
Rich mulai mengeluarkan serpihan kaca dari perut Alia. Alia terus memejamkan matanya karena tak ingin orang orang lebih cemas apabila ia terlihat kesakitan.
"Sudah selesai." ucap Rich. Luka Alia kali ini tidak di jahit namun di lem menggunakan lem khusus untuk luka agar rapat.
"Tidak dijahit?" tanya Alia.
"Tidak. Itu metode lama dan yang saya gunakan metode baru, namun anda harus berhati-hati karena ini tidak akan sekuat jahitan." ucap Rich.
"Aku mengerti." jawab Alia.
Alia merubah posisinya menjadi duduk dan memegangi perutnya yang sakit.
"Kamu perlu sesuatu?" tanya Tuan Fred.
"Tidak, Om. Mari kita ngobrol, kalau om tidak sibuk." ucap Alia.
"Tentu saja." jawab Tuan Fred. Keduanya jalan menuju ruang keluarga dan duduk berdua disana. Santoso memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu karena merasa Nonanya aman berada disini.
"Kenapa kamu nekad keluar hanya berdua?" tanya Tuan Fred.
"Aku berfikir ini wilayah Om." jawab Alia.
"Baiklah, lain kali kalau mau main jangan lupa membawa orang walau mereka hanya dari jauh." ucap Tuan Fred.
Sebenarnya dia kesal karena Alia begitu ceroboh namun karena melihat Alia sampai terluka tak sampai hati memarahi Alia.
__ADS_1
"Om akan beri kamu mobil anti peluru. " ucap Tuan Fred
"Benarkah?" tanya Alia tak percaya.
"Benar. Om tidak mau kamu seperti tadi." ucap Tuan Fred.
"Kamu kenapa main sampai sejauh ini dan hanya berdua? Om tidak suka kamu pergi tanpa pengawalan." lanjut Tuan Fred.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi, Om." ucap Alia.
Alia kembali meringis menahan sakit diperutnya.
"Pasti sangat sakit." ucap Tuan Fred iba.
Tuan Fred tidak tega melihat Alia terus menahan sakit.
"Mau om panggilkan dokter saja agar kamu diberi pain killer?" tanya Tuan Fred.
"Tidak Om, terima kasih." jawab Alia. Dirinya merasa sudah cukup membaik setelah patahan kaca yang ada didalam dibersihkan.
"Yakin?" tanya Tuan Fred lagi.
Alia mengangguk mantap.
Alia mendekati omnya lalu secara reflek tidur dipangkuannya. Tuan Fred mengusap rambut Alia perlahan.
__ADS_1
"Tidurlah,,." bisik Tuan Fred.
"Om, i want to ask something." ucap Alia lirih.
"Ya, katakan." ucap Tuan Fred masih terus mengelus kepala Alia.
"Aku cuma mau tahu kebenaran, aku udah ngelupain semuanya dan menganggap ini adalah jalan takdir. Why you kill my parent?" tanya Alia.
Deg,, Tuan Fred begitu terkejut dan tidak bisa menjawab pertanyaan Alia.
"Okey,,," Alia bangkit setelah menunggu beberapa saat namun omnya tidak mengatakan apapun.
Alia berjalan menuju kamarnya dan Tuan Fred masih terpaku dalam keterkejutannya.
Alia kecewa karena omnya belum mau jujur.
Malam itu Alia tidur dengan memendam kekecewaan, malam itu juga Tuan Fred tidak bisa tidur.
Pagi pagi sekali Alia bangun dan bersiap untuk pergi bekerja, Santoso yang sudah siap terlebih dahulu sudah menunggunya di meja makan bersama dengan Tuan Fred.
Tak lama kemudian Alia datang dan duduk di hadapan omnya. Tidak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka dan ketika pergi Alia hanya memeluk omnya sebentar.
Dalam hati Santoso bertanya-tanya apa yang terjadi diantara keduanya namun ia mengurungkan niatnya untuk bertanya karena sepertinya nonanya tidak mau menyingging masalah tersebut.
Dari kuningan mereka langsung menuju kantor Alia yang berada di Kebon Jeruk, Jakarta barat, mereka begitu terburu- buru karena jam sembilan nanti ada rapat penting.
__ADS_1