My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
sakit


__ADS_3

Bu Mona dan keluarganya sebenarnya marah karena Alia kali ini terluka begitu parah. Namun karena Alia sedang tidak ingin membicarakannya jadi Bu Mona terpaksa tutup mulut.


“Ma, aku tahu apa yang sedang mama pikirkan dan mama rasakan.” Ucap Alia.


“Coba katakan.” Ucap Bu Mona.


“Mama pasti marah kepada orang-orang karena aku sampai separah ini. Tapi ma, mereka sudah berjuang sekuat tenaga. Tidak ada yang perlu disalahkan,.” Ucap Alia.


“Kamu memang benar-benar setia kawan, bahkan kepada para pengawalmu sendiri.” Ucap Bu Mona bangga.


Alia yang dari kecil hidup dalam dunia fighter memang memiliki jiwa setia kawan dan rasa solidaritas yang tinggi.


Dirinya tidak mempunya banyak kawan sejak kecil karena memang dilahirkan dikeluarga konglomerat hingga belum sempat bersosialisasi dimasyarakat sampai kedua orang tuanya meninggal.


Dalam hidupnya ia lebih banyak memiliki lawan dan saingan karena hanya yang kuat yang dihormati. Namun karena kerendahan hati Alia banyak yang tidak menyukainya.


Alia menatap wajah Mamanya dengan sendu. Perlahan airmata menetes dari pelupuk matanya dan mulai membasahi pipinya.


Bu Mona memeluk putrinya dengan hati-hati agar tidak menyakitinya.


“Mama tidak akan mengungkitnya lagi. Mama tahu kamu menyayangi semua orang yang ada disekitarmu, apalagi yang selama ini menjaga kamu siang dan malam.” Ucap Bu Mona.


“Thank’s mom.” Ucap Alia.


“Tentu, mama tidak akan menghukum mereka. Sekarang kamu istirahat saja,”ucap Bu Mona.


Alia memggelengkan kepalanya tak ingin kembali berbaring ditempat tidur lagi.


“Lalu mau apa kamu?” tanya bu Mona.


“Kita duduk di gazebo.” Ucap Alia.


Bu Mona lalu menangguk dan bangkit dari tempat tidurnya.


Bu Mona meraih arm sling yang ia bawa. Arm sling adalah salah satu body supporter yang berfungsi untuk menyangga lengan yang terluka atau patah.


Bu Mona membantu Alia mengenakannya dengan perlahan agar tidak menyakitinya. Setelah selesai, Bu Mona mengaitak jubah tidur yang berupa kimono namun ukurannya besar dan mengikat tali yang terletadi pinggang.


Kini hanya tangan kiri Alia yang nampak karena tangan kanannya terlindungi jubah tidur agar lukanya tidak tergesek.


Dilain tempat, Tuan Fred sedang memarahi Rich karena baru mengabari bahwa Alia terluka karena ada penyerangan.


“Kurang ajar!! Kenapa kamu baru memberi kabar?!”tanya Tuan Fred geram.

__ADS_1


“Maaf Tuan, saya melihat anda sangat sibuk jadi saya tidak berani memberi tahu info ini.” Ucap Rich.


“Lalu bagaimana kabarnya?” tanya Tuan Fred lagi.


“Kemarin rumah sakit keluarga anda yang menangani, luka terdapat dipunggung dan lengan kanannya namun semua baik-baik saja. Dokter Nur yang menangani.” Ucap Rich dengan tubuh gemetar.


Keputusannya agar tidak memberi tahu tuannya ternyata suatu kesalahan besar karena baru kali ini ia melihat Tuan Fred semarah ini.


Tuan Fred menelpon seseorang.


“Hallo, dokter Nur.” Ucap Tuan Fred.


“Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya Dokter Nur yang diseberang sana.


“Kemarin Alia anda yang menangani?” tanya tuan Fred lagi.


“Benar Tuan. Anda tidak perlu khawatir, ponakan anda adalah gadis yang kuat, walau sempat pendarahan tapi sekarang kondisinya sudah membaik. Saya jamin itu.” Ucap Dokter Nur dengan tegas dan tanpa keraguan sedikitpun.


Tuan Fred menghela nafas lega. Kalau yang mengatakannya adalah Rich mungkin dirinya tidak percaya namun kali ini yang mengatakannya adalah Dokter Nur, salah satu dokter kepercayaannya.


“Baiklah, dok. Maaf kalau mengganggu waktumu.” Ucap Tuan Fred tak enak hati karena mengganggu dokter Nur.


