
Sesampainya di rumah sakit Alia langsung memeriksa penjagaan yang dilakukan oleh Gang Tornado dan Punggawa Wijaya. Dulu mereka adalah musuh bebuyutan namun sekarang mereka sudah bisa bersatu dibawah naungan Alia.
"Bagaimana? Apa ada pergerakan dari Satya Yudha?" tanya Alia ke Dedi, salah satu orang kepercayaan Eyangnya selain Santoso. Usianya lebih tua dibandingkan dengan Santoso.
"Ada beberapa orang mencoba menemui tuan muda tapi selalu berhasil digagalkan." jawab Dedi.
"Baiklah, lanjutkan tugas kalian. Perketat penjagaan mulai esok hari karena saya akan kembali ke Jakarta." tegas Alia. Dedi mengangguk paham menyanggupi perintah Nonanya.
Alia meninggalkan Dedi yang kini sibuk mengomandoi anak buahnya untuk berjaga.
Alia berjalan santai menuju ruangan tempat Papanya dirawat.
Kreek!! Suara pintu ditutup. Alia tersenyum melihat Papanya yang sudah siuman. Jaya juga tersenyum melihat putrinya tersenyum.
Alia mendekati Papanya dan mencium tangan kanan Papanya.
"Maaf ya, Aku telat." ucap Alia penuh penyesalan.
"Papa yang terima kasih,," jawab Jaya yang masih meringis kesakitan. Orang-orang disana begitu iba kepada Jaya karena tau selama ini Jaya tidak pernah separah ini.
"Aku besok harus kembali ke Jakarta, papa hati hati disini ya," ucap Alia. Jaya mengangguk paham.
__ADS_1
"Al, sudah terlalu malam, ayo kita pulang." ucap Bu Mona.
"Siapa yang jaga Papa?" tanya Alia.
"Mama, Adel ikut pulang saja." jawab Bu Mona.
"Jadi aku disini cuma ketemu Papa satu menit?" tanya Alia yang mulai kesal.
" Ya mau gimana lagi, Papa kamu udah meringis kesakitan kaya gitu," jawab Bu Mona.
Jaya hanya nyengir seperti kuda saat istrinya mengatakan dirinya mulai merasa kesakitan.
Alia mencium tangan Papanya lalu pamit pulang. Adel juga melakukan hal yang sama.
Ketika keduanya berjalan di koridor rumah sakit, Alia begitu terkejut ketika melihat ada beberapa orang berpakaian seperti Gang Tengkorak Iblis didekatnya. Alia segera mengabari pengawalnya untuk memperketat penjagaan.
Alia mulai berfikir agar Papanya mendapat perawatan di rumah saja karena lebih mudah mengatur penjagaannya. Setelah pulang nanti ia akan mencoba membicarakan ini dengan Eyangnya.
"Kakak kenapa begitu khawatir?" tanya Adel.
"Kakak cemas dengan kondisi Papa. Kamu tahu sendiri kan luka Papa kali ini bukan luka sembarangan. Beberapa organ dalamnya ada yang terluka." jawab Alia.
__ADS_1
"Apa orang-orang tadi sangat berbahaya?" tanya Adel lagi. Alia menangguk lalu menatap adiknya lekat lekat.
"Kemungkinan mereka yang buat Papa seperti ini." bisik Alia.
Adel tak bisa menahan keterkejutannya,
Adel berhenti bertanya dan berusaha mentelaah kata kata kakaknya. Sekitar 25 menit kemudian mereka sampai di Kediaman Wijaya.
Alia meminta Adel untuk segera ke kamar dan istirahat, Adel pun langsung menuruti perintah kakaknya. Sementara Alia langsung mencari Eyangnya.
Ternyata Eyangnya sudah istirahat tapi mau bagaimana lagi? dirinya harus membahas masalah ini secepat mungkin.
Akhirnya Alia mengetuk pintu kamar eyangnya. Yang membuka pintunya adalah Bu Santi.
"Ada apa, Nduk?" tanya Bu Santi. Tidak biasanya Alia mengganggu malam malam seperti ini.
"Ada hal penting, menyangkut keselamatan Papa." ucap Alia dengan serius. Bu Santi meminta Alia masuk ke dalam dan duduk di sofa dekat jendela.
"Ada apa, Al?" tanya Pak Surya.
"Gawat Eyang, Gang Tengkorak Iblis sudah mulai bergerak, kita harus adakan evakuasi secepat mungkin."
__ADS_1