
Darah kembali merembes dari perban Jaya. Dirinya yang sedikit trauma dengan aktifitas mengganti perban malah memilih diam dan menarik selimutnya hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya.
"Ma, kamu istirahat saja." perintah Jaya ke istrinya.
"Papa nggak masalah sendirian?" tanya Mona.
"Minta penjaga didepan pintu, kalau perlu mengawasi papa dari cctv, tapi mama juga perlu istirahat." bujuk Jaya.
Akhirnya Mona menuruti perintah suaminya untuk istirahat.
Tak lupa Mona meminta Dedi untuk berjaga dikamar suaminya dan mengawasinya, atau sekedar membantu Jaya apabila meminta sesuatu.
Dedi duduk di sofa samping tempat tidur Jaya sembari membaca beberapa dokumen. Semenjak Santoso menjadi asisten pribadi nonanya kini pekerjaannya lebih banyak, namun ia tidak mengeluh sama sekali karena kalau ia diberi banyak tugas, tanggung jawabnya semakin besar dan artianya Tuan Besar percaya kepadanya.
"Dedi," lirih Jaya. Namun Dedi langsung meresponnya.
"Ada apa, Tuan Muda?" tanya Dedi.
"Aku haus." jawab Jaya.
__ADS_1
Dedi langsung mengambil botol khusus yang telah dipersiapkan untuk Jaya. Bentuknya mirip seperti dot dan Jaya malah terkekeh melihatnya.
"Apa ada yang salah, Tuan?" tanya Dedi kebingungan. Menurutnya ini tidak cukup lucu untuk ditertawakan.
"Kamu pikir aku baya?" celetuk Jaya.
"Tidak Tuan Muda, maaf kalau benda ini menyinggung anda, tapi ini pikihan terbaik untuk saat ini karena anda masih kesulitan jika minum dari gelas." ucap Dedi panjang lebar menjelaskan.
Mulai minum, ia hanya kuat minum tiga teguk air saja. Lukanya kali ini benar benar menyiksanya.
"Aku ingin tidur, jangan ganggu aku dengan suara lembar kertas yang terus dibuka, itu membuatku tidak bisa tidur." ucap Jaya.
Dedi mengemasi dokumennya dan kali ini membaca laporan yang masuk ke emailnya agar tidak berisik dan mengganggu tidur Jaya.
Jam 5 pagi, 2 jam setelah Jaya tidur, suatu keanehan mulai terjadi. Jaya mulai mengigau, keringat mengucur deras dan suhu badannya sampai 39,6 derajat. Dedi segera memanggil Mona dan Pak Surya beserta tim medis keluarga Wijaya.
"Apq yang terjadi?" tanya Pak Surya.
"Tuan Muda tiba tiba mengigau, saat saya periksa suhu tubuhnya sudah begitu tinggi." jawab Dedi.
__ADS_1
"Apa tadi Jaya melakukan sesuatu?" tanya Pak Surya.
"Tuan Muda minta minum, tapi hanya minum sangat sedikit, mungkin hanya 100 ml air putih." jawab Dedi lagi.
Bu Mona segera memeriksa kondisi luka suaminya. Ternyata sudah terjadi pendarahan hebat. Tempat tidurnya pun kini sudah dibanjiri oleh darah Jaya.
"Pendarahan. Ayah, aku harus membedahnya. Mohon bantuannya." ucap Mona.
"Baiklah, siapkan semuanya dalam 15 menit. Ayah harus menyiapkan darah." ucap Pak Surya sebelum berlari keluar.
Tim medis keluarga Wijaya memang sangat lengkap dari segi pengobatan tradisional maupun modern. Semuanya segera bersiap melakukan operasi dadakan.
Jaya kini terlihat begitu pucat seperti tidak ada darah lagi ditubuhnya. Badannya pun mulai dingin.
Mona menyuntikkan bius ke suaminya dan dalam sekejap saja Jaya sudah tak sadar.
Setelah 10 menit pendarahan tersebut akhirnya berhenti. Butuh tiga kantong darah untuk membuat Jaya kembali stabil. Alia yang berencana untuk tinggal sampai Papanya sadar tidak bisa menuruti keinginannya karena Pak Surya memintanya segera kembali ke Jakarta.
"Papamu aman, olah perusahaan kita dengan benar sampai Papa kamu mau bergabung. Okeh?" ucap Pak Surya.
__ADS_1