
Persiapan matang telah Adel lakukan dan hari ini adalah waktunya untuk membuktikan bahwa dia bisa dan dirinya mampu. Taufik dan Rahmat turun tangan sendiri untuk mengurus kejuaraan yang Adel ikuti.
Adel adalah peserta termuda namun kemampuannya diatas rata. Baru berumur 12 tahun tapi sudah sabuk merah hitam (poom) dalam taekwondo. Ini yang membuatnya tidak bisa dipandang rendah oleh lawan lawannya karena dalam dunia taekwondo ini juga nama Adel cukuo dikenal karena sudah mengikuti puluhan kejuaraan bahkan mendekati angka seratus untuk lingkup nasional.
Hari ini kepala sekolah juga mengantar dan akan menyaksikan pertandingan Adel, karena Adel adalah satu satunya perwakilan dari SMP Putra Bangsa. Sebenarnya ada stu kandidat lagi yaitu yousef, tetapi karena ada masalah dengan anklenya jadi orang tuanya melarang yousef turun dalam kejuaraan ini.
Setelah upacara pembukaan dilaksanakan, para peserta melakukan pemanasan secara individual. Adel begitu senang karena ini adalah tahun pertamanya mengikuti kejuaraan daerah tanpa Papanya disisnya.
“Aku akan buat Papa,Mama, dan Kakak bangga, aku akan memberi kado ulang tahun yang luar biasa untuk Papa dan Kakak.” Batin Adel.
Adel kembali menuju ke Taufik dan Rahmat. Mereka kini bertugas menjadi official Adel. Kepala sekolah tidak menonton dari tribun melainkan ikut berdiri di tepi arena bersama para official.
“You ready?” tanya Sabeum Rahmat.
__ADS_1
“YA!!!” teriak Adel semangat.
Partai pertama Adel bertarung tanpa kesulitan, dan mengalahkan lawannya 10-0, pertandingan tanpa perlawanan menurutnya. Kepala sekolah juga begitu senang dan kagum saat melihat Adel bertanding. Sorak sorai terdengar dari arah tribun. Mereka tidak mendukung SMP Putra Bangsa, tapi mereka mendukung Merah Putih Taekwondo club.
Keluarga Wijaya memang memiliki sebuah club Taekwondo yang sudah memiliki banyak cabang diberbagai kota. Dulu Pak Eko bersama kedua adiknya yaitu Rahmat dan Taufik yang mengurusnya, namun setelah membuka beberapa usaha Pak Eko mempercayakan Dojangnya kepada kedua adiknya. Namun tetap saja gelar sabeum nim masih disandang oleh Pak Eko.
Sebagai putri dari salah seorang yang berpengaruh dalam Taekwondo, Adel mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak.
“Baik Sabeum.” Jawab Adel tenang
“Jangan sia-siakan energi kamu dengan gerakan gerakan yang tidak penting. Langsung libas saja semuanya.” Ucap Sabeum Rahmat. Adel mengangguk paham.
Setelah istirahat selama beberapa saat, Adel kembali dipanggil. Kali ini Adel bertarung di sudut biru. Lawannya juga bukan lawan enteng. Lawannya kali ini teman latihannya namun membela kota lain karena sekolahnya memang lain kota dengan Adel. Namun hunmbungan keduanya cukup akrab.
__ADS_1
“Adel!!!adel!!! Adell!!!” teriak para penonton.
Pertarungan semakin seru ketika Adel dan Freska saling kejar mengejar poin. Keduanya sudah sama sama tau kelemahan masing masing. Walau Adel lebih muda setahun namun bukanlah lawan yang mudah dihadapi oleh Freska.
Di kuarter ketiga, ketika Freska terus menerus menyerang, Adel lebih memilih untuk bertahan. Poin Adel hanya selisih tiga saja dengan poin Freska. Adel tidak mau membuat kesalahan yang fatal diakhir waktu. Satu tendangan saja jika itu bersarang dikepala maka akan membuat poin seri.
“10,9,8,7,,, duarhhh! Adel terpaksa memberikan satu rmtendangan memutar yang bersarang ke muka Freska. Freska langsung terjerembab ke matras karena tendangan tersebut mengenai hidungnya.
Cairan merah pekat mulai merembes dari sela sela jemari Freska yang sedang menutup hidungnya.
Darah!! Adel berlari ke tepi lapangan mengambil handuknya dan memberikannya pada Freska.
“Maaf, aku tidak ada niatan bikin kakak cidera kaya gini.” Ucap Adel khawatir
__ADS_1