My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Awang Perkasa


__ADS_3

Tugas pertama Jaya adalah melakukan pengawalan terhadap seorang pengusaha muda. Namanya adalah Awang Perkasa. Dia adala seorang pengusaha yang barbakat sehingga mencapai kesuksesan diwaktu yang relatif muda.


Namun sukses bukan berarti aman. Karena kecerobohannya sendiri mengungkap beberapa usaha ilegal milik seorang mafia membuat dirinya dikejar oleh gangster yang dimiliki mafia tersebut.


Jaya dan rekan rekannya menjemput Awang disebuah restoran. Tujuan mereka adalah sebuah tempat di Jawa Barat, tepatnya adalan Bandung.


Awang masuk ke dalam mobil jemputan dengan tergesa gesa. Dirinya tidak pernah merasa aman sejak hari itu. Sejak mengungkapkan bisnis penjualan organ manusia. Bagaimana tidak? salah satu korban bisnis tersebut adalah keponakannya yang masih berusia 8 tahun.


Walau sudah mendapat jaminan dari polisi, namun gangster gangster itu sepertinya mengetahui celah dimana polisi sedang tidak menjaganya.


Dan untuk mengganti apa yang Awang lakukan, mereka ingin menguasai seluruh aset yang Awang miliki.


"Hmm,,, kalian ada berapa orang?" tanya Awang kepada Jaya.


" Siap! kami bersepuluh." Jawab Jaya.


"Bisakah kalian menghilangkan kata siap, aku ingin komunikasi ini tidak seformal itu." Awang merasa risih karena mereka terlalu formal.


"Baiklah, sesuai keinginan anda."Jawab Jaya.


"Apakah kalian sudah berkeluarga?" Tanya Awang untuk mencairkan suasana.


"Sudah." Jawab Jaya singkat.


"Belum." jawab Bagas sembari menggelengkan kepalanya perlahan.


"Oohh,, Siapa nama kalian? Bagaimana aku harus memanggil kalian?" tanya Awang lagi.


"Nama saya Jaya, anda bisa memanggil saya Jaya." jawab Jaya dengan senyum ramah menyungging dibibirnya.


"Nama saya Bagas, Anda bisa memanggil saya Bagas,." ucap Bagas. Mereka memperkenalkan diri mereka secara bergantian.


"Hmm,, Jaya, kamu memiliki anak?" tanya Awang lagi.


Para pengawal tidak memiliki hak untuk mengajak Client nya ngobrol, tapi jika Client yang bertanya mereka harus menjawabnya.


"Yang kecil sekarang usia 12 tahun." Jawab Jaya.


"Dia pasti bangga memiliki Ayah seperti kamu, karena kamu bisa melindungi keluarga kamu sendiri." ucap Awang.


"Tuan, sebenarnya tidak sesederhana itu. Kalau Tuan mempunyai putra atau putri pasti Tuan tahu. Tugas kami melindungi orang membuat kami kadang tidak dapat melindungi keluarga. " Jelas Jaya.


"Pantas saja dikomplek tempatku tinggal, ada seorang security yang kemalingan. Aku saja sampai bingung." ucap Awang terkekeh.


"Anak Tuan pasti bangga memiliki Anda sebagai Ayahnya." ucap Jaya


Raut muka Awang berubah ketika mendengar ucapan Jaya.


"Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Jaya bingung.

__ADS_1


"tidak,," Awang menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Andai perkataanmu benar, Jaya. Aku pasti sangat bahagia." ucap Awang sambil memandang jalanan. Kini mereka sedang terjebak kemacetan.


"Apa maksud anda, Tuan?" Tanya Jaya bingung.


Bagas daritadi hanya mendengarkan percakapan keduanya. Jaya yang biasa menjadi negosiator memang lebih mudah berkomunikasi daripada yang lain.


"Saya tidak tahu apakah anak saya senang atau tidak. Saya berusaha memberikan apa yang dia inginkan. Tapi jarang aku melihat raut kebahagiaan di wajahnya." ucap Awang lagi. Dirinya merasa sedih.


"Hmm, Apa anda tau, Tuan? saya dulu merasa seperti itu. Namun pikiran saya salah. Diam diam saya membaca diary anak saya dan dia menulis bahwa dia senang memiliki ayah seperti saya. Namun kebanggan itu tidak bertahan lama karena pekerjaan membuat saya jauh dari keluarga. Saya berusaha untuk mengambil hati anak saya lagi. Mereka butuh kasih sayang dan waktu." Ucap Jaya.


