My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Latihan Keras


__ADS_3

Setelah sepuluh menit istirahat, Adel kembali berlatih keras. Kali ini Adel Kyorugi (fighting) bersama sabeum Rahmat. Berkali kali Adel menyerang namun Sabeumnya sungguh lincah. Justru ketika Sabeumnya menyerang, Adel tidak kokoh dalam bertahan.


Sabeum: instruktur


Adel pantang menyerah melakukan serangan serangan yang lama lama tak beraturan, BRUTAL!


"Kamu jangan panik kalau menghadapi lawan yang lebih tangguh. Waktu awal serangan kamu masih ok, bertenaga. Namun lama kelamaan serangan kamu begitu rapuh. Perhatikan itu!" ucap Sabeum Rahmat memberi arahan.


Adel mengangguk mengerti.


Latihan kembali dilanjutkan, Kali ini Adel tidak langsung menyerang namun mencari celah lawan. Setelah beberapa saat menanti, Bruakh! Adel berhasil menendang kepala Sabeum Rahmat.


"Bagus!!!" teriak Sabeum Rahmat bersemangat. Adel kini sudah mendapatkan insting bertarungnya lagi yang sempat tidur.


Mereka kembali berhenti sejenak.


"Besok kita tidak latihan jadi hari ini latihan akan lebih berat, tapi jangan khawatir, kita hanya akan latihan fisik saja." ucap Sabeum Rahmat.


Sabeum Rahmat menyuruh Adel untuk berganti pakaian dengan pakaian training. Mereka lalu pergi ke suatu tempat.


Setelah 30 menit perjalanan, mereka sampai disebuah desa bernama Pengadegan. Desa ini terletak agak jauh dari kota, namun akses untuk kemari sangat mudah. Jalan aspal begitu mulus bagaikan dijalan tol.


Sabeum Rahmat menghentikan laju sepeda motornya didekat sawah.


"Ayo turun!" perintah Sabeum Rahmat. Adel lalu turun.


"Mau apa om?" Rahmat adalah adik dari Pak Eko, dia juga mempunyai seorang adik lagi bernama Taufik. Dan artinya Rahmat adalah om Adel.

__ADS_1


"Om mau kamu jogging sampai jalan raya, kalau perlu sampai rumah." ucap Rahmat.


"Busyettt!! Pakai motor aja setengah jam lebih om. Bisa bisa Isya baru sampai rumah kalau jogging." celetuk Adel. Rahmat hanya tersenyum tipis menanggapi ocehan Adel.


"Maka dari itu, kamu larinya agak cepet." jawab Rahmat.


Adel hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan. Adel mulai pemanasan.


Setelah dirasa cukup, Adel mulai berlari meninggalkan Omnya. Ketika Adel mulai tidak terlihat Rahmat baru menyusulnya menggunakan sepeda motor dan membututinya dari belakang.


Beberapa kali Adel berhenti namun Rahmat terus memberinya semangat agar terus berlari.


Tebakan Adel tidak meleset jauh. Pukul 18.50 Adel baru sampai dijalan raya. Nafasnya benar benar tidak teratur setelah lari sekitar 17 km.


"Ayo naik, Om antar kamu pulang."Ucap Rahmat.


******


"Bi, Adel udah pulang?" tanya Bu Mona pada Bibi


"Belum nyonya, Non Adel belum pulang dari siang." jawab Bibi.


"Ini sudah jam tujuh malam kenapa Adel belum pulangbya? Padahal latihan dari jam dua." batin Bu Mona.


Tak berapa lama kemudian terdengar suara gerbang dibuka. Bu Mona segera keluar untuk melihat siapa yang datang.


Ternyata Adel pulang dengan kondisi muka yang sangat merah karena kepanasan plus kelelahan. Rahmat menyusul dibelakangnya.

__ADS_1


"Assalamu"alaikum" Adel memberi salam


"Wa"alaikum salam" jawab Bu Mona.


"Assalamu 'alaikum." Rahmat memberi salam.


"wa'alaikum salam" jawab Bu Mona lagi.


Adel segera mencium tangan Mamanya, begitu juga rahmat mencium tangan kakak iparnya.


"Adel bersih bersih dulu ya, habis itu makan malam sama mama." perintah bu Mona.


"Iya ma,," Jawab Adel lesu.


"Rahmat, duduk dulu, mba mau bicara." ucap Bu Mona.


Rahmat hanya mengangguk lalu duduk di sofa ruang tamu. Bu Mona juga duduk dihadapannya.


"Kenapa Adel latihan sampai selarut ini?"Tanya bu Mona


"Kami latihan fisik juga. Besok latihan libur."jawab Rahmat


" ooo,, lain kali kasih kabar ya. Semenjak kejadian pemculikan waktu itu mba suka nggak tenang kalau Adel nggak pulang tepat waktu." ucap Bu Mona.


" Iya mba, maaf aku nggak kasih kabar dulu. Oiya mba, gimana keadaan mas Eko?" tanya Rahmat.


" Nanti kita bahas itu. Kamu juga bersih bersih sana, nanti makan malam bersama."

__ADS_1


Rahmat hanya mengangguk


__ADS_2