My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Kepedulian Mama


__ADS_3

Alia yang tadinya duduk sekarang bangkit dan berjalan menuju mobilnya. Sebelum masuk ke mobilnya, Alia menembak beberapa penyerangnya agar anak buahnya bisa bertahan lebih lama sampai bantuan datang.


Santoso begitu terkejut melihat Nonanya tanpa keraguan menembak musuh-musuhnya. Alia lalu duduk didalam mobil dan kembali memejamkan matanya karena lukanya semakin sakit.


Santoso masih berjaga disekitar mobil walau teman-temannya sedang kualahan tapi dia tidak bisa mengulangi kesalahan yang sama dua kali.


Setelah lima belas menit menunggu datang 30 orang Gang Tornado yang diminta oleh Alia. 10 orang membantu dalam pertarungan dan sisanya segera mengawal Alia.


“Nona, kita ke rumah sakit?” tanya Santoso.


“Tidak.” Jawab Alia sembari menggelengkan kepalanya. Ketenarannya saat ini pasti akan membuat orang bertanya-tanya kenapa malam malam begini sampai terluka.


Akhirnya Alia meminta beberapa dokter dan perawat agar datang ke rumah, namun semuanya harus perempuan.


Karena sudah tidak tahan dengan yang dirasakan, Alia memeluk Santoso erat-erat dan mencengkram lengannya. Santoso juga merasa bersalah dan tidak berhenti meminta maaf hingga membuat Alia marah.


“Hentikan kelakuan bodohmu, itu tidak akan mengurangi rasa sakitku dan malah membuatku ingin meremukkanmu!” pekik Alia kesal setengah mati, dan akhirnya Santoso mau diam.


Santoso mencoba menekan punggung Alia yang terluka dan begitu terkejutnya dirinya saat mendapati pakaian yang Alia kenakan sudah basah karena darah dan jok mobil pun sama.


Akhirnya mereka sampai dikediaman Wijaya setelah 20 menit perjalanan. Santoso langsung menggendong Alia menuju kamar tamu.


Tak berselang lama juga 6 orang tim medis datang dan semuanya perempuan. Mereka memeriksa luka Alia dan mulai mmenanganinya.


Pendarahan yang tidak berhenti membuat dokter harus menekan lukanya, lalu menyiram alkohol, dan proses ini dilakukan hingga berulang kali hingga sukses membuat Alia meringis kesakitan. Namun dirinya sama sekali tidak meronta ataupun mengeluh karena tahu ini adalah proses penting dari sebuah pengobatan.


Karena lukanya begitu panjang, saat akan dijahit dilakukan suntik bius sebanyak 12 kali agar Alia tidak begitu kesakitan. Alia mencengkram bantalnya erat-erat karena jarumnya terasa cukup besar dan beberapa kali disuntikkan tepat dilukanya.


Seorang dokter dan seorang perawat mulai menjahit luka Alia.

__ADS_1


Walau singkat dicerita, namun proses ini memakan waktu sampai 90 menit dan menguras energi Alia begitu banyak. Ada 18 jahitan di punggung dan 8 di lengan kanannya.


Karena begitu lelah Alia sampai tertidur dalam posisi tengkurep. Dokter Nur yang mengetahui Alia sudah terlelap menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama serta menyelimutinya sampai lleher.


Santoso yang menunggu didepan kamar hendak masuk namun dilarang oleh Dokter Nur.


“Jangan berani-berani masuk kedalam kecuali Alia yang memanggilnya.” Ucap Dokter Nur dengan tatapan tajam mengarah ke Santoso.


“Tapi kenapa?” tanya Santoso.


“Ini perintah, jangan bertanya maupun membantah. Kalau kamu masuk maka tidak hanya akan berhadapan dengan Tuan Fred namun dengan Tuan Jaya juga.” Ancam Dokter Nur.


Dirunya tidak mau kalau Santoso masuk dan melihat bentuk tubuh Alia.


