
Sekitar pukul tiga sore hujan baru reda. Tuan Fred makan siang bersama Alia di gazebo.
"Om akan ke korea besok sore, selanjutnya akan ke Jepang." ucap Tuan Fred.
"Tour?" tanya Alia.
"Bussines." jawab Tuan Fred.
Alia mengangguk pelan memahami bisnis illegal omnya yang sudah mendunia. Bahkan hasil dari bisnis legalnya tidak sampai setengahnya.
"Hati-hati, Om." ucap Alia.
Tuan Fred tersenyum tipis lalu mengangguk.
"Kamu tidak ingin meminta oleh-oleh?" tanya Tuan Fred.
Alia menggeleng pelan lalu berkata
"Om pulang dengan selamat, dan menemaniku sehari untuk jalan-jalan." jawab Alia.
Tuan Fred hanya tersenyu kecut karena permintaan Alia bahkan lebih susah dari sebuah helikopter.
"Kenapa, Om?" tanya Alia.
__ADS_1
"Om hanya memikirkan kapan waktu yang tepat. Jadwal Om sangat padat tiga bulan ini. Semoga saja permintaan kamu akan segera terlaksana." ucap Tuan Fred.
Alia mengerti betapa sibuk Omnya. Namun yang selama ini Alia rasakan Omnya tidak pernah ingkar janji terhadapnya.
"Yakin tidak mau sesuatu?" tany Tuan Fred memastikan.
Alia memastikan bahwa dirinya tidak menginginkan apapun.
Tuan Fref lalu berdiri dan sekali lagi memeluk Alia.
Setelah itu Alia mengantarkan Omnya hingga sampai gerbang depan. Tuan Fred masuk ke dalam mobilnya dan melambaikan tangan ke Alia. Alia membalas lambaian tangan tersebut. Setelah mobil Tuan Fred tidak terlihat lagi Alia masuk kedalam rumah.
Alia langsung menuju ruang kerjanya dan membaca beberapa dokumen yang telah Santoso siapkan. Alia membacanya dengan seksama dan menandatanganinya setelah mempelajari setiap detail dokumennya.
"Jona, sudah jam 7 malam." ucap Santoso. Alia mengangguk paham dan mengemasi pekerjaannya dan kembali ke kamarnya.
"Bersiaplah, lima belas menit lagi aku turun." Alia mengirim pesan singkat ke Santoso. Dirinya lalu berganti pakaian dengan menggunakan jeans hitam, jaket hitam dan kaos hitam polos, serta jam tangan pemberian Eyangnya.
Alia lalu turun dan menggunakan pakaian yang senada dengannya tapi serba putih.
Malam ini Alia meminta yang menyetir. Santoso tidak bisa menolak permintaan dari Nonanya. Mereka berdua pergi tanpa pengawalan dan hanya berbekal pistol yang Santoso sembunyikan di jok mobil.
Alia menikmati perjalanannya malam itu dan memutar musik dengan kencang.
__ADS_1
"Mau makan apa?" tanya Alia.
"Saya sudah memesan tempat dan hidangan di Restoran, tapi letaknya cukup jauh, di Jakarta selatan." jawab Santoso.
"Sebelah mana?" tanya Alia. Alia yang sudah hidup bertahun tahun di Jakarta lebih mengenal kota tersebut daripada Santoso.
Walau Santoso lama tinggal di Jakarta namun dirinya sibuk dengan bisnis keluarga Wijaya.
"Baiklah, resto apa?" tanya Alia lagi.
"Gold mansion." jawab Santoso.
Alia mengangguk lalu menginjak pedal gassnya. Santoso berpegangan erat karena Alia membawa mobil dengan kecepatan penuh apalagi mereka sudah masuk jalan tol dan kebetulan ridak macet.
Sekitar 40 menit mereka melewati perjalanan, akhirnya sampai juga. Alia memarkirkan mobilnya di bassemen.
Ternyata Santoso memesan sebuah paket makan malam romantis yang berada diruang cctv.
Setelah mereka masuk beberapa pelayang langsung menyambutnya. Santoso yang memesan tempat atas nama Alia Wiyatama Wijaya membuat manager resto tersebut siapakah Alia Wiyatama wijaya yang datang.
Tidak mereka sangka yang datang adalah Alia pengusaha muda sukses yang kini namanya sedang naik daun.
"Perkenalkan, nama saya Rama, manager restoran ini." ucap Manager tersebut dan mengajak Alia berjabat tangan. Alia langsung menyambut jabat tangan tersebut dan tersenyum ramah. Ia merasa dirinya kali ini salah kostum.
__ADS_1
"Saya tidak menyangka bahwa dalam pakaian seperti ini anda tetap mengenali saya." ucap Alia.