My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Terbongkar


__ADS_3

Alia kembali melakukan perjalan menuju Jakarta. Sesampainya disana Alia langsung mengerjakan setumpuk pekerjaan yang tertunda selama beberapa hari. Walau Santoso membantunya sekuat tenaga, ada beberapa dokumen yang memerlukan persetujuan Alia, tidak boleh yang lainnya.


Sementara itu, Jaya mulai melakukan tugas pengintaian. Dia menyamar menjadi preman pasar yang ingin bergabung menjadi anggota Gang Tengkorak Iblis. Tubuhnya yang kemarin begitu atletis kini berubah menjadi begitu dekil.


Jaya memang sudah melakukan persiapan jauh jauh hari dengan melakukan pengamatan kepada preman preman yang ada dipasar. Bagaimana tingkah laku, cara bicara, bahkan cara ketika mereka makan pun Jaya perhatikan.


Kadang Mona sampai emosi kalau Jaya menirukan cara makan para preman tersebut yang mirip seperti cara makan kuda.


Karena kemampuan bertarung dengan tangan kosong Jaya bisa memukau beberapa pemimpin Gang Tengkorak Iblis, maka Jaya bisa masuk. Lalu Jaya ditanya apa hisa menggunakan senjata? Jaya hanya berkata bisa menggunakan senjata semacam pisau, golok, celurit.


Para petinggi Gang Tengkorak Iblis pun tidak masalah karena mereka juga masih butuh petarung tangan kosong yang handal.


Jaya meninggalkan keluarganya dan menetap di markas Gang Tengkorak Iblis iblis sampai 3 bulan kemudian, penyamarannya terbongkar. Jaya menjadi bulan bulanan anggota Gang Tengkorak Iblis yang murka.


Jaya disuntik serum pelemah syaraf hingga terkapar tak berdaya.

__ADS_1


Setelah babak belur, Jaya mulai dapat merasakan sebagian tubuhnya. Terbesit suatu pikiran yang begitu konyol diotak Jaya.


Jaya mematahkan jari manis dan kelingking tangan kanannya. Dan berhasil!!! Jaya bisa merasakan tubuhnya kembali.


Jaya berlari sekuat tenaga berusaha keluar dari Markas Gang Tengkorak Iblis. Dirinya menuju pasar dimana ada markas tersembunyi milik Satya Yudha. Jaya mengambil pakaiannya dan meminjam mobil yang ada.


Jaya bergegas pulang ke rumahnya. Ia yakin penampilannya sudah berubah 180 derajat dari satu jam yang lalu.


Walau ada beberapa luka lebam dibibirnya tapi Jaya menggunakan masker dan kaca mata hitam.


"Mama dimana?" tanya Jaya sambil meringis kesakitan.


"Mama tadi keluar." jawab Adel.


"Minta Mama pulang sekarang, jangan keluar dulu." perintah Jaya.

__ADS_1


Jaya berlari menuju kamarnya. Ia membuka seluruh pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian yang bersih.


Setelah dua puluh menit, Mona masuk kekamarnya dengan tergesa karena takut suaminya terluka.


"Papa kenapa?" tanya Mona cemas melihat Jaya yang babak belur.


"Jari Papa patah, ini lebih sakit dari patah tulang rusuk." jawab Jaya.


Mona langsung memeriksa tangan kanan Jaya dan bemar saja, jari manis dan kelingking Jaya patah. Mona mengambil tiga benda seperti stik es krim, lalu melekatannnya disela sela jari yang patah dan melakukan pembidaian.


"Papa jangan banyak gerak tangan kanannya. Ini kalau nggak operasi ya setidaknya 3 kali terapi di tempat om Arif di Semarang." ucap Bu Mona menjelaskan.


Bu Mona memberikan obat pereda nyeri dan menyuruh Jaya untuk istirahat. Jaya tentu tidak akan menolak setelah lari kurang lebih 6 km, dia merasa cukup lelah. Apalagi dalam larinya ia dituntut harus tetap siaga atau apabila ada serangan mendadak maka nyawanya akan terancam.


Bu Mona menemui Adel yang sangat cemas dengan kondisi Papanya, Bu Mona menjelaskan Papanya baik baik saja dan butuh istirahat karena habis berlari sangat jauh.

__ADS_1


Adel mengangguk paham dengan perkataan mamanya.


__ADS_2