My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Karakter


__ADS_3

Hallo temen-temen semua, hari ini aku bakalan kasih tau char yang ada di novel ini.


Alia Eka Kusuma Alfa Putria Devi



Aku pakai karakter Prisia Nasution karena secara sifat dan bar-barnya ketika berantem itu mirip. Film Casini king jadi inspirasinya.


Amanda Adelia Putri Wijaya.



Adel Sebenernya bukan anak yang pergaulannya bebas, cuma dari segi pakaian dia anak muda banget gengs,,


Muhammad Eko Wijaya.



Babang Donny yang ada di gambaranku. Aslinya Donnie yen tapi karena Jaya orang jawa jadinya pakai Donny Alamsyah.


Monalisa Sahara



Kenapa Pakai sophia latjuba??? Karena kalau disandingin sama Jaya kayaknya cocok.


Muhammad Rahmat Wijaya



Kehati-hatian sama kewaspadaan Rahmat, juga Rahmat itu kalem, jadi aku pakai Char ini karena mungkin cocok.


Muhammad Taufik Wijaya



Soo Taufik itu orangnya bar-bar, dan usianya juga ngga beda jauh sama Alia.


Jonathan Aditama




Manja, playboy, anak konglomerat, cocok banget sama Verrel Bramasta.


Santoso



Cerdas, jenius, setia, multi talent dan paling penting adalah unyu-unyu, kok bisa-bisanya Alia gak peka ya?


Frederick Kusuma Wiyatama dan Alfa Kusuma Wiyatama



Mereka berdua itu kembar ya gengs,, Alfa Papa kandung Alia.

__ADS_1


dan selamat menikmati ceritanya.


*******


Perlahan Alia membuka matanya yang masih agak mengantuk walau sekarang jam sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi. Bu Mona sudah tidak ada di sampingnya lagi berarti sudah bangun dan mungkin sedang membuat sarapan sekarang. Alia segera meraih ponselnya dan membuka beberapa pesan yang masuk, termasuk pesan dari Santoso.


Alia tersenyum lebar saat membaca balasan dari Santoso. Ia begitu puas walau sudah tahu pasti apa jawabannya. Alia lalu berusaha duduk dan menyandarkan tubuhnya.


“Uhhh,,,” pekik Alia. Dirinya kurang hati-hati jadi lukanya sedikit tergesek dan terasa cukup perih.


Setelah membaca beberapa pesan penting lainnya, Alia berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka. Tangan kanannya masih sedikit kaku jika digunakan namun sudah tidak sesakit kemarin.


Alia cuci muka dengan hati-hati agar tidak ada gerakan mengejutkan yang nantinya kembali membuat lukanya nyeri.


Diraihnya handuk yang berada di balik pintu untuk menyeka mukanya yang basah. Setelah itu Alia kembali keluar.


“Good morning.” Sapa Bu Mona.


“Morning Mom.” Jawab Alia.


Bu Mona ternyata membawa roti isi keju coklat serta susu coklat panas untuk sarapan Alia. Alia tersenyum dan duduk di samping Mamanya.


Bu Mona menyuapi Alia dengan penuh kasih. Sebelum ini dirinya hampir tidak pernah menyuapi Alia dan baru kali ini dia menyuapi Alia sampai sehari tiga kali.


“Kapan Mama kembali ke Semarang? Papa kasihan.” Ucap Alia.


“Papa sudah besar, dia juga selalu mendapat perhatian penuh dari Mama. Walau Papa masih belum bisa banyak gerak namun kondisinya sudah stabil. Adel juga di sana merawat Papa dengan penuh perhatian.” Jawab Bu Mona.


“Syukurlah.” Ucap Alia.


Alia segera menghabiskan sarapannya.


“Kenapa tidak diberikan ke Santoso saja?” tanya Bu Mona.


“Ini tugas yang hanya bisa dikerjakan oleh aku atau om Taufik, tapi kita berdua kan sama-sama nggak bisa mengerjakan.” Jelas Alia.


“Lagipula Santoso sudah mengerjakan bagianku dan Om Taufik sangat banyak.” Lanjutnya.


“Baiklah, mau dilarang seperti apa juga hasilnya tetep sama.” Ucap Bu Mona.


Alia tersenyum dan mulai menciumi kedua pipi mamanya tanpa henti.


“Hentikaaan,, mama geli.” Pekik Bu Mona kesal setengah mati. Alia lalu berjalan menuju ruang kerjanya dan mulai membuka komputer dan beberapa berkas.


Karena terlalu asyik bekerja tak terasa waktu berlalu begitu cepat hingga jam makan siang.


Alia juga mendapat laporan bahwa Santoso hari ini tidak masuk kantor tapi alasannya tidak tahu.


Alia meminta seorang pelayannya memanggil Santoso dan menyuruhnya agar memberitahu Santoso Alia sedang mencarinya.


Alia duduk kursi bersebelahan dengan Bu Mona dan Pak Surya duduk di kursi kepala keluarga saat di meja makan.


