My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Bibit Baru Satya Yudha


__ADS_3

Komandan ucok ragu untuk membuat kopinya sendiri, tapi melihat bagaimana pak Perwira menyeruput sedikit demi sedikit kopi dicangkirnya, membuat komandan ucok hampir meneteskan air liaurnya.


"Jangan memandangku seperti itu, aku tidak akan berbagi."ucap Pak Perwira dengan ketus. Merasa ada seseorang menginginkan minuman favoritnya ini, Pak Perwira segera melindungi cangkir kopinya dengan kedua tangannya.


komandan Ucok lalu bangkit dan menuju dapur kecil yang berada di ruangan Pak Perwira. sebenarnya bukan dapur kecil, lebih tepatnya mini bar karena tempat ini hanya bisa difungsikan sebagai tempat membuat minuman.


Komandan Ucok mengaruk pipinya yang tidak gatal. Dia sangat jarang membuat kopi sendiri. Jika dirumah pun pasti istrinya yang membuatkan. Untuk membuat kopi yang seharum dan seenak milik Pak Perwira, takarannya harus benar benar tepat.


Komandan Ucok lalu mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada atasannya.


"Maaf, pak, saya tidak tau berapa takaran kopinya. Bisa Bapak beritahu saya takaran tepatnya?" Tanya Komandan Ucok dengan tersipu malu.


Pertanyaan tersebut hanya dijawab dengan helaan nafas panjang disusul pak Perwira bangkit dan berjalan mendekati Komandan Ucok.


Pak Perwira menakarkan kopi dan gulanya, lalu memberikan cangkir tersebut ke Komandan Ucok. komandan Ucok hanya dapat memandang atasannya dengan bingung.


Pak Perwira menanggapinya dengan memelototi komandan ucok.

__ADS_1


" Jangan bilang kamu tidak tau takaran airnya." ucap pak Perwira dengan nada datar.


Komandan Uco hanya tersenyum canggung menanggapi perkataan pak Perwira.


****


Setelah Komandan Ucok mendapat secangkir kopi yang begitu harum dan nikmat, keduanya kembali duduk dan membahas beberapa hal. Salah satunya adalah tentang seleksi anggota Satya Yudha yang baru.


Ada beberapa nama yang berhasil mencuri perhatian Komandan dan pak Perwira. Dan yang berhasil menarik perhatian tersebut adalah orang orang dari Yudha Pratama , atau bisa dibilang kelas terendah dalam satuan Surya Yudha.


"Ahmad, kamu bilang mempunyai beberapa nama yang cocok untuk menjadi pasukan Satya Yudha yang baru."tanya pak Perwir.


Pak Perwira mulai membaca nama nama tersebut dan megamati profilnya dengan seksama.


Reynold Prawira, Wira Yudha


Seorang atlit karate nasional yang mundur karena tidak diturunkan dalam PON. Belum pernah gagal dalam misi, hasil terburuknya adalah hampir membuat client celaka.

__ADS_1


Vito Sebastian, Wira Yudha


Mengikuti pelatihan menembak dan menjadi penembak jitu, dan hampir selalu bisa melumpuhkan musuh.


Muhammad Eko wijaya, Yudha pratama


Seorang penembak jitu, menguasai beladiri taekwondo, yong moo do, brazilian jiu jitsu, tarung derajat, bisa menjadi negosiator karena dia juga seorang pengusaha dan sering menyelesaikan misinya dengan negosiasi, beberapa kali tertangkap namun client selalu selamat, dan tidak pernah membocorkan informasi pada lawan.


Setelah membaca profil ketiga, pak Perwira mengernyitkan dahinya.


" Kenapa orang dengan kemampuan seperti Muhammad Eko Wijaya masih ada di Yudha Pratama ?" tanya Pak Perwira dengan penasaran.


"Karena belum ada kesempatan. " jawab komandan.


Jawaban dari komandan Ucok membuat pak Perwira semakin penasaran. Dirinya memang sering mengabaikan Yudha Pratama dan lebih mengurusi Satya Yudha namun dirinya masih tidak percaya ada orang seperti ini disatuan Yudha Pratama . Muhammad Eko wijaya setidaknya akan memiliki posisi komandan pleton di Wira Yudha.


" Apa maksudmu belum ada kesempatan?" pertanyaan ini dilontarkan dengan nada penasaran dan gereget karena Komandan Ucok tidak menjawabnya secara rinci.

__ADS_1


Komandan Ucok hanya bisa menghela nafas.


" Aku bertanya dengan serius. Sekali lagi kau menghela nafas, kamu tau akibatnya!!" pak Perwira memarahi Komandan Ucok karena menghela nafas didepannya. Komandan Ucok hanya tersentak hingga menahan nafasnya selama beberapa saat karena kejadian ini


__ADS_2