“Jangan seperti itu tuan. Anda sama sekali tidak mengganggu.” Ucap dokter Nor.


Tuan Fred kembali menatap Rich dengan tajam.


“Kapan para kolega disini akan menyelesaikan urusan kita?” tanya Tuan Fred.


“Tiga hari Tuan. Setelah itu anda langsung menuju jepang untuk bertemu dengan tuan Hashirama.” Ucap Rich.


“Apa ke jepang tidak bisa ditunda?” tanya Tuan Fred dirinya begitu cemas sekarang.


“Maaf tuan, kalau memperaingkat pertemuan bisa. Dalam jadwal seharusnya 3 hari namun kalau anda ingin secepat mungkin kembali ke Indonesia maka anda harus secepat mungkin menangani tuan Hashirama.” Jelas Rich. Tuan Fred hanya bisa menghela nafas tapi mau bagaimana lagi? Setelah mendengar penjelasan dari dokter Nur sebenarnya Tuan Fred sedikit lega namun ia masih ingin menemuinya sendiri.


Dan di Semarang, Jaya sedang bertanya kepada Bu Santi bagaimana kabar Alia. Bu Santi menjelaskan semua yang ia tahu tanpa ia tutupi sedikitpun.


“Maka dari itu, cepatlah sembuh agar bisa ke Jakarta.”ucap Bu Santi.


“Aku mampu sebenarnya, namun semua orang melarangku, Bu.” Keluh Jaya.


Bu Santi lalu melakukan panggilan video kepada Mona dan kebetulan sekali Mona sedang bersama Alia.


“Hallo Mona, bagaimana kondisi Alia?” tanya Bu Santi.

__ADS_1


“Dia baik-baik saja. Hanya luka luar dan tidak perlu terlalu khawatir. “ ucap Bu Mona.


“Eyang, aku baik-baik saja. Sampaikan ke Papa aku baik-baik saja, hanya luka luar.” Ucap Alia bersemangat.


“Muka pucat begitu bilang baik-baik saja.” Celetuk Jaya. Dirinya tau kalau putrinya pasti mengalami pendarahan yang cukup parah hingga pucat seperti itu.


“Tapi sekarang sudah tidak sakit Pa.” Balas Alia tak mau mengalah.


Keduanya tidak ada yang mau mengalah hingga membuat Bu Santi pusing dan akhirnya memutuskan mengakhiri panggilan video tersebut.


Bu Mona menatap putrinya seksama.


“Memang sudah tidak sakit?” tanyanya.


“Masih sakit, Ma. Biar Papa nggak khawatir. Sakit banget malah.” Ucap Alia.


“Perbannya boleh dibuka setelah 24 jam. Tapi nanti jam 9 malam mama cek aja.” Ucap Bu Mona.


“Memang harus nanti malam ya ma? Kenapa tidak dibiarkan terbuka saja?” tanya Alia.


Menurut Bu Mona ini adalah pertanyaan konyol.


“Kamu mau infeksi?” tanya Bu Mona dan direspon oleh gelengan kepala Alia.


“Hari pertama luka jahitan itu harus tertutup namun sirkulasi udaranya ada. Apabila lukanya terbuka maka bisa terjadi infeksi. Paham?” jelas Bu Mona.


“Paham Ma.” Jawab Alia.


Pak Surya menghampiri keduanya dan duduk disamping Alia.


“Sudah baikkan?” tanya Pak Surya.


“Sudah eyang.” Jawab Alia.


“Tapi jelas bohong. Harusnya sekarang lagi sakit sakitnya karena bangun tidur dan pain killer habis. Iya kan?” ledek Pak Surya.


Dirinya pernah muda dan sering terluka. Ia pernah merasakan apa yang cucunya rasakan.


“Setidaknya ini lebih baik dari saat disiram alkohol maupun disuntik.” Celetuk Alia.


“Memang kamu belum pernah suntik bius?” pak Surya heran dengan perkataan Alia barusan karena sepengetahuannya Alia sering terluka apa selama ini dia tidak pernah disuntik bius?


“Pernah, namun yang sebanyak dan sesakit tadi malam belum pernah. Benar-benar,,, luka sedang sakit-sakitnya disuntik ditengahnya.” Ucap Alia.

__ADS_1


“Ehem,, tau begitu semalam mama telpon dokternya biar kamu nggak dibius sekalian.” Ucap Bu Mona. Dia adalah dokter bedah dan sering menjahit luka-luka seperti Alia bahkan dalam beberapa kasus ada luka yang tidak boleh dibius.


__ADS_2