Bagaimanapun mereka menganggap Alia sebagai boss mereka dan berhak melindunginya, karena mereka bekerja di W Hospital yang didirikan oleh orang tua Tuan Fred sekaligus kakek Alia. Dan sekarang hanya Alia satu-satunya penerus digenerasinya.


Santoso hanya menelan ludah mendengar ancaman Dokter Nur. Didepan ruangan Alia dijaga oleh dua pelayan perempuan agar tidak ada yang masuk.


Setelah mendapat kabar penyerangan Pak Surya dan Mona langsung meluncur ke Jakarta mengguanakan helikopter pribadi keluarga Wijaya.


Pukul 04.15 mereka sampai dikediaman Wijaya. Awalnya Pak Surya ingin langsung menemui cucunya namun dilarang oleh pelayannya dengan alasan Alia dalam pengaruh obat dan tidak boleh diganggu. Namun mereka mengizinkan Mona masuk karena Mona adalah Mamanya dan juga seorang dokter dan mungkin ingin memeriksa kondisinya.


Pak Surya tidak membantah namun memilih masuk ke kamarnya untuk rehat sejenak.


Bu Mona membuka pintu kamar perlahan dan mendapati putrinya tidur dalam posisi tengkurap. Perlahan bu Mona membuka selimut yang menutupi tubuh putrinya. Ternyata alasan tidak boleh masuk menemui Alia adalah karena putrinya tidak berpakaian dan hanya menggunakan celana pendek selutut.


“Mereka begitu peduli ternyata.”batin Bu Mona.


Bu Mona meminta pelayan agar membawa pakaian tidur milik Alia dan mereka dengan cepat membawa beberapa yang salah satunya berbentuk kimono.

__ADS_1


Bu Mona segera membetulkan posisi tidur putrinya dan memakaikan kimono tidur tersebut dengan hati-hati.


Sepertinya benar bahwa Alia sedang dalam pengaruh obat karena biasanya Alia langsung terbangun apabila ada suara.


********


Waktu berlalu cukup cepat. Pukul sembilan pagi Alia perlahan membuka matanya. Ia terkejut karena sudah berpakaian padahal ia cukup yakin dokter yang semalam merawatnya hanya menyelimutinya.


Dengan susah payah Alia berjalan menuju meja kecil dekat pintu balkon untuk mengambil air karena tenggorokan nya begitu kering. Sudah ada nasi goreng yang masih hangat disamping air mineralnya namun Alia hanya meneguk air mineral tersebut sampai habis.


“Kamu sudah bangun ternyata?” tanya Bu Mona sambil berjalam mendekati Alia.


“Kamu lapar?” tanya Bu Mona lagi. Alia mengangguk mengiyakan karena merasa begitu kelaparan. Alia duduk disofa dan Bu Mona mengikutinya sambil membawa sepiring nasi goreng.


“Lukanya sakit?” tanya Bu Mona. Alia menatap Mamanya dengan wajah sendu. Entah kenapa dirinya begitu ingin menangis.


“Sakit, Ma.” Jawab Alia.


“Kenapa bisa sampai seperti ini?” tanya Bu Mona lagi.


“Ceritanya panjang.” Alia mulai mengunyah sendok demi sendok nasi goreng tersebut hingga habis.


“Ceritakan.” Perintah Bu Mona.


“Semalam aku pulang begitu larut, kami sebenarnya ada beberapa orang namun jumlah penyerang lebih dari dua kali lipat, dan semua pengawal juga terluka.” Jelas Alia.


“Kemana Santoso?” tanya Bu Mona. Seharusnya Santoso yang menjaga Alia.


“Dia juga sedang bertarung, namun jumlah lawan yang terlalu banyak, Ma.” Jawab Alia. Dia tidak ingin pengawalnya terkena masalah hingga harus menutupi beberapa fakta.

__ADS_1


“Baiklah, mama percaya.” Ucap Bu Mona.


__ADS_2