
Revian diantarkan masuk oleh seorang penjaga rumah kehadapan tuan Willi. Tuan Willi mengenalkannya kepada Rocky anak pertamanya dan Vero yang kedua.
Keduanya pun berjabat tangan sementara vero yang masih terlalu kecil hanya diam. Rocky yang senang mempunya teman menjadi sangat antusias dan langsung mengajak Revian ke kamarnya.
Selama ini Rocky tidak memiliki teman bermain jadi sangat antusias saat Ayahnya membawa teman untuknya.
Waktu berjalan begitu cepat, Rocky mulai tumbuh besar. Rocky dan Revian menjalankan home schooling. Ternyata Revian benar benar anak yang pandai. Dalam dua tahun ia bisa mengejar semua ketertinggalannya.
Tuan Willi mengajari keduanya beladiri, memanah, berkuda, menembak, dan kegiatan yang lainnya. Revian begitu senang karena selama ini dia tidak pernah membeda bedakan antara dirinya dan anaknya.
Suatu ketika, Tuan Willi memanggil Revian ke kamarnya.
" Re, kamu saya bawa kesini karena saya tau kamu anak yang cerdas, jadilah kawan dan tameng bagi anak anakku, kau mengerti?" ucap Tuan Willi.
"Baik Tuan." jawab Revian mantap.
Setelah itu, Revian benar berusaha menjaga Rocky dan Vero seperti adiknya sendiri. Mereka tumbuh bersama dan selalu kemana mana bersama. Kadang juga Rocky merasa jengah kalau terus diikuti ketika sedang menemui pacarnya. Tapi mau bagaimana lagi? Ayahnya yang menugaskannya.
__ADS_1
Disisi lain, Alia sedang mengamuk kepada omnya.
komandan Ucok. Tidak ada yang mencegahnya karena menurut mereka kali ini Komandan Ucok benar benar keterlaluan.
"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi!" pekik Alia mengagetkan omnya, juga keluarganya. Selama ini dirinya tidak pernah sekasar itu.
"Om tau? kalau om bisa bergerak saat itu, mungkin Papa tidak akan separah ini, atau bahkan kita bisa menangkap pelakunya!" ucap Alia dengan penuh emosi.
"Om tidak mengira akan separah ini kejadiannya." balas komandan Ucok. Dirinya benar benar merasa bersalah tapi juga tidak terima apabila dipojokkan terus oleh ponakannya.
Alia mulai mengungkit hal yang lalu, membuat omnya semakin frustasi dan malu. Pak Surya ingin menghentikannya tapi juga merasa semua perkataan Alia benar.
Akhirnya Komandan Ucok yang telah kehilangan harga dirinya memutuskan untuk pergi.
"Baiklah, Om pergi dulu, assalamua'alaikum." Komandan Ucok pamit dengan berat hati. Dirinya masih ingin menjelaskan semua.
"Yarghh!!!" teriak Alia begitu kesal.
__ADS_1
"Maaf sudah bersikap kasar." ucap Alia penuh hormat karena emosinya juga sudah turun.
"Iya, kami maklum." jawab Bu Mona. Dirinya juga merasa puas walau sebenarnya merasa Alia sedikit keterlaluan.
"Al, Adel kasih kabar Papamu sudah siuman," ucap Rahmat mencoba mengalihkan pembicaraan.
Semuanya terkejut melihat sisi keras Alia yang selama ini tidak pernah terlihat.
"Papa sudah sadar?" tanya Alia kegirangan. Rahmat mengangguk dengan mantap memastikan perkataannya benar adanya.
"Mau ke rumah sakit?" tanya Taufik.
"Ayo!!!" Alia begitu bersemangat. Sifatnya sudah kembali semula menjadi periang. Akhirnya Papanya sadar juga karena besok dirinya harus kembali ke Jakarta.
Santoso mulai kualahan menangani semua bisnis Alia karena dirinya tidak hanya mengelola bisnis tinggalan orang tuanya, tapi juga turut andil dalam perusahaan Wijaya dan mengelola saham milik Papa angkatnya, Jaya.
Pak Surya awalnya terkejut saat mengetahui Alia mampu mengelola bisnis bisnisnya dengan baik. Bahkan karena dia juga masih muda banyak pengusaha yang ingin menjodohkan putranya, namun Alia menolaknya secara halus karena ingin membangun karirnya terlebih dahulu.
__ADS_1