Ada cahaya di mata Awang.


" Ternyata Surya Yudha mengirim salah satu senior ya." ucap Awang kagum. Dirinya terkejut ketika mendengar ucapan Jaya. Bahkan psikiater saja sulit memberi solusi. Mungkin ini juga pengakaman pribadi Jaya.


Jaya kini salah tingkah.


"Ada apa?" tanya Awang curiga.


Kini bagas yang berbicara.


"Sebenarnya Jaya anggota Satya Yudha baru. Ini adalah tugas pertamanya." jawab Bagas.


Awang sedikit tersinggung karena Surya Yudha tidak mengirim orang berpengalaman pikirnya.


"Tapi apa anda tau Tuan, Jaya ini selamat setelah empat kali tertembak dan juga tertusuk." Puji Bagas, membuat Jaya salah tingkah.


"Kurang lebih seperti itu." Jawab Bagas.


Pandangan Awang terhadap Jaya kini berubah.


"Jadi kamu baru naik dari Wira Yudha?" tanya Awang. Matanya menatap Jaya tajam.


"Saya dari Yudha Pratama langsung naik ke Satya Yudha." Jawab Jaya.


Tak terasa kini mereka sudah melewati kemacetan dan dijalan yang berada ditepi hutan.


"Kenapa kita tidak lewat tol terus?" Tanya Awang.


"Karena itu artinya kita harus ke Jakarta dulu, Tuan."


Mobil mulai memasuki jalanan sepi. Tanpa ada yang menyadari, mobil pengawal yang harusnya tak jauh dibelakang mereka kini entah kemana.


Dan pas ditengah hutan, mobil pengawal yang berada didepan tiba tiba mogok.


Jaya keluar dari mobil untuk memeriksa keadaannya.


"Kenapa?" tanya Jaya kepada Mario.

__ADS_1


"Bannya kempes. Tapi aneh, 2 ban sendiri yang kempes." Jawab Mario. Beberapa anggota Satya Yudha yang lain keluar untuk membantu mengganti ban yang kempes.


Mereka baru sadar satu mobil yang harusnya dibelakang mereka tak kunjung muncul setelah beberapa menit mereka berhenti.


Mario segera menghubungi Alvin yang bertugas mengendarai mobil tersebut.


"Apa? Diserang?!" teriak Mario saat menghubungi rekan rekannya.


*******


Dimobil pengawal bagian belakang.


"Kenapa mereka sangat cepat?" Keluh Alvin kesal.


"Sabar." Adit berusaha menenangkan Alvin,,


Laju mobil sedikit terganggu. Alvin menghentikan mobil yang ia kendarai.


"Bannya kempes!!" teriak Alvin semakin kesal. Tiga orang kawannya langsung turun dari mobil.


"Ayo, langsung saja kita ganti ban nya." Ajak Hendra. Hendra lalu mengambil ban cadangan dari bagasi mobil.


Ada tiga mobil yang melaju ke arah mereka. Hendra curiga karena dijalanan seperti ini jarang sekali kendaraan yang melintas secara bersamaan.


Mobil mobil tersebut berhenti di depan mobil Satya Yudha. Mereka turun dari mobil lalu memberikan serangan secara membabi buta.


Walaupun Satya Yudha adalah pasukan elite namun mereka terap manusia. Jika diserang dalam waktu bersaam dengan jumlah yang lebih banyak mereka juga kewalahan.


Memmang para penyerang tidak menggunakan senjata api, namun pisau dan tongkat besi juga cukup untuk membuat mereka kualahan.


Hendra dan kawan kawannya bertarung sekuat tenaga. Mereka mencemaskan keadaan client mereka yang ada didepan sana.


Pertarungan berlangsung singkat. Dalam sepuluh menit mereka para Satya Yudha berhasil ditaklukan.


Para penyerang bergegas pergi sebelum ada yang lewat.


Earphone yang Hendra gunakan berdering.


"Mario, kami diserang. Kalian waspada, mereka cukup banyak. " ucap Hendra sambil merintih kesakitan.


"Apa? diserang?!" teriak Mario.


*******


"Rombongan belakang diserang , kita harus lebih waspada." ucap Mario ke Jaya.


Jaya sedikit khawatir. Mereka menyiagakan senjata masing masing dan memberitahukan ke pusat tentang penyerangan tersebut.


Markas pusat segera mengirim bantuan namun jarak markas terdekat setidaknya 25 km.

__ADS_1


"Kenapa mereka menyerang dihutan seperti ini?" ycap Awang khawatir


__ADS_2