
Teriakan demi teriakan terdengar dari kamar Alia. Bu Mona memutuskan untuk istirahat di kamarnya dan mempercayakn pengobatan Alia ke mertuanya.
Tangan Rahmat maupun Taufik sudah penuh dengan lula cakaran bekas cengkraman Alia.
Lama kelamaan pengobatan yang dilakukan semakin menyakitkan dan membuat Alia mengigit tangan Rahmat dan tidak mau melepaskannya.
Rahmat juga serba salah karena dirinya juga tidak boleh melepasnya secara paksa.
Tiba tiba Mona datang dengan wajah paniknya dan mengatakan bahwa ada yang menyerang Jaya.
"Ayah, rumah sakit kasih kabar ada yang nyerang Jaya."
ucap Bu Mona gusar.
Taufik langsung bangkit dan mendekati kakak iparnya ini.
"Beneran, Mba?" tanya Taufik memastikan.
"Iya, rumah sakit yang telpon Mba. Kamu anterin mba ke rumah sakit sekarang ya." ucap Bu Mona dengan nada setengah memohon.
Taufik mengangguk menyanggupi dan langsung mengambil kunci mobilnya.
__ADS_1
///////
Setelah Pak Suryadan yang lainnya telah pergi meninggalkan Jaya, ada seseorang yang menggunakan pakaian serba putih menyelinap ke kamar Jaya.
Orang tersebut mengeluarkan belati dari balik jaketnya dan berusaha menghujamkannya ke dada Jaya. Tapi entah karena insting bertahan hidupnya kuat atau bagaimana Jaya bangun dan memegang yangan orang tersebut yang digunakan untuk memegang belati.
Orang tersebut cukup kuat untuk menghadapi Jaya yang kini sedang lemah. Dipukulnya perut Jaya kuat kuat hingga Jaya melepaskan pegangannya pada tangan laki laki tersebut karena kesakitan.
Hal yang tidak terduga terjadi. Orang tersebut mengeluarkan botol kaca dan menyiramkan isinya ke tubuh Jaya.
"Arghhh,,, " Teriak Jaya kesakitan karena tubuhnya terasa seperti dibakar. Jaya menekan tombol darurat dan membuat orang yang sedang menyerangny panik. Orang tersebut segera keluar dari kamar Jaya melalui jendela.
Tak berapa lama seorang perawat datang dan terkejut melihat Jaya yang sudah bersimbah darah dan sedang menggeliat kesakitan.
Perawat tersebut segera memanggil beberapa dokter dan perawat lainnya dan menangani luka Jaya.
Jaya yang waktu itu masih sadar harus merasakan rasa sakit yang luar biasa karena tubuhnya yang penuh luka harus dialiri air dan itu cukup menyakitinya.
Setelah dua puluh menit, luka Jaya sudah sedikit membaik walaupun tidak mengurangi rasa terbakarnya. Dokter nasih mengaliri luka tersebut sampai sepuluh menit lagi.
Setelah selesai mereka mengolesi luka luka Jaya dengan menggunakan salep dan kembali menutupnya.
__ADS_1
Malam itu Jaya tidak bisa tidur karena merasakan tubuhnya terbakar.
"Arggghhhhhhh,,," teriak Jaya.
Jam 02.15, Mona dan Taufik sampai di rumah sakit dan segera menemui Jaya.
Mona segera menghambur ke pelukan suaminya dan menangis.
"Maafin mama, Pa, Maafin mama." ucap Bu Mona berulang ulang. Jaya menyambut pelukan isterinya dan ikut menangis. Entah kenapa dirinya yang biasanya tegar malah ikut melow dan menangis.
"Bukan salah mama." bisik Jaya.
Mona semakin merasa bersalah setelah Suster memberitahunya kalau Jaya menjadi korban penyiraman air keras.
Kalau dalam kondisi tubuh normal mungkin Mona tidak sesedih ini tapi saat ini kondisinya begitu berbeda. Suaminya sedang terluka parah dan belum bisa bergerak leluasa dan kini ditambah lagi dengan disiram air keras.
" Mas kenal, atau paham yang ngelakuin siapa?" tanya Taufik penasaran.
"Kamu coba minta data CCTV. Seliidiki siapa yang melakukannya." ucap Jaya.
Taufik segera melaksanakan perintah dari kakakny.
__ADS_1
Disuatu tempat,,,.
"Rasakan, Jaya,,, hahahahhaahha