My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Jeritan Jaya


__ADS_3

Dua orang yang barusan melepas borgol Jaya langsung mengunci kedua tangan jaya ke belakang. Tubuhnya ditindih oleh kedua orang tersebut.


Krek!!!


Berniat melepas kuncian tersebut, Jaya malah mengalami dislokasi bahu. Jaya lalu berhenti meronta.


"Kalau dari tadi anteng kan enak." Ucap orang yang dipanggil kapten.


"Jadi kamu yang bernama Awang?" tanya orang itu lagi.


"Kamu masih bertanya?? lepaskan aku!!!" teriak Jaya. Jaya sekarang berpura pura menjadi Awang. karena apa? kalau Awang yang disiksa belum tentu dia tahan sampai bantuan tiba.


"Angkat kedua orang Satya Yudha itu. Kita hanya memerlukan target. " Ucap Kapten.


Awang dan Mario diangkat lalu diikat ke kursi.


Jaya diikat ke sebuah tiang. Tubuhnya digunakan sebagai permainan dart game. Jarum jarum tersebut mulai menghujam perut Jaya.


Kapten kembali mendekati Jaya. Dirinya membawa sebotol beer yang kemudian disiramkan ke tubuh Jaya.


"argh,,,," pekik Jaya.


"Kamu ini mau maunya seperti ini. Kamu tinggal mengatakan apa saja asetmu, berapa pin rekeningmu, dan beberapa tanda tangan, maka semuanya akan selesai. Aku bisa membuat kematianmu begitu mudah." ucap Kapten menyeringai.


Jaya meludahi muka kapten.


"cih!!!"


Kapten begitu marah. ditekannya bahu kiri jaya kuat kuat.


"arghh!!!" teriak jaya.


Mario dan Awang hanya bisa iba, namun keduanya tak mampu menghentikannya atau Awang yang akan disiksa.


Keringat membanjiri tubuh Jaya yang memang sudah basah karena diceburkan ke kolam.


"apa kau puas??" tanya Jaya mengejek.


Kapten begitu murka dengan sikap Jaya. ditariknya rambut Jaya kuat kuat. Apa daya? Jaya hanya meringis kesakitan.


"Kabar tentang Jaya begitu tahan siksaan ternyata benar." batin Mario kagum.


"cepat katakan!!!" Bentak Kapten. Jaya semakin terkekeh.


"Gertakan mu itu,,,, hanya,,, hanya seperti anak kecil yang minta permen,, hik,,, hiks,," Jaya terus tertawa.


"Apa kau mau aku bunuh mereka juga??!" teriak Kapten sembari menunjuk Mario dan Awang.


"Bunuh saja mereka berdua. Lagipula mereka begitu lemah hingga tidak danggup menjalankan tugas mereka dengan benar." Ucapan Jaya benar benar membuat Awang dan Mario terkejut.

__ADS_1


" Kenapa??" tanya Jaya kepada Kapten.


"Baiklah, gunakan cara kedua!!!" Teriak Kapten.


Beberapa anak buah Kapten tersebut keluar, dalam beberapa saat mereka datang dengan senampan bara api yang menyala.


Deg dege deg deg deg!!!! Jantung Jaya berdetak begitu cepat Dirinya mulai khawatir.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Jaya. Biasanya dirinya selalu tenang, tapi kecemasannya kali ini tidak bisa ditutupi lagi.


"Apa kau merasa takut?" tanya Kapten dengan senyum mengejeknya.


"Siapa yang tidak takut jika dalam posisi ini.?" Jaya semakin berdebar karena senyum licik yang Kapten keluarkan.


"Lepaskan dia!!!" teriak Kapten.


Ada empat orang yang melepas ikatan yang menjerat Jaya. Mereka bahu membahu melepaskan ikatan dan memegangi Jaya.


Mereka menjatuhkan Jaya dalam posisi telungkup.


Nampan yang berisi bara api tadi didekatkan hingga kedepan mukanya.


Mereka menginjak tangan kiri Jaya yang memang sedang cidera. Sedangkan tangan kanannya dipegang erat oleh tiga orang gangster.


