My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
HBD


__ADS_3

Setelah melakukan MRI Jaya dan Mario hanya tinggal menunggu obat dan langsung bisa pulang.


"Jaya,,, Jaya,,, tugas pertamamu sudah membuat kamu seperti ini." Ledek komandan Ucok.


Jaya hanya tersenyum kecut mendengarnya. Ya beginilah kondisinya yang sedang penuh luka.


Dan sepertinya dia harus belajar kidal karena tangan kanannya cukup parah dan mungkin membutuhkan waktu agak lama.


Jam 7 malam


Jaya sedang merenung dikamarnya. Pintu diketuk oleh seseorang.


"Masuk!!" teriak Jaya. Pintu lalu dibuka. Ternyata Komandan Ucok yang datang bersama Pak Perwira. Jaya begitu terkejut karena dirinya telanjang dada saat ini.


Jaya bergegas berdiri.


" Jangan terlalu banyak gerak. Istirahat saja" Ucap Pak Perwira.


Pak Perwira duduk di sofa samping ranjang Jaya.


"Mereka benar benar menyiksamu sejauh ini." Ucap Pak Perwira. Ada penyesalan dalam kata katanya karena tidak bisa mengirim pasukan bantuan lebih cepat.


" Dia akan segera sembuh, komandan." Komandan Ucok


berkata demikian untuk mengurangi rasa bersalah Pak Perwira.


" Benar, Pak. Saya akan segera sembuh." ucap Jaya.


"Saya tahu kalau kamu hanya ingin menghibur saya. Tapi luka ditangan kanan kamu itu,,,, akan membutuhkan waktu." Ucap Pak Perwira.


"Jaya, kamu memakai getah ganga?" Tanya Komandan Ucok.


Jaya mengangguk pelan.


" Tapi,,,,, Aku tidak memiliki minyak kelapa." Ucap Jaya.


"Aku ada, sebentar ya." Ucap Komandan Ucok lalu pergi meninggalkan kamar Jaya menuju ke kamarnya.


Tak berapa lama Komandan Ucok kembali ke kamarnya.

__ADS_1


"Ini yang kau butuhkan." ucap Komandan ucok sembari mengulurkan botol kaca yang berisi minyak kelapa.


"Terima kasih, Aku membutuhkan bantuanmu, bang." ucap Jaya. Komandan Ucok lalu mengangguk pelan.


Komandan Ucok lalu mengambil semua peralatan seperti cairan infus, kasa, gunting, tissue, dan beberapa obat lainnya.


Komandan Ucok duduk disamping Jaya. Dirinya lalu mulai membuka perban yang membalut luka Jaya.


Jaya segera memalingkan mukanya karena tidak tahan melihat kondisi tangan kanannya yang begitu parah.


"Aeghh,,," lirih Jaya. Ternyata perbannya lengket dan terasa perih ketika dicabut.


Komandan Ucok lalu membersihkan luka jaya dengan cairan infus, dan segera mengeringkannya.


Jaya segera berbaring dan meminta Komandan Ucok memegang tangannya erat erat. Komandan Ucok mengangguk paham.


Tetes demi tetes mendarat diluka Jaya. Jaya merasa perih yang amat sangat. Perih, panas, sakit, bercampur menjadi satu.


"Arghhh!!!" teriak Jaya. Dirinya tidak bisa menahannya lagi. Urat urat didahi serta lehernya menegang.


Jaya mencengkram lengan komandan Ucok kuat kuat dengan tangan kirinya. Komandan Ucok begitu terkejut melihat kondisi Jaya.


" tidarkhhh" pekik Jaya.


Komandan Ucok semakin bingung.


Tiba tiba muncul Bu Mona dan Adel dari luar kamar. Keduanya begitu terkejut ketika mendengar teriakan Jaya dan bergegas ke kamar. Ternyata apa yang dilihat lebih mengejutkan.


"Ya tuhan, Papa!." ucap Adel.


Bu Mona tidak menyangka kondisi suaminya sedang seperti ini.


"Mama??"


Bu Mona mendekati suaminya.


"Dimana minyaknya ? segera oleskan!." ucap Bu Mona. Komandan Ucok segera mengolesakannya.


Jaya langsung berhenti menggeliat.

__ADS_1


Jaya mengatur nafasnya yang masih ngos ngosan.


"Papa?" tanya Adel.


"Iya, del?" jawab Jaya lalu melihat kearah Adel. Nafasnya masih tidak beraturan.


"Papa kenapa?" tanya Adel lagi.


" Papa cuma sedikit terluka. Hanya saja obatnya sangat perih." jawab Jaya gugup.


Adel memalingkan mukanya, tak kuat melihat kondisi tangan Papanya. Bu Mona berjalan menuju lemari pakaian suaminya lalu mengambil kimono. Bu Mona segera memakaikannya ke suaminya.


"Papa kok bisa samoai seperti ini?" tanya Bu Mona.


"Ada beberapa insiden hari ini. Maaf papa belum kasih kabar." ucap Jaya.


"Papa bukannya belum kasih kabar, tapi nggak berniat kasih kabar." ucap Bu Mona kesal.


Dirinya lalu mengambil beberapa barang yang ia bawa. Dirinya sudah masak masak namun suaminya tak kunjung pulang walau ini hari ulang tahunnya. Akhirnya Bu Mona dan Adel yang datang ke asrama.


Bu Mona menyalakan lilin diatas kue ulang tahun yang telah ia beli sebelum kemari. Komandan Ucok dan Pak Perwira berniat meninggalkan kamar Jaya namun mereka dilarang oleh Mona.


"Bang, Pak Perwira, kita makan malam bersama dulu, saya bawa cukup banyak."



**Jeng Jeng Jeng,,, guyssss ini dia kue ulang tahun Jaya yang super lucu dengan karakter taekwondo.


Oiya, mungkin besok author nggak up, karena ada urusan.


BTW, selamat ulang tahun ya Pak Henry Saputro. Anda adalah orang yang membawa saya dalam dunia jurnalistik dan mengajari saya bagaimana indahnya mendalami karya tulis.


Menulis itu bukanlah mendaki puncak tertinggi gunung. Karena setelah kita berada dipuncak kita juga harus turun.


Menulis itu seperti menyelam lautan tak berdasar,, terus terusss terussss ,,,,,,,


Terima kasih Pak Henry. Walau pertemuan kita begitu singkat dan lima tahun lebih kita tidak saling mengabari, percayalah suatu hari nanti kita akan bertemu.


Salam buat Higo juga ya pak**

__ADS_1


__ADS_2