My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Alia


__ADS_3

"Maaf, Head Master melarang kamu libur." ucap pria tersebut. Dalam ID CARD nya tertera nama Theo Alexander.


"Master Theo, tolong bantu saya." ucap seorang gadis berperawakan tinggi besar dihadapan Master Theo.


"Maaf Alia, saya mengizinkan kamu libur tapi tidak dengan Head Master. Sedangkan keputusan pertama adalah hak Head master." Ucap Master Theo lagi.


"Are you sure?" tanya Alia lagi.


"Yes Alia, sure."


Master Theo meninggalkan Alia diruang itu sendirian.


Alia mengejar master Theo.


"Why Master? turnamen masih empat bulan, masih ada waktu. Aku hanya meminta dua hari." ucap Alia memohon.


"Alia, kamu jangan memohon seperti ini. Seorang petarung sejati tidak boleh memohon.." Ucap Master Theo.


Alia mulai berkaca kaca.


"Baiklah, kalau memang itu keputusan kalian." ucap Alia pasrah.


Dalam kontrak kerja memang tercantum bahwa untuk urusan cuti bisa diatur oleh head master. Namun jika Head master tidak mengizinkan maka dia tidak bisa izin.


Alia kembali ke kamarnya.


******


"Adel, kado yang buat Kakak udah dipack semua belum?" Tanya Bu mona.


"Iya ma, udah di mobil semua." jawab Adel


"Termasuk yang dari Eyang?"Tanya Bu Mona lagi.

__ADS_1


"Yang dari Eyang juga udah semua."Jawab Adel.


"Ya udah kalo udah diselesai ayo berangkat." ajak Bu Mona.


Mereka berangkat berlima yaitu Adel, Papa Mamanya, serta kedua Eyangnya.


Mereka menggunakan mobil alpard-nya karena kalau menggunakan mercy-nya tidak akan muat.


"Adel udah ngga sabar." celoteh Adel.


"Nanti malam kita singgah dulu ke istiqlal buat sholat shubuh sekalian mandi, Besok pagi waktu kakak latihan baru mama udah bikin rencana." ucap Bu Mona.


"Kakak mau diprank ya?" tanya Adel semangat.


"iya dong." jawab Bu Mona. Adel terkekeh membayangkan bagaimana ekspresi kakaknya saat mengetahui dirinya di prank satu keluarga.


"Kamu jangan sampai bikin story yang buat kaka curiga ya." ucap Jaya.


"Ok Papa." Jawab Adel singkat.


******


"Adel kenapa, Pak?" tanya walikelas Adel yang bernama Bu Ratih.


"Kemarin Adel ada cidera waktu semifinal. Ada sedikit kecurangan lawan. Untung saja bibirnya tidak sampai dijahit." jawab kepala sekolah.


"Memang parah ya?" tanya Bu Ratih lagi.


"Lumayan,, sampe belum bisa buat bicara waktu kemarin ke rumah sakit." Jawab Kepala sekolah lagi.


"Ya sudah,, biar Adel istirahat dulu, nanti masalah tugas tugas biar saya yang urus." ucap Bu Ratih


Bu Ratih pamit kembali kekelas karena ada jam mengajar. Kepala sekolah pun mengizinkan.

__ADS_1


Orang orang sama sekali tidak bertanya apa Adel juara atau tidak.


"Mereka selalu memandang rendah. Padahal yang aku lihat kemarin Adel adalah sosok petarung sejati. Semua orang kagum padanya." Ucap kepala sekolah sembari memijat keningnya yang mulai sakit.


*****


Sudah jam 19.00, Alia telah selesai latihan.


Alia mandi dengan shower menyala deras mengguyur tubuhnya. Hatinya galau, pikirannya kacau.


"Tiga tahun,,ya." ucap Alia lirih. Tiga tahun dirinya tidak berkumpul bersama keluarganya.


Alia mematikan shower, lalu dikeringkanlah tubuhnya. Alia lalu mengenakan kimononya.


Alia membuka ponselnya.


"Ma,, aku kangen mama." foto bersama Papa, Mama, dan Adiknya.


"Fiuhhhh,,, yang penting lebaran nanti aku bisa pulang. Semangat, Al." Alia menyemangati dirinya yang mulai putus asa.


thok thok thok.


Pintu kamar Alia diketuk seseorang. Alia membuka pintunya. Terlihat seorang remaja hitam manis didepannya.


"Al, keluar yuk,, aku udah izin Master." ucap remaja tersebut. Terlihat usianya tidak jauh beda dengan Alia.


"Mager, Jaseth." ucap Alia bermalas malasan.


"Ayolah, susah payah aku izin ke Master Theo. Aku udah kasih seribu alasan kamu malah nolak."


Hei hei hei,,, kali ini Author mau kasih tunjuk foto Jaseth,,,


__ADS_1


Bener bener hitam manis


__ADS_2