
Rahmat merasakan sakit di bahunya. Dia terseret cukup jauh hingga ditemukan oleh sekolompok anak kecil yang sedang bermain di tepi sungai.
Rahmat mulai memejamkan matanya karena sudah kehilangan begitu banyak darah. Anak-anak yang melihat Rahmat pingsan langsung gempar karena menyangka Rahmat adalah mayat.
Mereka lari tunggang langgang memanggil orang dewasa.
3 orang pria dewasa yang kepo karena hal tersebut mendatangi sungai dan mendapati sesosok pria terkapar tak berdaya, masih mengucurkan darah dari kepala dan bahunya.
Tanpa pikir panjang lagi orang-orang tersebut membawa Rahmat ke puskesmas terdekat.
Untung saja dompet dan ponsel Rahmat tidak jatuh di sungai sehingga mempermudah proses administrasi.
Orang yang menolong Rahmat cukup lega karena ponsel Rahmat tahan air dan tidak mati saat tadi hanyut di sungai.
Orang tersebut juga segera menghubungi Pak Surya karena ponsel tersebut bisa dibuka dengan sidik jari Rahmat.
Pak Surya langsung mengabari anak buahnya agar menjemput Rahmat di puskesmas atau menemaninya sampai siuman.
Pak Surya begitu lega karena mendengar Rahmat masih hidup padahal menurut laporan yang anak buahnya berikan banyak darah berceceran dan dipastikan darah tersebut milik Rahmat.
Di Puskesmas tempat Rahmat di rawat.
"Anda keluarga pasien?" Tanya petugas.
"Bukan, saya nemu orang itu di sungai, tadi sudah saya telpon keluarganya katanya sudah di jalan." Jawab laki-laki yang membawa Rahmat ke rumah sakit.
Dan tidak lama kemudian, Indra datang sendirian ke Puskesmas karena teman-teman yang lain sibuk mengurus korban dari pihak punggawa Wijaya.
Tapi selang beberapa saat anggota Surya Yudha yang ditugaskan sudah sampai di puskesmas dan segera menyamar menjadi orang biasa untuk melakukan pengawalan.
"Dok, bagaimana keadaan boss saya?" Tanya Indra.
__ADS_1
"Kondisinya stabil, tapi kami tidak bisa mengangkat peluru yang dibahunya karena dekat dengan jantung, kami tidak bisa mengambil resiko." Ucap Dokter tersebut menjelaskan.
Indra langsung meminta dokter tersebut memberi rujukan ke W Hospital yang berada tak terlalu jauh, sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil. Dokter tersebut langsung menyetujuinya.
Indra langsung meminta anggota Wira Yudha untuk ekstra waspada karena hari ini mereka mendapat dua kali serangan. Di W hospital sudah ada tim yang bersiap juga.
Rahmat langsung di pindahkan ke W hospital. Disana juga sudah ada Alia dan Taufik. Walau mereka masih belum sembuh namun mereka begitu cemas dengan kondisi Rahmat karena serangan fajar yang ia terima.
Perjalanan dari puskesmas sampai ke W Hospital berjalan mulus tanpa hambatan.
Rahmat langsung menjalani operasi pengangkatan peluru dan juga pemasangan pen di bahu karena tulang belikatnya ternyata retak.
Bu Santi juga langsung meminta ke Jakarta kepada Pak Surya setelah mengetahui Rahmat juga terluka.
Ketika keduanya sampai di Jakarta, Rahmat sudah selesai di operasi dan masih belum sadar karena efek bius.
Saat adzan maghrib berÄ·umandang, perlahan Rahmat membuka matanya. Pak Surya terlihat begitu senang dan langsung menggenggam erat tangan kanan Rahmat.
"Ayah,," ucap Rahmat, dirinya begitu terpukul karena empat pengawal yang begitu akrab dengannya malah pergi begitu cepat.
"Apa sangat sakit?" Tanya Pak Surya cemas.
Rahmat mengarahkan tangan Pak Surya mengarah ke dadanya.
"Ini yang sakit,," ucap Rahmat. Air matanya meleleh begitu saja tak bisa dibendung lagi.
Pak Surya memahami yang Rahmat maksud rasa sakit adalah rasa sakit yang tertera di hatinya. Rasa kehilangan, amarah, kebencian bercampur menjadi satu.
Rahmat menangis tersedu-sedu di pelukan ayahnya tidak mempedulikan rasa sakit yang di bahunya.
Bu Santi tidak berkomentar apapun.
__ADS_1
Di antara ketiga anaknya yang termasuk jauh ke dia adalah Rahmat, karrna Rahmat lebih condong dekat dengan Ayahnya, sementara Taufik lebih lengket dengan dirinya, sedangkan Jaya sebagai anak pertama malah lengket dengan Ayah Ibunya.
Rahmat berusaha menenangkan dirinya dan kembali tidur walau terasa begitu sulit namun dia berhasil.
Bu Santi duduk di samping suaminya dan menggenggam tangannya erat. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya mengira akan terjadi serangan bertubi-tubi seperti ini.
"Kenapa jadi seperti ini, pak?" Tanya Bu Santi.
"Bu, bersabarlah,," jawab Pak Surya.
Keduanya saling berpandangan dan berakhir dengan pelukan.
Di Semarang, empat jenazah punggawa wijaya dimakamkan di pemakaman keluarga Wijaya sebagai bentuk kehormatan. Keluarga mereka tidak keberatan sama sekali.
Tak ada yang mengira bahwa serangan kali ini menyebabkan kehilangan yang begitu besar dari pihak keluarga Wijaya.
Pada saat terjadi penyerangan Alia juga ada tiga anggota yang gugur dan sekarang ada empat, ditambah belasan orang yang terluka.
Pak Surya memerintahkan untuk seluruh anggota keluarga Wijaya berkumpul di kediaman utama keluarga Wijaya yang di Semarang.
Tidak ada lagi yang tinggal di Bandung, Tangerang, Jakarta, mereka semua harus tinggal di Semarang.
Adel juga batal terbang ke Jakarta karena serangan ini.
Alia, Taufik, dan Bu Mona terbang ke semarang menggunakan pesawat komersial didampingi 15 orang punggawa Wijaya dan tambahan 5 orang dari Gang Tornado.
Sedangkan Rahmat menggunakan helikopter bersama dengan Pak Surya dan Bu Santi.
Hari itu semua anggota keluarga Wijaya sudah berkumpul di Semarang.
"Kalian pasti sedang menerka-nerka apa yang membuat kalian semua dikumpulkan di sini. Penyerangan seminggu terakhir audah membuat kita kehilangan banyak anggota dan menyebabkan melemahnya pengawalan kalian.
__ADS_1
Diluar sana juga banyak orang yang sedang mengincar nyawa kita. Selama Surya Yudha belum matang, kita masih kekurangan pengawal. Jadi, bekerjalah dari rumah, kalau di Semarang Ayah masih yakin kita aman." Jelas Pak Surya.