My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Kekalahan


__ADS_3

"Arghhh!!!" teriak Jaya.


Dirinya segera mencari sumber tembakan.


Begitu terkejutnya dirinya karena ternyata anggota geng tornado masih ada.


Mereka sedang menghajar komandan Ucok dengan pisau dan celurit.


Komandan ucok dibuat tak berdaya.


Sekarang komandan Ucok menyesal karena melepas rompinya awal awal.


Seorang anggota Geng Tornado menginjak punggung Jaya.


"Arghhh!!!" teriak Jaya lagi. Namun ini bukanlah teriakan kesakitan melainkan amarah, sedih, kecewa, bercampur menjadi satu.


Pak Broto melepaskan tangan Jaya secara paksa. Jaya begitu terkejut dan berusaha menahannya.


"Byurrr!!!" Pak Broto tercebur ke aliran sungai serayu.


Jaya bangkit dengan murkanya. Dia melawan setiap anggota Geng Tornado yang berani menghadangnya.


Jaya juga menghajar orang orang yang sedang melukai komandan ucok.


Tapi sayang, sekarang kondisi komandan Ucok sungguh memprihatinkan.


Anggota Satya Yudha yang tadinya bersembunyi kini sudah diperbolehkan keluar dan mengamankan lokasi.

__ADS_1


Tiga orang Satya Yudha yang biasa bertugas di air juga segera menyisir sungai dan menemukan Pak Broto dengan kondisi tak bernyawa.


Jaya juga meminta semua jasad anggota Satya Yudha yang gugur untuk dibawa kemarkas pusat bersama jasad Pak Broto.


Jaya membawa komandan ucok dan semua nggota yang terluka ke RS. Margono Soekarjo.


Pak Perwira yang sedang di Semarang dibuat sakit kepala karena tugasnya porak poranda.


Jaya menyalin isi hard disk yang Pak Broto berikan kepadanya.


Dirinya saat ini begitu terpukul karena selain tugasnya gagal, clientnya meninggal, teman temannya gugur, dia begitu sedih namun berusaha tetap tenang.


"Bang, bertahan, ya." ucap Jaya.


Tak berapa lama kemudian, Jaya dan rombongannya sampai di rumah sakit. Komandan Ucok segera dibawa menggunakan brankar dorong.


10 anggota Satya Yudha yang tidak terluka bertugas membawa jenazah anggota Satya Yudha. Totalnya ada 7 orang, yaitu 2 dari sniper, dan 5 dari anggota utama.


Ini menjadi kasus yang menelan korban paling banyak.


Kerugian yang ditanggung Satya Yudha pun tidak main main karena semua anggota yang gugur adalah anggota senior. Bahkan satu dari dua sniper yang gugur adalah kapten Sniper Surya Yudha.


"Hallo, Pak Perwira." ucap Jaya.


"Hallo, Jaya, bagaimana kondisi kalian?" tanya Pak Perwira.


"Sangat buruk, Pak." Ucap Jaya.

__ADS_1


Terdengar suara helaan nafas Pak Perwira.


"Maafkan saya, Pak. Sebagai kapten tim pelapis saya gagal." ucap Jaya lagi.


"Nanti kita bahas lagi dikàntor. Hmm,, apa kamu terluka?" tanya Pak Perwira.


"Saya baik baik saja, Pak." ucap Jaya. Suaranya mulai bergetar.


"Kamu hati hati. Minta ke pihak rumah sakit agar merujuk semuanya ke Premier ya. Kita bisa memantaunya lebih mudah." ucap Pak perwira


Jaya hanua mengangguk seolah Pak Perwira bisa melihatnya.


"Baiklah, kalau ada perkembangan tolong beri kabar. Saya harus menyiapkan pemulangan jenazah semua anggota kita ." ucap Pak Perwira lagi. Panggilan lalu terputus.


******


Sudah satu jam, Dokter tak kunjung keluar dari ruang penanganan komandan ucok.


11 anggota Satya Yudha yang terluka sudah selesai ditangani. 5 diantaranya sudah bisa pulang. Dan sisanya aka dipindahkan ke Rumah Sakit Premier.


Jaya tidak berani memberi kabar ke keluarga besar Komandan Ucok tentang kabarnya, dia hanya mengabari isterinya seorang, namun dengan cepat kabar tersebut menyebar ke keluarganya dan membuat ponselnya tak berhenti bergetar. Jaya tidak bisa mematikan ponselnya karena takut sewaktu waktu Pak Perwira menelponnya.


Jaya memandangi tangan kirinya yang memar. Entah apa penyebab memar dilengannya, Jaya tidak peduli karena Dokter keluar dari ruang penanganan Komandan Ucok.


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Jaya khawatir.


"Maaf,,,,."

__ADS_1


**Hallo para reader yang budiman, beberapa hari author nggak up dan hari ini author up 2 chapter dan ini juga masih terus nuliz.


Sooo,,, kalau kalian baca note di beberapa chapter sebelumnya kalian pasti penyebabnya. 🤣🤣🤣**


__ADS_2