
"Ini kapan kita bakar bakarnya, Kak?" tanya Adel.
"Bentar, nunggu Mama turun." jawab Alia.
" Aku ke belakang duku, ya." Ucap Adel.
Adel lalu beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke taman belakang dekat dengan kolam renang , tempat untuk acara bakar bakar.
"Pa, sebulan lagi kan ada meeting di Solo. Papa dateng kan?" tanya Alia.
"Iya. Papa dateng, tapi Papa juga ada tugas dari Satya Yudha." Jawab Jaya.
"Bukannya Satya Yudha tutup ya?" tanya Alia..
"Iya, justru Papa dikasih tugas ngungkap siapa dibalik penyerangan Satya Yudha karena temen Papa sekarang sisanya cuma tinggal 120 orang yang hidup." jelas Jaya.
"Pada meninggal, Pa?" tanya Alia lagi.
" Iya." Jawaba Jaya singkat. Sinar mata Jaya berubah ketika menjawab pertanyaan terakhir Alia tentang teman temannya. Penyerangan kemarin memang menumbangkan sekitar 75 orang Satya Yudha.
Terlalu banyak kehilangan yang harus Satya Yudha tanggung maka sementara waktu Satya Yudha harus menutup diri dan melakukan pemulihan.
Bu Mona turun dari kamarnya menggunakqn dress serba putih senada dengan baju Anak dan Suaminya.
"Ayo kita langsung mulai." ajak Alia bersemangat.
Santoso dan Pelayan lainnya sudah menyiapkan berbagai macam daging yang akan dibakar dan beberapa jus pesanan Alia.
__ADS_1
Bu Mona langsung mengambil alih daging daging tersebut dan mulai membakarnya.
Alia dan Adel bermain bersama Santoso dan Jaya.
Malam ini sungguh cerah apalagi aroma harum khas bakaran daging sudah mulai tercium. Alia segera mendekat ke arah mamanya dan mulai mencomot daging yang sudah matang. Bu Mona hanya geleng geleng saja melihat tingkah anak pertamanya.
Bakaran pertama selesai, Bu Mona menyiapkan piring untuk anak dan suaminya.
Tanpa di beri kode lagi Adel dan Jaya ikut menyusul Alia dan mulai makan.
Beberapa pelayan mulai menggantikan Bu Mona membakar daging lagi.
"Nanti abis makan main game yah." ucap Adel.
"Oiya,, game kejujuran ya Del." tukas Alia.
Santoso kembali membawakan daging ke meja makan.
Hari itu Alia merasa benar benar bahagia.
Dalam hidupnya waktunya banyak dihabiskan untuk bertarung dan latihan. Waktu keluarga seperti ini sangat jarang Alia alami.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Adel duduk bersama Alia, Jaya duduk bersama Mona. Mereka duduk di ayunan yang terdapat di samping kolam renang.
"Sekarang aku mulai dari Papa ya. Ada 3 pertanyaan, papa harus jujur." ucap Adel.
"Iya." jawab Jaya.
__ADS_1
"Pertanyaan pertama, Apa Papa dengan tulus mencintai Mama?" tanya Adel.
"Iya." jawab Jaya mantap.
"Apa Papa pernah berfikir untuk pergi dari Mama?" tanya Adel lagi.
"Tidak sama sekali. Papa mendapatkan Mama dengan begitu sulit. Dan Papa juga bukan tipe orang yang suka menduakan." Jawab Jaya tegas.
"Baiklah, pertanyaan terakhir,"
"Apa Aku sama Kakak itu benar saudara kandung?"
Jderrr!!!! pertanyaan terakhir Adel bagaikan petir untuk ketiga orang disekitarnya.
Adel sudah dapat menebak jawaban akhirnya hanya diri ekspresi ketiga orang tersebut.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Jaya yang belum berhenti terkejut.
"Ini game kejujuran Pa. Papa tinggal jawab yang jujur." ucap Adel.
"Baik. Papa akan jelaskan semuanya. Mungkin ini sudah waktunya."
"Dulu waktu muda Papa punya dojang sendiri. Murid Papa banyak dan berasal dari berbagai kalangan. Waktu setahun setelah Papa nikah sama Mama, ada laporan bahwa murid Papa ada yang kecelakaan sekeluarga. Dan setelah Papa selidiki, ternyata tidak ada keluarga yang tersisa. Karena Papa dan Mama juga belum punya momongan, akhirnya Papa memutuskan untuk mengadopsi. Dan anak tersebut adalah Alia." jelas Jaya.
"Sekarang kamu sudah tahu kebenarannya, apa kamu masih sayang sama Kakak?" tanya Alia.
Adel menghambur ke arah kakaknya dan memeluknya erat. Tak terasa air matanya meleleh.
__ADS_1