My Father Is A Guardian

My Father Is A Guardian
Misi Penyelamatan Jaya 2


__ADS_3

Pemandangan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya kini terjadi tepat dihadapan mereka.


Terlihat Jaya diikat disebuah tiang dengan kondisi yang mengenaskan. Mukanya sudah berlumuran darah yang berasal dari beberapa luka diwajahnya.


"Bagaimana?" tanya Arga


"Kita harus siapkan rute penyelamatannya dengan matang." Jawab Santoso.


Tuan Muda mereka kini sedang disekap dan disiksa oleh musuh, tapi mereka tidak boleh gegabah karena akan membahayakan nyawa mereka semua.


"Arga sama Bima jaga didepan, kita akan buat serangan kejutan." ucap Santoso.


Mereka kembali mengisi peluru disenjata mereka masing masing


"Satu,,, dua,,, tiga,,,," Santoso memberi aba aba,


Der der der DERRR!!!! Mereka menghujani ruangan tersebut dengan peluru.


Gang Tornado yang ada didalam ruangan panik dan mengambil senjata mereka masing masing.


Baku tembak segera terjadi dan anggota Gang Tornado yang lain juga mulai berdatangan.


Untung saja Arga dan Bima cekatan dalam menangani musuh musuh yang berdatangan walau masih ada satu dua orang yang berhasil lolos dan menerobos masuk kedalam ruangan.


Seorang anggota Gang Tornado mengambil katana dan menebaskannya ke arah Jaya.

__ADS_1


"Tuan muda!!!" teriak Santoso panik.


Santoso langsung lari kearah Jaya dengan panik.


Perhatian dari mereka pun terpecah karena Tuan Mudanya.


Sreettth!!!! Jderr!!!


Tepat setelah orang tersebut berhasil menebas tubuh Jaya, Santoso berhasil mendaratkan tembakan ke Tengkuk Gang Tornado yang memegang Katana.


"Argh,,," rintih Jaya.


Dari awal pandangan Jaya memang sudah kabur karena darah yang dimatanya menghalangi pandangannya sehingga dia tidak bersiap untuk menerima luka ini.


Semakin banyak anggota Gang Tornado yang datang, mereka mulai panik karena amunisi mereka telah menipis sedangkan Arga dan Bima sepertinya sudah terpojok.


Jaya roboh namun segera ditangkap oleh Santoso..


" Tuan muda, maafkan aku,,," ucap Santoso penuh penyesalan.


Jaya hanya tersenyum karena sudah sangat kesulitan untuk berbicara.


Nafasnya menderu karena menahan rasa sakit yang luar biasa dari luka lukanya.


Rintihan rintihan dari orang orang yang Santoso bawa mulai terdengar. Peluru mereka sudah benar benar habis dan anggota Gang Tornado masih cukup banyak.

__ADS_1


Ada yang mendapat luka tembak di tangan, kaki, punggung, ada juga yang tidak sadarkan diri.


"Santoso,, pergi,," ucap Jaya terbata bata.


"Tidak tuan,," jawab Santoso yang masih terus menangis khawatir.


Satu persatu orang orang Santoso mulai di ikat.


Mereka adalah punggawa Wijaya, yaitu orang orang yang sudah bersumpah untuk setia ke keluarga Wijaya.


Mereka pasrah karena mereka sudah berusaha semaksimal mungkin dan kalau mereka harus gugur disini, mereka akan pergi dengan bangga karena mati demi tuan mudanya.


Santoso kini juga sudah diikat.


Mereka diikat dengan posisi tangan diatas sampai kaki mereka jinjit.


Darah mulai merembes dari sela sela baju mereka.


Gang Tornado terlihat sangat puas ketika mereka bisa menangkap Punggawa Wijaya walaupun bayaran yang harus mereka berikan tidak main main. Mereka kehilangan lebih dari 50 orang anggota Gang Tornado, bukan jumlah yang sedikit walau jumlah mereka sampai ratusan.


Santoso begitu mencemaskan kondisi Jaya karena darahnya masih terus mengalir.


"Apa Tua bangka keluarga Wijaya hanya mengirimkan dua belas tikusnya saja ke sarang Gang Tornado?" Tanya ketua Gang Tornado divisi Jakarta dengan nada mengejek.


Santoso yanģ terbawa emosi langsung meludahi wajah orang tersebut.

__ADS_1


"Cih!!! tuanku lebih baik dari tuanmu!!!" teriak Santoso penuh emosi.


Bruak!!! orang tersebut langsung menendang Santoso


__ADS_2