
"Tidak, memang kenapa?" tanya Jaya.
"Karena saya ingin mereka bisa melindungi diri mereka sendiri apabila saya sudah tidak bisa melindungi mereka." ucap Pak Perwira.
"Anak saya tiga tiganya sudah di militer, dan ternyata saya tidak hanya membuat mereka bisa melindungi diri mereka sendiri, tapi juga membuat mereka berhadapan dengan bahaya seperti saya." Lanjut Pak Perwira.
Nampak kesedihan terpancar dari ekspresi Pak Perwira.
"Pak, mungkin anda tidak tahu kalau ada kebanggaan tersendiri apabila bisa bekerja sekaligus membela bangsa dan negara." ucap Jaya mencoba menghibur Pak Perwira.
Pak Perwira masih diam tertunduk.
"Anda tidak salah, Pak." ucap Jaya lagi.
"Kamu benar, Jaya. Harusnya saya bangga kepada semua anak saya." ucap Pak Perwira.
"Ngomong ngomong dimana anak anak bapak bertugas?" tanya Jaya.
"Andre, anak pertama saya bertugas di batalyon Surya Kusuma, anak kedua satya Martin bertugas di Batalyon Candra Kusuma Purbalingga. Sedangkan anak ketiga saya Reynold menjadi penerbang di Lanud Sulaiman Bandung." ucap Pak Perwira..
Kini giliran Jaya yang manggut manggut paham.
"Mereka memilik masa depan cemerlang." ucap Jaya.
"Terima kasih Jaya." ucap Pak Perwira
"Terima Kasih untuk?" tanya Jaya tidak mengerti.
"Kamu sudah menghibur saya." Ucap Pak Perwira.
__ADS_1
Pak Perwira bangkit dan berjalan menuju meja kasir untuk membayar makanan yang mereka makan.
Keduanya lalu pergi ke mobil mereka untuk melanjutkan perjalanan.
**********************
"Mba, aku pulang dulu ya." ucap Mona pamit ke Indri.
"Makasih, Ya Mona. Kamu udah mau bantuin sampai sejauh ini." ucap Indri sembari memeluk Mona.
"Ayah, aku pulang dulu ya, nitip Abang aku ya, Ayah." ucap Mona.
Mona lalu pulang dengan menggunakan mobil alphardnya.
Disisi lain, Komandan Ucok mulai membuka matanya.
"Argh,,,,," Komandan Ucok mencoba bangun, namun dengan segera asisten Pak Surya yang berjaga didepan kamarnya melarangnya.
"Tuan, jangan mencoba bangun atau Pak Surya akan marah." ucap Penjaga tersebut.
"Punggungku terasa sangat sakit, aku tidak bisa berbaring lebih lama." ucap Komandan Ucok.
"Tapi saya tidak bisa membantah perkataan Pak Surya." ucap Penjaga itu lagi.
Komandan Ucok hanya bisa menuruti perkataan Penjaga tersebut karena takut pamannya akan marah.
"Baiklah, aku tidak akan memaksakan diri." ucap Komandan Ucok.
Penjaga tersebut meninggalkan Komandan Ucok tanpa berkata apa apa.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian Pak Surya datang bersama pengawal yang tadi.
"Ahmad??" panggil Pak Surya.
"Iya, Paman." Jawab Komandan Ucok.
"Kamu banyak bergerak?" tanya Pak Surya.
"Aku hanya ingin duduk dan Penjaga ini langsung menghentikanku." ucap Komandan Ucok.
"Ooh,,, ya sudah, ayo lanjut pengobatannya, kamu sudah mulur dua jam dari jadwal yang ditentukan. " ucap Pak Surya.
Komandan Ucok mengangguk paham.
Pak Surya kembali memanggil dua asistennya.
Kedua asisten Pak Surya datang dengan berbagai macam peralatan yang mereka bawa.
Ramuan yang sudah dingin kini kembali dipanaskan dengan menyalakan bara api di tungku tersebut.
"Aku dengar Jaya sedang menuju ke Jakarta." ucap Pak Surya.
Komamdan Ucok mengerutkan keningnga.
"Paman tahu dari mana?" tanya Komandan Ucok.
"Tadi paman telpon Jaya menyanyakan kabar dan posisi ternyata sedang menuju Jakarta bersama Pak Perwira."
"Kamu harus istirahat yang cukup, jangan memaksakan diri dan menjaga pola makan. Maka dalam sepuluh hari kamu sudah bisa mulai bekerja." ucap Pak Surya
__ADS_1