Santoso datang dengan muka tertunduk dan bingung kalau nanti Nonanya banyak pertanyaan.


“Anda memanggilku, Nona?” tanya Santoso to the point.


“Duduklah, makan siang bersama kami.” Ucap Alia.

__ADS_1


Santoso duduk di samping Taufik dengan ragu.


Seperti biasa, mereka makan tanpa ada pembicaraan sedikitpun. Setelah selesai beberapa pelayan langsung membereskan piring kotor di meja tersebut.


“Hari ini kamu tidak ke kantor?” tanya Alia. Tatapannya tajam seperti ingin menusuk Santoso.


Alia sepertinya merasa ingin memarahi Santoso karena dirinya tidak masuk kerja dengan alasan yang tidak jelas, apalagi saat tidak ada orang di kantor yang bisa dia percayai.


“Maaf Nona, saya bisa memberi anda penjelasan untuk semua ini.” Ucap Santoso.


“Katakan.” Balas Alia.


“Semalam saya mendapat penyerangan di tempat yang sama, untung saya bisa kabur jadi tidak ada luka serius hanya lebam di dagu saja,” jelas Santoso.


“Saya tidak ingin kejadian serupa terulang kembali apalagi besok saya harus duel dengan Jonathan, saya harus menyiapkan diri dengan benar. Saya juga sedang menyelidiki orang-orang yang semalam menyerang saya karena semalam Gang Tornado berhasil menangkap beberapa orang yang menyerang saya hidup-hidup dan berada di markas mereka sekarang.” Santoso berbicara panjang lebar demi memuaskan Alia.


“Ya sudah. Kamu benar-benar tidak terluka kan? Mereka sangat ahli menggunakan senjata tajam. Orang-orang kita yang ahli bertarung tangan kosong sedikit kesulitan menghadapi mereka.,” gumam Alia.


“Iya Nona. Saya pamit dulu karena ingin mengerjakan beberapa hal.


“Tuan Besar, saya undur diri dulu. Nyonya muda,” ucap Santoso. Mereka bertiga mengangguk.


Santoso lalu berjalan menuju kamarnya. Sudah saatnya mengolesi lukanya dengan obat.


Alia juga kembali mengerjakan tugasnya di ruang kerja hingga malam. Jika Bu Mona tidak mengingatkannya untuk istirahat mungkin dirinya akan lembur sampai pagi.


Jonathan memberi tahu papanya tentang duel yang akan dilaksanakan besok siang. Raut muka Tuan Andreas langsung berubah saat mendengarnya.


“Kamu benar-benar ceroboh.” Ucap Pak Andreas sembari menghisap cerutu yang diapit sua jarinya.


“Kenapa pa? Bukannya Santoso itu asisten Alia di kantor?” tanya Jonathan.


“Santoso bukan asisten biasa, dia pengawal pribadi Alia. Dan yang menjadi pengawal seorang petarung pasti bukan orang biasa. “ jelas Tuan Andreas.


“Jangan memaksakan. Kalau kamu tidak bisa mengalahkannya besok maka menyerah saja. Masih banyak kesempatan jika kamu selamat.” Lanjutnya.


Kini terjawab sudah semua pertanyaan di benak Jonathan tentang ketenangan Alia kemarin. Dirinya begitu ceroboh telah bersikap demikian.


“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Jonathan kebingungan.


“Kalau kalah sudah biasa, tapi jangan sampai kalah sebelum bertarung. Itu namanya pengecut.” Jawab Tuan Andreas.


Jonathan mengangguk paham lalu pergi meninggalkan Papanya menuju ke kamarnya.


Tuan Andreas ingin melarang putranya bertarung tapi itu akan melukai harga diri Jonathan sendiri sebagai seorang penantang.


Tuan Andreas menghubungi Alia dan meminta ini sebagai pertarungan persahabatan dan Alia menyetujuinya.


Dan secara tidak langsung pertarungan ini juga menjadi sebuah penentuan apakah Jonathan akan diterima atau ditolak oleh Alia.


Dan Alia yang tidak mempunyai niat buruk sedikitpun langsung menyetujui ajang duel ini sebagai pertandingan persahabatan.


Di Semarang,


Jaya sudah mulai bisa duduk walau harus dibantu namun ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Setiap hari akan ada dua dokter yang mengawasi Jaya secara langsung selama Mona sedang di Jakarta dan Jaya sama sekali tidak menolaknya karena berbarap dirinya segera pulih.


Adel begitu perhatian kepada Papanya hingga sering meninggalkan tugasnya demi menemani Papanya. Jaya begitu senang karena Adel begitu perhatian. Tak jarang Adel yang mengganti perban Papanya apabila basah ataupun kotor.

__ADS_1


Bu Santi meminta suaminya segera pulang kalau cucunya sudah baikkan dan Pak Surya pun menjanjikan dirinya lusa sudah berada di rumah.


__ADS_2