
Di kamar Santoso, Santoso sedang tidur karena semalaman dirinya tidak bisa tidur. Efek ramuan yang diberikan oleh Pak Surya memang membuat perutnya serasa terbakar dari kuar dan dalam.
Keringatnya tidak berhenti mengucur dan membasahi tubuhnya sampai dia memutuskan telanjang dada agar tidak mengotori semua pakaiannya.
Santoso tidur dengan begitu pulas. Ini adalah saat saat damai sebelum pertempuran dan Santoso sangat menikmatinya. Namun tak lama kemudian bayangan-bayangan saat Jaya sedang disiksa dihadapannya segera membuat tidurnya yang damai menjadi sebuah mimpi buruk.
Santoso teringat bagaimana mereka menyiksa Jaya hingga membuatnya terluka begitu parah. Setiap tamparan, cambukan, pukulan, terukir jelas dalam ingatan Santoso.
“Arghhh!!!” teriak Santoso yang kini sudah bangun. Dengan nafas yang menderu dan keringat bercucuran, Santoso meraih gelas berisi air putih di meja kecil samping tempat tidurnya
“Kenapa malah mimpi buruk.” Gumam Santoso.
Santoso berfikir kembali mengapa dirinya sampai kembali mengingat kejadian setahun lalu. Santoso melihat jam tangannya, ternyata sudah jam satu siang. Santoso meraih handuk yang ia gantung di balik pintu dan melangkah menuju kamar mandi.
Perban yang membalut lukanya tahan air jadi Santoso bisa mandi dengan leluasa.
Setelah selesai mandi dirinya memakai boxer selutut , bertelanjang dada memperlihatkan atletisnya tubuh kekarnya.
Santoso menyiapkan stelan beladiri berwarna putih polos dan meletakannya di atas kasur.
Santoso mengambil kaos hitam polos dari gantungan bajunya, lalu mengenakannya sebelum beranjak pergi meninggalkan kamarnya.
Santoso berjalan menuju dapur untuk makan. Semalam dirinya tidak makan malam dan tadi pagi juga tidak sarapan membuat perutnya keroncongan kelaparan.
Namun saat melewati meja makan dia dicegat oleh Alia dan memintanya untuk bergabung. Santoso tak enak hati menerimanya namun juga tak bisa menolak. Santoso duduk di samping Taufik.
Seperti biasa mereka makan tanpa bersuara, setelah selesai baru mereka melakukan beberapa pembicaraan. Alia segera menanyakan bagaimana persiapan Santoso menghadapi Jonathan.
“Tidak ada persiapan khusus, Nona. Saya selalu berada dalam mode siap tempur.” Jawab Santoso.
“Aku harap kamu bisa memberi Jonathan sedikit pelajaran.” Ucap Alia.
“Al, jangan lupa kalau Pak Andreas sudah meminta ini sebagai sebuah pertandingan persahabatan. Kamu juga Santoso, jangan karena ingin membuat Alia bangga maka kamu melukai Jonathan dengan berlebihan. Buatlah dia senang, jangan terlalu serius. Namun karena wasitnya adalah Master J, maka kamu juga harus menang.” Perintah Pak Surya.
“Baik Tuan Besar.” Jawab Santoso dengan penuh hormat.
“Bauklah, kamu boleh pergi.” Ucap Pak Surya mempersilahkan.
Santoso kembali ke kamarnya, Alia ke ruang kerjanya bersama Taufik menyelesaikan beberapa dokumen yang sekretaris kirimkan kepada mereka.
Waktu berjalan dengan cepat, Pak Andreas datang bersama Jonathan dan Victor, dikawal oleh empat Bodyguard kepercayaan mereka.
Jonathan sudah mengenakan pakaian beladiri berwarna hitam polos.
Pak Surya segera menyambut mereka dan langsung mengajak mereka ke rooftop, tempat dilaksanakannya duel tersebut.
Disana sudah ada Santoso yang menunggu dengan pakaian beladiri berwarna putih polos yang sudah duduk bersila di tepi sasana.
Pandangannya menatap tajam ke depan, terlihat sangat serius. Jonathan dibuat minder seketika olehnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Master J juga datang didampingi oleh Master Theo.
Mereka saling berjabat tangan.
Karena waktu Master J tidak terlalu banyak, mereka melakukan pertandingan terlebih dahulu.
Alia juga sudah ada di sana, duduk bersama Master Theo, Taufik dan Dedi sementara Victor duduk bersama Pak Andreas dan Pak Surya. Semua bodyguard mereka berjaga di dekat sasana.
Hal yang tak diduga terjadi, Master J melepas atasan pakaian beladirinya dan mempertontonkan badannya yang penuh otot kekar, lalu meletakannya di sandaran kursinya. Santoso hanya bisa menelan ludahnya melihat apa yang dilaķukan oleh Master J.
Master J berjalan ke tepi sasana lalu menatap Santoso dan Jonathan. Santoso lalu berdiri dan memberi hormat kepada Master J.
