My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Paragon Mall


__ADS_3

"Eyang?" Adel sedang mencari keberadaan Eyangnya, yaitu Bu Santi.


Adel lalu pergi ke taman belakang rumah. Benar saja, Bu Santi ada di taman belakang.


"Eyang?" panggil Adel.


" Iya, ndok?" jawab Bu Santi.


Adel berlari mendekati Eyangnya yang sedang menyiram tanaman.


"Adel mau pergi jalan jalan dulu boleh?" tanya Adel sambil memasang muka melas.


" Jalan jalan kemana?" tanya Bu Santi


"Ke mall, Adel suntuk, Papa juga harus istirahat. Adel mau beli sesuatu yang mau Adel beli." mohon Adel lagi.


"Mau beli apa?" tanya Bu Santi


"sepatuu,," jawab Adel masih memasang muka melasnya


"Sepatu apa?" tanya Bu Santi lagi.


"Sepatu basket." jawab Adel


Bu Santi mengerutkan dahinya yang memang sudah berkerut.


"Memangnya di nasional kita nggak ada sepatu basket?"tanya bu Santi 'gumun' (agak bingung)


"Ada, cuma ada sepatu basket jordan keluaran baru, Adel mau beli buat kakak." jawab Adel lirih.


"Baiklah, nanti ditemenin sama orang Eyang ya."


Adel tersenyum kegirangan dan segera memeluk Eyangnya.


Bu Santi mengeluarkan kartu kredit dan memberikannya pada Adel.

__ADS_1


"Gunakan seperlunya," ucap Bu Santi.


Adel menerima kartu kredit tersebut dan segera pergi untuk bersiap.


****


"Adel mau pergi ke mall, kamu jagain dia." perintah Bu Santi pada Santoso, orang kepercayaan keluarga wijaya.


Jam 10 pagi Adel baru pergi dengan mobil BMW milik Eyangnya, tentu saja bersama Santoso, orang kepercayaan Bu Santi.


"Paman, Eyang minta paman jagain aku ya?" tanya Adel.


"Iya, bagaimanapun kamu cucu kesayangan nyonya besar, beliau tidak mau ada yang mengganggu kamu nanti." jelas Santoso.


"Tapi Adel pengin mandiri." Adel memasang muka cemberut.


"Hehe,, Adel tenang saja, didalam Mall nanti paman memantaunya jaga jarak. Kalau lagi lihat lihat apa gitu juga paman nggak akan batesin." jelas Santoso.


"Janji, ya." Adel mengulurkan kelingkingnya, Santoso pun menanggapinya dengan uluran kelingking juga. Mereka berdua membuat janji kelingking.


*****


"Lebih enakan, bu." jawab Pak Eko.


Suaranya terdengar begitu lemah.


"Ibu bawakan sarapan, sekarang kamu makan yah." ucap Bu Santi.


Bu Santi berusaha membantu putranya bangun, tapi Pak Eko menolaknya.


"Eko nggak bisa bangun bu." ucap pak Eko.


Mendengar perkataan putranya membuat Bu Santi mengerutkan dahinya.


"Memangnya kenapa? Masih sangat sakit?" tanya bu Santi kebingungan.

__ADS_1


"Iya, selain itu aku juga masih telanjang, bu." jawab Pak Eko malu malu.


"kok bisa?" tanya Bu Mona sambil terkekeh.


"Gara gara Ayah." jawab pak Eko cemberut.


Kini bu Santi semakin tertawa.


"Itu karena kalo kamu berpakaian pasti kamu kemana mana. Kamu pasti memaksakan diri. Sudahlah, Ibu suapi saja ya." ucap Bu Santi masih diiringi gelak tawanya.


Pak Eko menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"Ibu, diamana Adel?" tanya Pak Eko


"Lagi ke paragon, tadi pamit ke Ibu katanya mau beli sepatu." jelas Bu Santi. Dirinya tidak ingin putranya salah paham ke cucu kesayangannya ini.


"Oohhh,,, sama siapa bu?" tanya pak Eko lagi.


"Tadi ibu minta Santoso yang jagain Adel. Ibu tidak mungkin juga kalau membiarkan Adel pergi sendiri." ucap Bu Santi.


Perlahan Bu Santi mulai menyuapi Putranya. Pak Eko juga tidak bisa menolak suapan ibunya. Entah kenapa walaupun dirinya ingin mengatakan tidak tapi mulutnya selalu terbuka lebar ketika ibunya menyuapkan makanan.


Pintu kamar tiba tiba dibuka, ternyata Pak Surya, Ayah dari Pak Eko.


"Nanti habis makan kita pengobatan ya." ucap pak Surya.


Pak Eko hanya mengangguk karena mulutnya terisi penuh makanan.


*****


"Paman, tolong fotoin dong" pinta Adel pada Santoso.


'cepreeett' Santoso memotret tuan putrinya yang satu ini dengan begitu bagus


__ADS_1


Adel begitu anggun menggunakan celana hitam ketatnya serta atasan berwara pink. Hiasan pohon sakura dibelakanya juga menambahkan kesan yang anggun untuk Adel


__ADS_2