My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Darah Perwira


__ADS_3

Komandan Ucok telah berada diluar ruang penanganan Kapten. Ia terlihat cemas karen Kapten mengalami pendarahan hebat.


Dia mengabari istri kapten tentang keadaan Kapten.


"Hallo, mona?" ucap komandan ucok untuk mengawali pembicaraan mereka.


"iya, bang ada apa? tumben malam malam telpon? o iya tadi mas Eko telpon, tapi nggak sempet diangkat. Waktu aku telpon balik malah nomer dia yang nggak aktif." ucap bu Mona


"jadi mona, sekarang Eko ada dirumah sakit, tadi ada penyerangan mendadak. Dia sekarang sedang dalam penanganan Dokter." balas komandan Ucok menjelaskan.


Bu Mona diam seketika. Jantungnya berdetak kencang hampir tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ponselnya pun kini sudah berada dilantai.


Bu Mona kembali mengambil ponselnya, ternyata panggilan belum terputus.


"Bang, sedang tidak ada dokter cadangan, nanti aku akan kesana jam 5 pagi dari sini." ucap bu Mona.


Tak terasa air matanya telah meleleh dan mulai membanjiri pipinya. Entah apa yang dikatakan komandan Ucok lagi, panggilan diputus.


****


Dokter keluar dari ruang penanganan menghampiri komandan ucok. Komandan Ucok langsung bangkit dari tempat duduk.

__ADS_1


" Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Komandan Ucok penasaran.


Dokter menghela nafas panjang dan akan mulai berbicara.


"Ia mengalami pendarahan hebat di luka tusukannya, sekarang dia kritis dan harus melakukan transfusi darah secepatnya. kami juga masih bingung kenapa pasien kritis setelah dibius." Ucap dokter dengan berat hati.


"apakah ada yang memiliki golongan darah AB negatif disini?" tanya dokter denglan serius.


Orang orang langsung menggelengkan kepala pelan.


Dokter itu terlihat cemas, bahkan lebih cemas dari sebelumnya.


"golongan darah tersebut sedang tidak ada stoknya, bahkan dibeberapa rumah sakit dan PMI." ucap dokter dengan putus asa.


Sayup Sayup Komandan ucok mengingat bahawa pak Perwira memiliki golongan darah yang sama dengan Kapten. Ia langsung mengambil ponselnya dan menelpon Pak Perwira.


"ada apa? kenapa kau menggangguku di waktu seperti ini?" tanya pak perwira kesal.


" sebelumnya saya maaf mengganggu waktu istirahat anda. Eko kritis dan kini membutuhkan donor darah. Anda mau membantunya?" tanya komandan ucok dengan nada putus asa.


Pak Perwira panik seketika.

__ADS_1


"baiklah, aku kesana sekarang" jawab pak Perwira.


*****


Bu Mona menatap jam berkali kali, waktu terasa sangat lama. Dirinya sangat khawatir karena belum bisa menghubungi komandan ucok lagi.


Dan waktu yang ditunggu datang. Bu Mona bergegas Absen lalu ia menuju ke Rumah sakit Premier.


***


Pak Perwira datang terburu buru, bahkan sampai menggunakan sepeda motor karena merasa akan lama kalau ia harus menggunakan mobilnya. Pak Perwira langsung ke bagian tranfusi darah.


setelah menjalani transfusi darah, Pak Perwira berjalan sempoyongan karena merasa lemas.


" Pak, saya minta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat anda. Saya juga terima kasih karena anda mau mendonorkan darah untuk Eko. Saya sangat berterima kasih, pak." ucap komandan Ucok.


Pak Perwira tertawa pelan lalu menepuk bahu komandan Ucok.


"kita ini keluarga. Harus saling menolong dalam suka dan duka. Dia juga terluka karena tugas khusus yang aķu berikan, aku menjadi merasa bersalah. Apa dia berhasil?" lanjut pak Perwira. Komandan Ucok mengangguk pelan.


"Diantara 17 penyerang, pasukan bantuan hanya melumpuhkan 2 orang saja. Itupun orang tak beramunisi, karena pelurunya sudah habis untuk menembak Eko." Jelas komandan Ucok.

__ADS_1


pak Perwira terbelalak mendengar penjelasan bawahannya ini.


"lalu, apa yang terjadi?" tanya pak perwira dengan cemas.


__ADS_2