“Apa yang kalian tunggu, lepaskan pakaian kalian dan tunjukan bahwa kalian tidak menggunakan pelindung badan dalam pertempuran ini.” Ucap Master J serius.
Jonathan sebenarnya enggan melakukannya namun dirinya harus menuruti semua perintah Master J.
Jonathan memberikan pakaiannya kepada bodyguardnya.
Kini Master J dan Jonathan menatap Santoso dengan tajam.
“Apa kamu tidak dengar?” tanya Master J.
Santoso berpikir sejenak sebelum melihat ke arah Pak Surya. Setelah Pak Surya menganggukan kepalanya Santoso membuka pakaiannya perlahan.
Master J cukup terkejut melihat perban tahan air melekat di perut Santoso.
“Bukan luka yang serius.” Jawab Santoso.
“Baiklah, aku tidak akan pilih kasih walau kamu sedang terluka parah sekalipun.” Ucap Master J.
Master J bukan tipe orang yang pilih kasih saat sudah berada di atas ring.
Kalau seseorang sudah setuju untuk bertarung maka dia harus bertarung sekuat tenaga.
Master J mengangguk setelah melihat Santoso mengangguk. Ketiganya berjalan ke arah sasana.
Santoso berdiri berhadapan dengan Jonathan sementara Master J berdiri di antara keduanya.
“Hormat!” perintah Master J. Keduanya membungkuk saling memberi hormat.
“Siaaapp!!” teriak Master J mulai melangkah mundur, baik Santoso maupun Jonathan langsung memasang kuda-kuda.
“Mulai!!” teriak Master J lagi. Jonathan segera meluncurkan tendangannya ke arah Santoso dan dengan mudah Santoso menghindarinya.
Tak sampai disitu, Jonathan terus mengarahkan pukulan pukulannya ke arah Santoso. Namun Santoso masih bisa menangkis dan menghindarinya.
Jonathan bukannya mempelajari kelemahan lawannya malah terus menyerang dengan membabi buta.
Beberapa kali dirinya mendapat pukulan dari Santoso namun tidak membuat dirinya menyerah.
__ADS_1
Perubahan ekspresi terjadi terhadap Santoso. Karena dirinya terlalu banyak bergerak dan tidak menyuntikan pain killer, lukanya mulai nyut-nyutan.
Master J menyadari perubahan ekspresi Santoso tapi tidaj menghentikan pertandingan tersebut.
Santoso mulai kehilangan fokusnya dan dengan telak Jonathan mendaratkan tendangannya ke perut Santoso.
Alia terlihat sangat tegang dikursinya. Ia berharap Santoso bisa bertahan dan tidak mengalami cedera serius. Dirinya tidak mengetahui bahwa Santoso sedang terluka.
Santoso memegang perutnya yang terasa perih, namun berusaha tetap bertahan.
Priiittt,,
Master Theo meniup pluit tanda ronde pertama sudah selesai.
Santoso menuju ke sudutnya, beberapa pengawal Pak Surya yang juga temannya terus memberinya semangat dan beberapa arahan.
Setelah istirahat 1 menit, pertandingan kembali dilanjutkan.
Jonathan yang mengetahui bahwa kelemahan Santoso adalah perutnya, membuatnya terus mengincar perut Santoso.
Santoso masih bisa menghadapinya dengan kepala dingin. Walaupun beberapa kali terkena pukulan namun itu bukan hal yang berarti bagi Santoso.
Jonathan mengarahkan tendangan full powernya ke arah perut Santoso, namun dengan sigap Santoso langsung menangkapnya dan membanting tubuh Jonathan.
Jonathan yang tidak siap dengan serangan balasan hanya bisa meronta saat Santoso mengunci lehernya.
Beberapa kali Jonathan menghantam perut Santoso dengan siku nya namun Santoso tak bergeming bahkan mempererat kunciannya hingga membuat Jonathan lemas.
Jonathan melakukan tape out agar Santoso melepas kunciannya, dan itu juga tanda bahwa Jonathan telah menyerah.
Namun luka yang dialami Santoso juga begitu serius, lukanya mengeluarkan darah lagi hingga membasahi perbannya, Alia langsung berlari ke sasana.
“Santoso? Kamu okey?” tanya Alia begitu cemas. Dirinya belum pernah melihat Santoso sepucat itu.
“Nona, biarkan kami membawa Santoso ke ruang medis, dia butuh perawatan.” Ucap Dedi serius.
Alia mengangguk cepat.
Dedi langsung membopong Santoso menuju lantai 1, ruang medis tepatnya.
Santoso masih terlihat tenang walau darah terus mengucur dari lukanya.
Pak Surya turun tangan sendiri mengobati Santoso.
Bu Mona juga siap membantu apabila diperlukan. Sementara Taufik menemani Pak Andreas dan tamu-tamu lainnya, mereka membuat jamuan kecil di rooftop.
“Apa tidak masalah, Pa? Aku melukai Santoso.” Ucap Jonathan gelisah.
“Tidak, pertarungan tadi adil.” Jawab Pak Andreas setengah berbisik. Jonathan menghela nafas lega saat mendengarnya.
__ADS_1