My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
proses pemulihan II


__ADS_3

"Apa yang kamu katakan? Panggil aku Abang, dan jangan lupa, kamu ini bagian dari Perkasa projection yang memegang 30 persen saham." ucap Awang.


Mata Pak Perwira terbelalak, kalau Jaya benar benar mempunya 30 persen saham dari Perkasa Projection maka dia adalah pasukan Satya Yudha terkaya dan bisa saja sekarang dia keluar.


"Hm,, aku pikir abang bercanda waktu itu jadi aku tidak menganggap itu semua serius." Ucap Jaya salah tingkah karena melihat reaksi Pak Perwira.


" Oiya, perkenalkan, ini Astrid, istriku." Awang mengenalkan Istrinya kepada Jaya dan juga sebaliknya.


"Astrid, ini Jaya. Aku sudah menceritakan tentangnya semalam jadi kamu pasti sudah tahu." ucap Awang.


"Jadi ini orangnya? Aku pikir orang yang menolong suamiku adalah orang yang super kekar dan bermuka garang. Ternyata dia malah terlihat lebih seperti pengusaha muda." ucap Astrid. Dirinya menggoda Jaya yang memang tubuhnya Atletis tidak kelebihan otot.


Jaya hanya terkekeh mendengar ucapan Astrid.


"Apa aku harus memanggilnya kakak?" tanya Jaya kepada Awang.


"Tentu saja. Umur kamu baru 35 kan? 3 bulan lagi dia 36 tahun jadi dia lebih tua dari kamu dan kamu harus memanggilnya Kakak." Ucap Awang.


Awang tak sengaja melihat kondisi luka Jaya. Dirinya begitu terkejut melihatnya.


."Apakah separah ini? ini sampai ke lapisan daging." ucap Awang.


"Seharusnya luka ini tidak terlalu mengerikan. Namun karena dokter menguliti tanganku penampakannya jadi seperti ini." Ucap Jaya.


Awang langsung memikirkan kata "Menguliti" karena tidak kunjung menemukan jawaban Awang lalu bertanya kepada Jaya.

__ADS_1


"Apa maksudmu menguliti? aku fidak paham" ucap Awang.


"Apa benar benar mau tahu?" tanya Jaya.


Awang menganggukkan kepalanya mantap.


"Saat aku dibawa ke rumah sakit kemarin, ternyata luka bakarku benar benar parah. Jadi dokter mengangkat sel kulit yang rusak agar saat tumbuh lagi tidak belang. Karena dokter tidak membiusku kemarin jadi aku bilangnya menguliti." Jelas Jaya. Awang bergidig mendengarnya.


Kalau lukanya diberi obat bius mungkin reaksinya akan biasa saja. Tapi ini adalah kasus dimana pasien dalam kondisi sadar sepenuhnya. Secara reflek Awang mengelus tangannya karena merinding.


"Jaya, kamu terlalu gamblang menjelaskannya." ucap Pak perwira.


Dirinya yang biasa melihat darah juga bergidig saat mendengar cerita Jaya. Sebelumnya tidak ada yang terkena luka bakar se serius Jaya.


Namun dalam beberapa kasus Jaya selalu sadar dimasa masa keritisnya.


Jaya hanya tersipu malu mendengar perkataan Pak Perwira. Ternyata ceritanya bisa membuat orang orang disekitarnya merinding.


"Oiya, Jaya, tiga bulan lagi aku ada urusan ke london. Aku ingin kamu yang ikut. Untuk semua peralatan yang kalian butuhkan seperti Pistol dan lain lainnya sudah disiapkan disana jadi jangan khawatir masalah itu."


"Kamu bisa membawa seorang teman yang bisa jadi partner yang baik, aku tidak masalah siapa saja. Tapi ingat, satu bulan sebelum keberangkatan kamu harus menentukannya karena aku yang akan mengurus visanya." Ucap Awang.


Jaya mengangguk paham.


"Abang ada urusan. Kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan ya." Ucap Awang

__ADS_1


"Terima Kasih, Bang." ucap Jaya.


Awang, Pak Perwira dan Astrid berdiri. Jaya ikut berdiri. Awang memeluk Jaya dengan erat.


"Terima kasih, ya." bisik Awang. Jaya hanya mengangguk.


Jaya mengantar ketiga tamunya hingga kedepan pintu.


Jaya kembali masuk kedalam kamarnya.


********


Empat hari telah berlalu sejak Jaya terluka. Dirinya dengan rutin mengolesi lukanya dwngan getah ganga 2x sehari.


Jaya lalu memeriksa kondisi tangannya,,,,


Lukanya sudah hampir sembuh,,,


mungkin hanya butuh waktu sekitar 2 hari lagi saja.


**********


****Jeng jeng jeng,,, Hallo gengs,,, Karena beberapa hari kemarin Author nggak up, maka hari ini author up beberapa chapter ya


makasih****

__ADS_1


__ADS_2