"Aku beri kamu kesempatan satu kali lagi." ucap Kapten dengan wajah begitu dingin.


"Sekarang!!!" teriak Kapten.


Tiga orang yang memegang tangan kanan Jaya langsung menempelkannya ke bara api didepannya.


"Arghhh!!!" teriak Jaya kesakitan.


Mario dan Awang segera bereaksi namun beberapa orang mendekati mereka dan menodongkan senjata tajam. Mario hanya bisa pasrah melihat rekannya disiksa.


"Argh!!!!,,, " teriakan Jaya kian memilukan urat lehernya terlihat begitu jelas karena berusaha diam dan menerima rasa sakit tersebut dengan pasrah. Namun mulutnya tidak bisa sejalan dengan pikirannya.


Kapten mendekati Jaya dan menginjak tangannya. Mereka tertawa begitu keras mendengar jeritan Jaya.


Beberapa saat kemudian, Jaya dilepaskan. Tangan kirinya langsung reflek memegang pergelangan tangan kanannya.


Nafas Jaya kian memburu karena amarah dan rasa sakit.


Dirinya mulai berfikir, kenapa pasukan bantuan sangat lama? Apa chip yang berada dalam lencana gagal dilacak atau bagaimana?


Jaya kembali diikat, lalu tubuhnya dilempar kepojok ruangan bersama Mario dan Awang.


"Kamu baik baik saja?" tanya Mario cemas. Jaya hanya mengangguk lalu memalingkan mukanya.


Gangster gangster tersebut keluar meninggalkan mereka bertiga.

__ADS_1


"Kenapa kamu melakukan ini semua?" tanya Awang. Matanya terus berkaca kaca dan kini air matanya mulai menetes.


"Tuan, kalau anda yang diposisi saya, apa anda kuat? kalau anda menyerah kita akan dibunuh pastinya. Mereka belum mendapat apa yang mereka inginkan. Tapi aku mempunyai putri yang masih kecil, tolong jaga dia kalau terjadi sesuatu." ucap Jaya.


Awang langsung menyangkal perkataan Jaya dan berkata semuanya akan baik baik saja.


"Tuan, dalam sepuluh menit ada kejadian apa kita semua tidak tahu." ucap Jaya lagi.


"Baik, kalau begitu, Kau kuangkat sebagai adik angkatku dan berhak atas 30% saham perusahaanku. Kalau kamu gugur itu semua akan menjadi milik pewarismu." ucap Awang sambil terus menangis.


Mario terharu melihatnya.


"Sudahlah,,, aku ingin tidur." ucap Jaya.


Jaya menyandarkan dirinya ditembok, lalu memejamkan matanya.


"Dia baik baik saja?" tanya Awang.


"Dia pasti baik baik saja. Percaya kepadanya.


Dia hanya ingin istirahat untuk memulihkan kondisinya." ucap Mario.


Satu jam berlalu, Jaya masih tidur.


Orang orang itu datang lagi. Jaya dibangunkan paksa.


"Berani beraninya kamu membohongiku ya." Ucap Kapten dengan nada dingin. Jaya diseret lalu diceburkan kedalam kolam.


Mereka menahan kepala Jaya agar tetap dibawah air.


Mereka berusaha menenggelamkan Jaya. Mario dan Awang begitu terkejut.


"Oh tidak!!! Jaya!!!" Teriak Mario cemas.


Jaya segera melemaskan badannya agar mengambang.


Berhasil!!!


Mereka mengangkat kepala Jaya, memastikan dirinya masih hidup atau tidak. Jaya mengambil nafas sehalus mungkin. Mereka kembali menenggelamkan kepala Jaya.


Jaya mulai khawatir nafasnya sudah menipis. Blukk!!! Jaya tersedak air laut. Dadanya begitu perih.


Jaya sudah tidak tahan. Dia hanya bisa pasrah ketika dia harus meminum air laut yang begitu asin. Bahkan kehidupannya tidak seasin ini.


Jaya mulai kehilangan kesadaran,,,


Der!!!der!!!derrr!!!


Entah apa yang terjadi diatas sana tapi Jaya kini sudah pingsan.

__ADS_1


__ADS_2