waktu luang, apa pekerjaan kita sedang menumpuk?" tanya Alia mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Santoso menyadarinya dan mengikuti alur pembicaraan Alia.
"Tidak, Nona. Pekerjaan kita minggu ini sedang tidak terlalu padat." jawab Santoso.
"Jumat malam kita ke semarang, sabtu sore kamu balik ke Jakarta yah." ucap Alia. Santoso mengangguk setuju dan merasa senang.
Santoso begitu menyukai Jaya dan berharap dia menjadi pengawal pribadi Jaya, dan sekarang dirinya malah menjadi tangan kanan putrinya. Bukan suatu hal yang begitu Santoso harapkan walaupun tidak dipungkiri bahwa dirinya mempunyai rasa terhadap Alia.
__ADS_1
Alia menatap keluar jendela dan melihat penandangan yang dilaluinya, menatao hiruk pikuk kota yang kadang membuatnya jengah.
Siang ini jalanan begitu macet hingga membuat Santoso tertidur didalam perjalanan singkat tersebut.
Ting!!!
Suara ponsel Santoso yang membuatnya bangun karena terkejut.
"Nona,," ucap Santoso.
"Ada apa?" tanya Alia.
"Kita sepertinya menunda makan siang bersama. Tuan Fred sedang berada di Jakarta dan ingin menemui anda." jawab Santoso.
"Benarkah? Ya sudah kita makan malam saja, dan tanyakan ke Om Fred dimana ingin bertemunya." ucap Alia.
Santoso kembali mengotak atik ponselnya.
"Beliau sudah jalan dari kediamannya menuju kediaman kita." ucap Santoso lagi.
__ADS_1
Alia mengangguk paham dan senyum tipia tersungging di bibirnya.